
Keduanya mencapai puncak secara bersamaan, Alex benar-benar bermain halus kini, hingga Emillia pun di buat melayang ke angkasa, dan seluruh raganya bergetar hebat, sesuatu yang baru dia rasakan pertama kali, dan entah kenapa rasa ***** itu bagai sebuah candu baginya, hingga tanpa sadar dia pun terlena dan menginginkan itu lagi meskipun sang suami sudah terkulai lemas di sampingnya kini.
''Apa Mas sudah lelah?'' tanya Emill mengangkat raga polosnya menatap wajah sang suami.
''Kenapa? kamu masih belum puas?'' jawab Alex dengan napas yang tersengal-sengal.
Emill mengangguk seraya tersenyum.
''Baiklah, tapi kali ini kamu yang bermain, gimana?''
Emilia mengangguk pasti.
Emillia mengigit bibir bawahnya keras, saat pelepasan itu hampir dia dapatkan, dan diapun dengan sengaja mengulum bibir suaminya agar suara lenguhan itu tidak terdengar nyaring, saat dirinya mencapai puncak yang sedang dia buru itu.
Sampai akhirnya, pelepasan itu berhasil dia dapatkan secara sempurna, dengan raga yang bergetar hebat, dan suara lenguhan yang tadi dia coba tahan, akhirnya lolos begitu saja dari bibir mungil seorang Emillia.
Begitupun dengan sang suami, dia mencapai puncak itu dengan sangat sempurna diiringi dengan cairan kental yang menyembur bagai bisa ular, masuk ke bagian inti sang istri.
Deru napas keduanya pun terdengar saling bersautan dengan dada yang terlihat naik turun, Emill pun hendak bangkit, namun, tangan sang suami mendekap erat raga polos dirinya, membuat raganya itu masih tertahan dan berada di atas sana.
''Lepaskan, Mas. Aku mau turun,'' pinta Emill, menatap wajah sang suami.
''Tunggu sebentar lagi, entah mengapa di dalam sana terasa hangat sekali, biarkan seperti ini sebentar saja,'' jawab Alex semakin mendekap erat.
''Tapi, Mas. Rasanya gak nyaman banget, terasa mengganjal.''
''Sebentar lagi, lima menit saja ...''
''Baiklah ...'' jawab Emill menurut, dia meletakan kepalanya di dada bidang sang suami yang kini terlihat basah oleh keringat.
🍀🍀
Keesokan harinya di rumah milik Revan.
__ADS_1
''Kurang ajar ... Tega sekali bang Alex menikah tanpa mengundang aku,'' teriak Revan kesal, berbicara dengan salah satu anak buahnya.
''Iya, bos. Pesta pernikahan bahkan diadakan sangat meriah, di hotel berbintang lima pula.'' Jawab anak buah Revan berdiri tepat di depannya.
''Hmmm ... itu berarti, dia sudah benar-benar menganggap aku musuhnya, padahal dahulu aku yang selalu setia menemani dia saat dia sedang terpuruk saat itu, bukannya pria yang bernama Leonardo yang jelas-jelas telah membunuh adiknya sendiri, Alex sungguh keterlaluan dan benar-benar tidak tau diri,'' gerutu Revan semakin kesal.
Tidak lama kemudian, Ayu sang putri masuk ke dalam rumah, dia datang bersama sang kekasih, Lucky, mereka baru saja datang setelah mendaftar ke sekolah yang sama.
Revan segera menyudahi percakapan mereka dan menyuruh anak buahnya untuk keluar, anak buah Revan yang bernama Topan itupun mengangguk lalu berjalan hendak keluar dari dalam rumah, namun, pandangan matanya seketika menatap wajah Lucky yang memang berpapasan dengan dirinya.
'Dia 'kan?' ( Batin Topan )
Matanya semakin lekat menatap wajah laki-laki yang saat ini berjalan bersama putri dari bosnya tersebut, dan sepertinya Topan mengenali Lucky sebagai putra Leonardo, pria yang selama ini selalu dia intai gerak-geriknya.
Lucky berjalan menghampiri Ayah dari kekasihnya itu yang saat ini terlihat sedang duduk di kursi ruang tamu, menyapa dan menyalami tangan Revan dengan ramah.
''Selamat siang, Om,'' sapa Lucky mengulurkan tangannya.
''Siang juga. Kalian dari mana?'' tanya Revan menerima uluran tangan kekasih putrinya.
''Oh begitu, baiklah ...''
''Luck, kita kebelakang yu, kamu pasti cape ...'' pinta Ayu.
''Tunggu, siapa nama kamu? Om lupa lagi.''
''Lucky, Om ...''
''Oh, iya Lucky. Siapa nama ayah kamu? Barangkali Om kenal dia juga,'' tanya Revan lagi.
''Ayah, ngapain si nanya-nanya dia kayak gitu?''
''Ya ayah cuma pengen tau aja, dia dari keluarga mana? siapa tau ayah kenal sama keluarganya, ya 'kan ...?''
__ADS_1
''Gak usah, gak penting ...!'' ucap Ayu langsung meraih pergelangan tangan Lucky, menggandengnya untuk lebih masuk ke dalam rumahnya.
''Ish ... anak itu, gak sopan banget si.'' Gerutu Revan kesal.
''Tunggu, Lucky ...!'' teriak Revan, dan Lucky serta Ayu pun menghentikan langkah kaki keduanya lalu menoleh.
''Om titip Ayu, jaga dia dengan baik, ya ...?'' ucap Revan masih dengan sedikit berteriak.
''Baik, Om ...'' jawab Lucky ramah.
Revan pun mengangguk seraya tersenyum, dia berharap bahwa kehadiran pemuda itu dapat merubah kelakuan sang putri yang melupakan seorang pecandu, karena sepertinya pria bernama Lucky itu adalah pria yang baik. Batin Revan.
Ayu membawa kekasihnya itu bersantai di depan kolam renang, duduk di kursi kayu yang berada tepat di tepi kolam.
''Maaf ya, ayahku banyak nanya tadi,'' ucap Ayu duduk tepat di samping Lucky.
''Gak apa-apa ko, wajar seorang ayah menanyakan hal itu kepada pacar dari putrinya,'' jawab Lucky tersenyum.
''Hmmm ... Baiklah, syukur deh kalau kamu gak merasa keberatan sama sekali dengan pertanyaan ayah tadi,'' jawab Ayu.
Dia semakin mendekatkan posisi duduknya, hingga dirinya kini berada sangat dekat dengan tubuh Lucky, wangi tubuh kekasihnya itu sungguh membuat Ayu merasa nyaman, hingga dia pun menyandarkan kepalanya di pundak pria tampan bernama Lucky Pratama itu.
''Biarkan aku seperti ini sebentar, aku lelah sekali,'' pinta Ayu sedikit memejamkan mata.
''Baiklah, lakukan sesukamu,'' jawab Lucky mengecup pucuk kepala kekasihnya.
Mendapat kecupan yang tiba-tiba, membuat Ayu tersenyum sumringah, dia pun mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipi sang kekasih dari arah samping.
''I Love You ..."
Bisik Ayu sesaat setelah dia melepaskan kecupan kecilnya, dengan wajah yang masih berada sangat dekat.
''I Love You Too ..."
__ADS_1
Jawab Lucky langsung menyambar bibir ranum sang kekasih lembut.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀