Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Terluka


__ADS_3

Kini Al, si kelilingi tiga orang pria yang telah siap menghajar dirinya, namun dia tidak merasa gentar sama sekali, karena memang dirinya jago dalam bela diri.


''Wah, dasar banci kalian semua, ngelawan satu wanita saja pake keroyokan...'' ucap Al, semakin mengeratkan ikatan rambut panjangnya.


Sementara itu, Laki-laki yang tadi di keroyok'pun, bangkit dan mulai berdiri, dia menatap wajah gadis yang tidak di kenalnya itu yang masih berpakaian seragam sekolah, dan saat ini sudah memasang kuda-kuda hendak melawan tiga orang sekaligus.


Tidak mau diam saja, dia pun berjalan dan berdiri tepat di belakang tubuh Axela dengan punggung yang saling di tempelkan.


''Lo siapa? kenapa ikut campur?'' tanya pria tersebut setengah berbisik.


''Gak penting gue siapa? sekarang kita hajar dulu para banci ini, oke,'' jawab Al sedikit menoleh.


Pertarungan pun di mulai.


Buk


Bak


Plak


Tiga lawan satu, Axela, dia memukul dan bahkan menendang salah satu preman, gerakannya begitu energik membuat salah preman yang melawannya kewalahan.


Awalnya Axela dan pria itu menguasai perkelahian, dan ketiga preman dapat di kalahkan dengan begitu mudahnya, ketiganya kini tersungkur di atas aspal dengan wajah yang penuh dengan memar dan meringis kesakitan.


Merasa kesal, salah satu dari pria itu pun mengeluarkan pisau lipat dari salam saku celananya, dia berlari menghampiri Al dan melawan dia dengan pisau yang berada di genggaman'nya, sementara pria yang di tolong Al melawan dua pria lainnya.


Pada awalnya Al dapat menghindari hantaman pisau tersebut, namun karena rasa lelahnya, akhirnya gerakan tubuhnya sedikit melambat dan pisau lipat itu pun melesat sedikit mengenai punggung sebelah kiri Al, darah segar pun mengalir seketika itu juga.


''Argh...'' Al duduk lemas di atas aspal dengan tangan yang memegangi punggungnya yang terlihat sudah mengeluarkan darah segar.


Preman itu pun hendak melayangkan kembali pisaunya, namun untungnya, terdengar suara sirine yang berasal dari mobil polisi yang sebenarnya hanya melintas saja, sontak saja hal tersebut membuat para preman berlari kocar-kacir meninggalkan Axela dan pria itu di sana.


''Apa Lo baik-baik saja? punggung Lo berdarah,'' tanya sang pria, berjongkok tepat di depan Axela.


''Gue baik-baik saja,'' jawab Al hendak bangkit.


''Darahnya banyak banget.''


''Arhg... sakit...'' Al meringis kesakitan, dan tubuhnya merasa lemas seketika itu juga.


Pria yang belum di ketahui namanya tersebut meraih tubuh Al lalu menggendongnya dengan kedua tangannya, membawanya ke tempat tinggal di sebuah kontrakan kecil yang memang tidak terlalu jauh dari tempatnya berada sekarang.

__ADS_1


Meski masih dalam keadaan sadarkan diri, namun tubuh Al terasa begitu lemas, hingga dia pasrah saat pria yang tadi di tolongnya membawa tubuhnya di dalam gendongan, berjalan sedikit tergesa-gesa sampai akhirnya dia sampai di kontrakan dimana dia tinggal.


Ceklek


Pria itu pun membuka pintu dan masuk kedalamnya, lalu dia pun mendudukkan tubuh Al di atas kasur lantai yang membentang di ruangan depan.


''Apakah sakit sekali? luka'mu harus di obati,'' tanya pria tersebut.


Al mengangguk pelan dengan wajah yang terlihat masih meringis kesakitan.


Pria itu membantu membuka jaket kulit berwarna hitam yang di kenakan oleh Axela yang terlihat sudah terkoyak akibat sobekan pisau, tanpa di sangka, seragam berwana putih milik Axela pun kini telah berubah warna menjadi merah, penuh dengan darah.


''Bisa kamu lepasin seragam kamu ini? aku mau mengobati lukamu, seperti'nya lukanya lumayan dalam.''


Meski merasa ragu, namun Al akhirnya mengangguk dan membuka satu persatu kancing seragam sekolah'nya, membuka semuanya hingga seragam tersebut dia lepaskan dengan begitu saja.


Tubuh Al kini hanya berbalut pakaian dalam tipis dengan satu tali saja, punggungnya yang putih mulus namun penuh dengan darah kini terekspos begitu saja, dia tidak peduli jika pria yang tidak kenal itu melihat tubuh setengah polosnya, dengan bagian dadanya menyembul indah dan putih sempurna.


Pria itu pun tidak tergiur sama sekali, dia hanya pokus pada luka di punggung Axela. Dia pun mengambil selimut tipis dari dalam kamar dan memberikannya kepada Al, untuk menutupi bagian depan tubuhnya.


''Maaf ya, aku harus meraba punggung'mu, aku akan membersihkan lukamu sekarang,'' pria itu meminta izin terlebih dahulu.


Perlahan pria itu menurunkan tali tipis serta tali B** yang melingkar di pundak Axela, kini separuh punggung Al benar-benar terekspos sempurna.


''Argh...''


Al meringis kesakitan, saat sebuah kain hangat mulai menyapu punggungnya yang terluka, matanya bahkan terlihat mengeluarkan air mata, menahan rasa sakit yang teramat dalam.


''Tahan sebentar saja, setelah di bersihkan lukamu akan aku beri obat dan aku balut dengan perban,'' ucap pria itu dengan gerakan tangan yang masih menyapu darah segar.


Setelah luka tersebut terlihat bersih, luka itu pun di beri obat dan di balut menggunakan perban.


''Nah, sudah selesai, kamu bisa beristirahat sekarang.''


Pria itupun bangkit lalu berjalan kedalam kamar, kemudian dia kembali dengan membawa kaos oblong berwarna putih polos.


''Pakai ini, seragam sekolah'mu penuh dengan darah, sepertinya tidak dapat di pakai lagi,'' pria tersebut menyerahkan baju miliknya kepada Axela yang masih dalam keadaan duduk.


Al pun meraih baju tersebut, namun karena seluruh tubuhnya terasa lemas hingga tangannya pun sedikit sulit di gerakkan, alhasil dia pun mencoba memakai baju tersebut, namun berkali-kali mencoba memasukkan tangannya usahanya tetap gagal.


Melihat hal tersebut, dia pun, pria berbaju hitam dan berwajah teduh namun memiliki aura menghanyutkan itu, membantu Al memakai baju tersebut.

__ADS_1


Dengan sangat hati-hati, dia meraih lengan Al dan mencoba memakaikan baju tersebut, pandangan matanya mulai di alihkan dengan jantung yang berdetak kencang, saat belahan dada Axela terlihat menyembul sempurna, ranum dan putih mulus seolah tanpa cela layaknya dada seorang wanita remaja.


Walau bagaimanapun pun, diri'nya adalah pria normal yang pasti akan terpana dan terpesona melihat tubuh wanita setengah polos yang kini tepat berada di hadapannya.


Namun, sebisa mungkin dia meredam gejolak di dalam jiwanya, menepisnya jauh-jauh saat jantung'nya mulai bergetar dengan keringat membasahi tubuhnya sekarang.


Akhirnya baju putih polos itu berhasil di pakai dengan bantuan pria tersebut, meski sedikit kebesaran, namun sekarang tubuh Axela sudah tertutup sempurna.


''Nama kamu siapa? kenapa nekat sekali menolong aku? apa kamu wonder woman, untung kamu tidak mati.''


''Nama aku, Axela, aku gak bisa kalau melihat ketidakadilan di depan mata, apalagi melihat orang di keroyok begitu saja tanpa melawan.''


''Memangnya kamu wonder woman?''


Keduanya tersenyum bersama.


''Bisa jadi...! Nama kamu siapa? mengapa mereka mencoba menghajar kamu habis-habisan?''


''Nama aku, Gabriel...! entahlah sepertinya mereka hanya orang-orang jahat yang tidak bertanggung-jawab.''


''Oh, begitu...?''


Tidak lama kemudian, ponsel Gabriel pun berdering, dia meraih ponsel dari dalam saku celananya, lalu menatap layar ponsel setelah itu berjalan keluar dari dalam rumah dan mengangkat telpon.


''Halo... bos...!''


''Kamu dimana?''


''Di rumah bos...''


''Ada tugas baru untuk kamu, ada klien yang ingin melenyapkan seorang musuhnya, dia pengusaha kaya raya, bagaimana kamu siap?''


''Siap, bos. Kirimkan saja Poto sama alamat'nya...''


''Baik, nanti saya kirim.''


Keduanya pun mengakhiri panggilan.


Siapakah sebenarnya Gabriel ini? apakah dia seorang Mafia? atau hanya penjahat biasa?


________--------_________

__ADS_1


__ADS_2