Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Hilang


__ADS_3

"Cepat buang mayat dia dari sini?" pinta Revan, kepada anak buahnya.


"Baik, Bos. Tapi Bos, kita harus buang dia kemana?"


"Kemana aja terserah kalian, ke sungai ataupun ke laut, yang penting, dia benar-benar lenyap. Ini peringatan juga buat kalian, kalau kalian berani berkhianat, nasib kalian akan sama seperti dia. Mengerti ...?" Revan dengan penuh ke penekanan.


"Baik, Bos. Kami mengerti."


"Ini, untuk kalian, karena kalian telah bekerja dengan sangat baik hari ini," ucap Revan seraya melemparkan amplop tebal berwarna coklat ke atas meja.


"Terima kasih, Bos. Kami akan membawa dia pergi dari sini, sekarang juga,'' ucap salah satu anak buah Revan, mengambil amplop tersebut seraya tersenyum senang.


Mereka pun membawa tubuh Gabriel yang kini bersimbah darah, matanya terlihat terpejam, seperti sudah tidak bernyawa, namun, sebenarnya dia tersadar meskipun dengan tubuh yang sangat lemah, dan tubuh yang sama sekali tidak dapat di gerakan, hanya jarinya saja yang terlihat sedikit bergerak, sebagai tanda bahwa, Gabriel masih hidup.


Tubuh Gabriel pun di masukan ke dalam mobil.


"Mau di buang kemana dia?" tanya salah satu dari mereka.


"Entahlah, aku juga bingung. Apa kita buang ke laut aja ya, atau ke sungai, biar tubuhnya hanyut."


Kelima orang itu pun terdiam sejenak seperti sedang berfikir.


"Tapi dia benar-benar sudah mati, kan?"


"Sepertinya si begitu, tadi Bos menghajar dia habis-habisan, tidak mungkin rasanya kalau dia bisa selamat dalam keadaan seperti itu, kecuali kalau ada mukjizat."


"Ya sudah, kita bawa dia sekarang, sebelum Bos melihat kita masih berada di sini, bisa-bisa nanti kita kena damprat, lagi."


Mereka pun masuk ke dalam mobil, dua orang duduk di kursi depan, sedangkan tiga orang lainnya duduk di kursi penumpang, mobil pun mulai dinyalakan dan perlahan maju ke depan.


Mobil itu pun melaju begitu kencang, memecah kegelapan malam yang tanpa di temani bintang, apalagi bulan, mereka seperti bersembunyi entah dimana, seolah enggan menemani sang malam yang kini terasa semakin hening.


Mereka pun memutuskan untuk membuang tubuh Gabriel yang mereka kira telah mati itu ke lautan, agar tubuhnya dimakan ikan buas dan tidak satu orang pun yang dapat menemukannya.


Sesampainya di tepi laut, kelima orang itupun membuka pintu bagasi mobil dimana mereka menyimpan mayat pria bernama Gabriel, namun, saat mereka membuka pintu, kelima orang tersebut pun dibuat terkejut seketika, karena mayat Gabriel yang semula berada di sana, kini lenyap tak bersisa, bagai telan bumi.


Mereka pun panik, wajah kelimanya terlihat pucat, sesaat mereka tidak mengatakan apapun, hanya saling pandang satu sama lain, dengan mata yang di bulatkan sempurna.


"Kemana dia? jelas-jelas tadi kita simpan mayatnya di sini?"


"Iya, gak mungkin kalau dia sampai di makan hantu, kan?"


"Hus, ngaco kamu, mana ada hantu makan mayat?"


"Terus kemana dia? seharusnya ada darah juga di sini? tapi apa, bagasi ini bersih, seperti tidak ada bekas darah sedikitpun.''

__ADS_1


Kelima orang itu pun kebingungan, karena tubuh Briel hilang begitu saja, rasanya tidak mungkin jika dia selamat dan melarikan diri, karena mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, Gabriel di siksa habis-habisan, hingga dia tidak bergerak lagi.


"Gimana ini? apa yang akan kita katakan kepada Bos, dia bisa marah besar jika sampai tahu, mayat si Gabriel hilang."


"Tunggu-tunggu ...! Gimana kalau kita bilang saja sama si Bos, bahwa kita sudah membuang mayat dia kelaut, kalau dia memang benar-benar kabur, aku yakin dia gak akan selamat dan pasti sudah mati di suatu tempat.''


"Oke, aku setuju. Ya sudahlah, mari kita pulang sekarang, aku lelah sekali ingin cepat tidur."


Mereka pun kembali memasuki mobil, dan pergi meninggalkan tempat itu.


🌹🌹


Tiga hari kemudian.


Sudah selama tiga hari Axela di rawat di Rumah Sakit, dan selama itu pula sang kekasih tidak pernah mengunjunginya sekalipun, ada rasa sakit yang kini terselip di hati seorang Al, rasa kecewa yang kemarin dia rasakan seolah semakin sempurna tertoreh di hatinya.


Dia pun terlihat sedang duduk di atas ranjang dengan bersandar bantal di belakang punggungnya, matanya menatap kearah luar jendela melayangkan tatapan kosong, meski wajahnya sudah terlihat segar dan tidak pucat seperti sebelumnya, namun, raut kesedihan masih terlihat dari sorotan mata indah seorang Axela.


Sang ibu nampak selalu setia menemani, dia tidak pernah beranjak sedikitpun dari sisi putrinya, ingin selalu menemani walau tubuhnya terasa sangat lelah juga letih, saat ini Beliau terlihat sedang tertidur di kursi.


Al menatap wajah sang ibu yang kini sedang memejamkan mata, rasa bersalah itu pun kembali singgah di hatinya, sungguh Axela benar-benar merasa menyesal karena telah mengecewakan kedua orangtuanya.


'Maafkan aku, Mom ...' (Batin Al)


Ceklek


Pintu pun terbuka, Lucky dan Axel masuk kedalamnya, begitupun dengan Amora dan juga Emillia.


''Gimana keadaan kaka, apa sudah baikan sekarang?'' tanya Lucky, berdiri di samping ranjang.


''Kaka sudah tidak apa-apa, makasih ya, kalian sudah mau datang kemari, aku kesepian sendirian dari tadi.''


''Iya, kami memang sengaja datang ke sini buat nemani kamu, Al.'' Ucap Amora.


''El, bisa kamu bawa Mommy pulang, kasian sepertinya dia sangat kelelahan, aku takut Mommy jatuh sakit,'' lirih Al, menatap wajahnya saudara kembarnya.


''Iya, Al. Aku akan mengantarkan dia pulang, nanti biar aku yang akan menggantikan Mommy di sini,'' jawab Axel.


''Aku juga, Al. Aku akan menemani kamu si sini, kebetulan aku juga sudah bilang sama Daddy kalau aku akan menginap di sini,'' ucap Amora.


''Kalau begitu, aku pun akan ikut menginap, semakin banyak orang semakin baik, kan?'' Emillia.


''Kamu serius, sayang?'' Lucky tersenyum senang.


Emil mengangguk kepalanya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Adelia sang ibu pun mulai membuka mata, dia menatap satu persatu semua orang yang ada di sana, dan tersenyum senang karena Axela tidak sendirian lagi sekarang.


''Kalian semua ada di sini?'' tanya sang ibu, bangkit lalu duduk.


Semua yang ada di sana pun menghampirinya Adelia, lalu menyalami'nya satu persatu, tak terkecuali Amora, meski merasa kaku, dia pun berjalan maju lalu mengulurkan tangannya, dan Adelia pun menerima uluran tangan gadis itu meski dengan wajah yang terlihat datar.


''Mom, Mommy pulang saja, Al biar kami yang jaga, Mommy istirahat di rumah, lagipula besok kan hari Minggu, kami akan menginap di sini,'' ucap Axel, duduk di samping sang ibu.


''Baiklah kalau begitu. Al, kamu gak apa-apa kan Mommy tinggal?''


''Iya, Mom. Aku gak apa-apa, ko. Mommy istirahat aja di rumah,'' jawab Al.


''Baiklah, kita pulang sekarang, Mom.''


Sang ibu menganggukkan kepalanya.


Adelia berdiri dan menghampiri sang putri untuk berpamitan, setelah itu dia pun keluar dari dalam kamar, diikuti oleh Axel di belakangnya.


Sepeninggal sang ibu.


''Ra, bisa Lo ajak gue jalan-jalan, gue jenuh tiga hari di kamar terus,'' pinta Al dengan tatapan sayu memandang wajah Amora.


''Boleh, kita jalan-jalan di taman, ya ...''


Axela menganggukkan kepalanya.


Kemudian, Lucky membantu mengangkat tubuh sang kakak untuk duduk di kursi roda, setelah itu, Amora mendorong kursi tersebut keluar dari dalam kamar.


''Kak, aku sama Emillia tunggu di sini aja, ya. Aku lelah sekali soalnya.''


''Iya, Dek. Lagi pula, Kaka gak akan lama ko, Kaka cuma mau cari udara segar sebentar,'' jawab Al dengan tatapan sayu.


Setalah itu, kursi roda pun perlahan keluar dari dalam kamar, dengan di dorong oleh Amora.


''Maksih ya, Ra. Lo udah mau nemenin gue, gue udah benar-benar jenuh berada di kamar terus.''


''Iya, Al. Gak apa-apa ko, santai saja.''


Axela pun tersenyum, akhirnya dia bisa keluar dari dalam kamar, dia pun nampak menatap ke arah luar, saat kursi roda yang didudukinya perlahan memasuki taman, namun, pandangannya terhenti seketika, dan senyuman yang tadi mengembang di bibirnya mendadak sirna, saat dia melihat seorang pria berada di atas ranjang, memejamkan mata seolah tidak sadarkan diri dengan wajah yang penuh dengan luka, ranjang itu pun di dorong oleh dua orang perawat dan melintas tepat di hadapannya.


''Gabriel ...'' lirih Al pelan.


______________---------_______________


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2