
Dor...
Terdengar suara tembakan.
Ryan mengangkat pistol yang di pegang'nya dan mengarahkan kepada Alex yang hendak menarik pelatuk dan akan menembak bos'nya, namun dengan tepat waktu Ryan segera menembakan pistol, hingga peluru itu tepat mengenai kaki kiri Alex.
Alex jatuh ke atas tanah, dan pistol yang di pegang'nya pun terlempar ke depan. Terkejut, Leo pun kembali berbalik dan mendapati Alex tersungkur dengan pistol tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
''Alex...'' Leo berjalan menghampiri dan meraih pistol milik Alex.
''Bos...'' Ryan berlari menghampiri Leo.
''Untung kamu tepat waktu, jika tidak, mungkin aku sudah mati di tangan'nya,'' ucap Leo, berdiri di samping tubuh Alex dengan Ryan yang berada di sebelah dirinya.
''Iya, bos.'' jawab Ryan.
Leo mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat di kepala Alex, dia hendak menarik pelatuk pistol tersebut, namun tangan Ryan tiba-tiba saja memegang pistol yang di pegang Leo dan menahan dirinya.
''Jangan, bos. Kamu harus ingat janjimu kepada Nyonya Adelia bahwa kau tidak akan membunuh lagi?'' ucap Ryan menghentikan.
Leo tersadar, dan dia kembali menurunkan pistol yang di genggamnya, menatap wajah Ryan dengan penuh penyesalan.
''O iya...! aku sampai melupakan janjiku pada Adelia, istri'ku.''
''Sebaiknya kita pergi sekarang, sebelum polisi datang.''
''Baiklah, mari kita pergi sekarang,'' Leo dan Ryan pun berbalik dan berjalan.
Meninggalkan Alex yang tersungkur dengan wajah kesakitan dan masih tetap dalam keadaan sadar, dia pun mengepalkan tangannya semakin menyimpan dendam dan bahkan semakin mendalam.
Salah satu anak buah Alex datang menghampiri dan membantunya, dia membawa Alex dengan di bantu oleh anak buahnya yang lain, untuk masuk ke dalam mobil, dengan kaki yang terus mengeluarkan darah segar akibat tembakan senjata api yang di layangkan oleh Ryan.
Leo dan Ryan pun melakukan hal sama, dia menyuruh anak buahnya untuk kembali ke markas besar, setelah membersihkan diri, Leo baru akan kembali ke rumahnya.
_____-----_____
Di Markas besar.
__ADS_1
Leo terlihat sedang bercermin di dalam toilet, menatap wajah tampannya dari pantulan cermin yang berada di hadapannya, dia membersihkan wajah yang sempat terluka, serta sedikit goresan dan luka lebam, membasuhnya dengan air yang mengalir.
''Apa yang akan aku katakan kepada Adelia? pasti dia marah melihat wajah tampanku jadi ternoda seperti ini?'' ucapnya pada diri sendiri.
Selesai membasuh wajah dia pun menatap arloji yang melingkar di lengan kirinya, jarum jam pun sudah menunjukan pukul dua dini hari.
'Apa seharusnya aku tidak pulang saja, tapi aku harus memberikan alasan apa?' ( batin Leo berucap)
Dia pun terus menatap wajah tampannya, merapikan rambut dengan membasahi kepalanya, pertarungan malam ini sungguh membuat tubuhnya lelah dan merasa kesakitan, biarpun dirinya yang menang, namun tetap saja, yang namanya pertarungan pasti akan ada bagian tubuh yang terluka, seperti kata pepatah, kalah jadi abu menang jadi arang, yang kalah dan yang menang sama-sama di rugikan.
''Bos, apakah kita akan kembali ke rumah?'' tanya Ryan berjalan menghampiri.
''Entahlah? menurut'mu bagaimana?''
''Terserah bos saja.''
''Apa yang akan di katakan oleh istriku jika sampai melihat wajahku ternoda dan penuh luka seperti ini?'' tanya Leo mengusap setiap luka di wajahnya.
''Aku juga tidak tahu, bos? Mungkin Nyonya akan marah.''
''Akh... benar, dia pasti marah. Biarpun aku mafia paling tampan dan paling kuat di negeri ini, tapi tetap saja, aku takut dengan istri'ku. Aku tidak bisa kalau harus melihat Adelia marah,'' Leo menunduk.
Sungguh bosnya tersebut sebenarnya memiliki hati yang lembut dan sangat menyayangi istri'nya.
''Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang, bos? kita akan pulang atau tidak?''
''Hmmm... Biarkan aku berfikir dulu,'' Leo terdiam sejenak.
Ryan menunggu dengan sabar, sambil menatap wajah bosnya yang terlihat sedang berfikir.
''Wajahmu juga terluka?'' tanya Leo menunjuk jari telunjuknya ke arah wajah Ryan.
''Tidak apa-apa, bos. Hanya luka ringan saja ko,'' jawab Ryan mengusap wajah sambil bercermin dan berdiri di samping bosnya.
''Biarpun luka ringan, harus tetap di obati.''
''Baik, bos. Nanti akan saya obati, terima kasih atas perhatian'nya, bos.''
__ADS_1
Ryan dan Leo pun keluar dari dalam toilet, menghampiri para anak buahnya yang terlihat sedang mengusap tubuh masing-masing menahan kesakitan.
''Ini uang untuk kalian semua, bagi yang terluka parah, segeralah ke rumah sakit, jangan di biarkan begitu saja, segeralah di obati,'' ucap Leo mengeluarkan amplop tebal berwarna coklat dan menyerahkan'nya kepada Ryan untuk di bagikan kepada seluruh anak buahnya.
''Terima kasih, bos.''
Ucap anak buahnya, menerima satu persatu amplop yang di berikan oleh Ryan.
''Kalian boleh pulang, jika ada yang akan menginap di sini, tidurlah dan beristirahat'lah di lantai atas,'' Leo berucap, menatap satu persatu anak buahnya.
''Baik, bos. Terima kasih,'' ucap semuanya serentak.
Mereka pun bubar, ada yang pulang dan ada juga yang menginap lalu naik ke lantai dua. Sementara Leo masih tidak tahu harus kemana, kalau dia pulang, istrinya pasti akan banyak bertanya tentang luka yang sekarang dia punya di wajah'nya, sedangkan jika dia tidak pulang, dia juga bingung harus beralasan apa kepada sang istri, mengapa dia tidak bisa pulang.
Wah... Hati sang bos Mafia benar-benar di landa Dilema.
___________----------___________
*Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Hadiah
Agar Author semangat dalam berkarya.
Terima kasih reader 💓 💓 💓*
*****
Author juga akan merekomendasikan novel yang bagus untuk kalian baca, di jamin menghibur waktu luang kalian semua
__ADS_1
*****