Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Paro'an


__ADS_3

Lucky menatap wajah sang ayah yang kini memandang wajahnya dengan tatapan tajam, karena dirinya hampir saja melakukan sesuatu yang melewati batas membuat Lucky merasa was-was takut sang ayah melihat apa yang baru saja dia lakukan.


Ayu pun mengantarkan calon mertuanya itu untuk naik ke lantai dua dimana kamar ayahnya berada, sementara Lucky masih duduk mematung dengan perasaan berdebar sebenarnya.


'Apa Papi melihat apa yang baru saja aku lakukan? tatapannya serem banget, mudah-mudahan Papi gak ngeliat apapun,' (Batin Lucky)


Leo dan Alex mengikuti Ayu dari arah belakang, sampai akhirnya mereka sampai di depan kamar.


Ceklek ...


Kamar pun di buka, dan Revan terlihat sedang berbaring di atas ranjang dengan seluruh tubuh yang tutup selimut tebal.


''Ayah, ada Om Leo sama Om Alex di sini,'' ucap Ayu berjalan memasuki kamar.


Revan menoleh menatap kedua kawannya dengan tatapan kosong dan wajah yang terlihat pucat pasi, bibir Revan pun nampak sedikit membelok tegang ke arah kiri.


''Revan, kenapa kamu bisa seperti ini? Ya ampun ...'' sapa Alex sedih.


Revan hanya mengedipkan matanya pelan.


''Eu ... Saya permisi dulu, Om.'' Ayu pamit keluar dari dalam kamar agar mereka bisa leluasa mengobrol.


Setelah Ayu keluar dari dalam kamar, tinggallah Leo dan Alex kini duduk di tepi ranjang menatap wajah Revan dengan tatapan iba dan rasa khawatir yang memenuhi hati mereka berdua.


''Apa tidak sebaiknya kamu di rawat di Rumah sakit? kasian kalau kamu harus sendirian di rumah,'' pinta Alex dan Revan langsung menggelengkan kepala pelan.


''Kenapa? apa kamu khawatir masalah biaya perawatannya? jangan khawatir, Revan. Kalau kamu bersedia di rawat, Leo pasti bersedia menanggung semua biasa perawatan Rumah Sakit, iya 'kan Leo? kamu 'kan kaya, banyak uang,'' ucap Alex sedikit bercanda.


''Ish ... Kamu ini Alex, siapa bilang aku akan membiayai pengobatan dia? dasar ngarang kamu ...'' jawab Leo kesal.


Revan tersenyum meski sedikit dipaksakan, lalu dia mencoba menggerakkan bibirnya seperti hendak bicara.


''Kenapa, apa ada yang ingin kamu katakan?'' tanya Leo mendekatkan wajahnya.


''A-ku ti-tip A-yu ...'' susah payang Revan mencoba merangkai kata-kata.


''Oh, itu. Jangan khawatir, aku akan menjaga dia meski tidak kamu minta sekalipun, dia sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Aku berencana menikahkan mereka setelah mereka lulus sekolah nanti,'' jawab Leo.


''Hah, menikahkan mereka?'' Alex membulatkan bola matanya.


''Iya, daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik langsung menikah saja. Masalah kuliah, bisa dilakukan sambil jalan.''

__ADS_1


''Memangnya ada apa, ko mendadak sekali, apa terjadi sesuatu?'' tanya Alex merasa heran.


''Eu ... tidak ko, tidak ada yang terjadi, aku hanya ingin cepat-cepat memilik menantu perempuan aja.''


Leo menjawab dengan nada suara yang sedikit terbata-bata.


Sebenarnya Leo menyaksikan apa yang dilakukan oleh putranya itu tadi, dia sempat mengintip dari balik kaca jendela dan melihat dengan jelas putranya itu sedang bercumbu dengan kekasihnya, bahkan dia pun melihat jelas saat tangan sang putra meremas gunungan kembar milik Ayu.


'Aku tidak mau kalau sampai kejadian yang menimpa Axela terulang lagi, jadi lebih baik kalau aku segera menikahkan dia setelah mereka lulus,' ( Batin Leo )


''Hey ... Malah ngelamun,'' Alex mengejutkan Leo membuyarkan lamunannya.


''Hah ... Nggak ... Siapa yang melamun,'' jawab Leo mengusap wajahnya dengan kasar.


''Revan, aku minta kamu bersedia di bawa ke Rumah Sakit, apa kamu tidak mau menyaksikan putrimu menikah?'' tanya Leo.


Revan terdiam. Dia tau betul bahwa penyakit yang dia derita tidak mudah untuk disembuhkan, meskipun ada, harapannya sangat kecil, dan itu hanya akan membuang-buang uang saja.


Revan menggelangkan kepalanya lagi.


Ingin rasanya Revan mengatakan apa yang ada di otaknya saat ini, tapi apalah daya, bibirnya masih sulit digerakkan, bahkan seluruh tubuhnya pun merasa tegang tidak bisa bergerak.


''Dih, dasar pelit.. Ya sudah kita paroan, aku bersedia menanggung separuh biaya pengobatan kamu, Revan,'' jawab Alex setuju.


'Terima kasih kalian masih peduli padaku, setelah apa yang sudah aku lakukan selama ini' ( Batin Revan merasa terharu )


''Gimana Revan, apa kamu masih menolak di bawa ke Rumah sakit? kalau iya? kamu sungguh keterlaluan, menolak bantuan kami berdua, dan aku akan sangat tersinggung dan marah padamu,'' ucap Alex tegas.


Revan kembali tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


''Serius ...? kamu bersedia ikut ke Rumah sakit?''


Revan kembali menganggukkan kepalanya.


''Ya sudah kita ke Rumah sakit sekarang juga,'' ucap Alex terburu-buru.


''Nanti dulu, kamu ini. Mana bisa kita bawa dia berdua ke sana. Kenapa kita gak menelpon Ambulance saja?''


''Wah ... Ide bagus. lagian kita juga harus meminta izin sama putrinya dulu, masa main bawa-bawa aja, gak sopan juga.''


''Oke, kalau begitu, kamu nelpon Ambulance. Aku akan turun dan mengatakan hal ini kepada Ayu, oke ...?'' pinta Leo yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Alex.

__ADS_1


🍀🍀


Di bawah sana, di ruang tamu. Lucky nampak duduk di kursi terpisah dengan Ayu, tidak seperti sebelumnya. Ayu nampak duduk di kursi yang berada tepat di depan Lucky.


''Hmm ... Kamu tau kalau Om Leo akan datang ke sini?'' tanya Ayu memulai percakapan.


''Eu ... Nggak, aku sama sekali gak tau. Kalau aku tau aku pasti kasih tau kamu, sayang.''


''Hmm ... Kira-kira Om Leo ngeliat nggak ya, apa yang kita lakukan tadi?'' tanya Ayu merasa was-was.


''Entahlah, semuanya gara-gara aku yang hilang kendali. Aku minta maaf,'' Lucky menunduk merasa bersalah.


''Ehem ...''


Terdengar suara Leo ber'dehem keras berjalan turun di tangga, membuat Ayu dan Lucky terkejut lalu sontak berdiri dengan sedikit gemetar sebenarnya.


''Ayu, ada yang ingin Om bicarakan sama kamu,'' ucap Leo sudah ada di ujung tangga lalu menghampiri, duduk di kursi ruang tamu.


Wajah Ayu dan Lucky pun mendadak pucat pasi, tangan Ayu bahkan terasa dingin, dengan raut wajah yang terlihat tegang.


''Kenapa wajah kalian tegang begitu?'' tanya Leo santai.


''Eu ... Nggak, Pap. Kami biasa aja?'' Lucky menjawab dengan terbata-bata.


''Syukurlah kalau begitu. Ayu, Om sama Om Alex akan membawa ayahmu ke Rumah sakit.''


''Ke Rumah sakit, Om?'' Ayu terkejut, karena dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk biaya berobat di Rumah sakit.


Leo yang mengerti dengan apa yang pikirkan Ayu, segera tersenyum menenangkan.


''Kamu gak usah khawatir masalah biaya, semuanya akan di tanggung berdua sama Om Alex, kami yang akan mengurus semuanya. Kamu fokus sekolah saja, oke ...?'' ucap Leonardo.


''Tapi, Om? aku gak mau merepotkan kalian berdua,'' lirih Ayu menunduk sedih.


Leo berdiri dan menghampiri Ayu, lalu mengusap pundaknya pelan.


''Ayu, jangan terlalu bersedih kaya gini, Om yakin ayahmu akan sembuh. Om akan minta Dokter memberikan perawatan yang terbaik untuk ayahmu, Om janji ...'' ujar Leo lembut.


''Terima kasih, Om. Aku sungguh-sungguh berterima kasih sama Om dan Om Alex juga, hiks ... hiks ... hiks ...'' Ayu menangis seketika merasa terharu.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2