Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Wanita Dewasa Yang Membuat Hati Bergetar.


__ADS_3

''Ibu tinggal sendiri?''


Emillia mengangguk pelan, matanya menatap keluar jendela dengan kepala yang di sandarkan di sandaran kursi mobil.


''Oh, begitu...! O iya, ibu belum memberitahukan akan kemana,'' tanya Lucky, belum mengetahui arah tujuan.


''O iya, maaf, ibu sampai lupa, sebenarnya ibu mau pulang, tapi antar ibu ke Rumah Sakit dulu ya.''


''Rumah Sakit? apa ibu sakit?''


Emillia hanya terdiam, tatapan'nya masih menatap keluar jendela, melayangkan tatapan kosong.


Tidak ada jawaban, Lucky pun tidak memberanikan diri bertanya kembali, melihat raut wajah Ibu Emillia, yang merupakan wali kelasnya, terlihat murung seketika.


'Apakah ibu Emil sakit? tapi sakit apa? dia terlihat seperti orang sehat?'


Batin Lucky berujar.


Di Rumah sakit, Lucky hanya menunggu di dalam mobil saja, karena Emillia tidak mengijinkan diri'nya mengantar ke dalam, Lucky pun menunggu dengan sabar.


Entah mengapa, ada rasa aneh yang terselip di hatinya. Mengapa dia melakukan ini? Lucky menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


Akh... apa yang dia lakukan hari ini benar-benar aneh, dia pun tersenyum sendiri, menatap ke arah luar, dimana saat ini Ibu Emillia berjalan mendekati mobilnya.


Apa yang spesial dari wanita yang satu ini? hingga dia rela melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


Akh... Lucky di buat bingung sendiri dengan apa yang terjadi siang ini...


''Sudah?'' tanya Lucky sesaat setelah Emillia masuk kembali ke dalam mobil, membawa bungkusan berwana hitam.


''Iya, terima kasih ya, nak...''


''Sama-sama, Bu. Tapi jangan panggil aku nak, itu terdengar seperti memanggil seorang anak kecil,'' Lucky sedikit mengerutkan bibirnya.


''Iya... iya... ibu minta maaf, iya deh kamu sudah dewasa, Lucky... anak-anak yang sekarang beranjak remaja, antar ibu pulang sekarang ya.''


Emillia dengan sedikit bercanda.


Lucky tersenyum senang, menatap wajah Ibu guru cantik yang merupakan wali kelas baru di sekolah'nya, raut wajahnya yang teduh membuat Lucky merasa nyaman, sorot matanya yang memancarkan keanggunan, membuat Remaja 15 tahun ini merasa tenang.


Dan tentunya senyum manis wanita yang bernama lengkap Emillia Itu membuat jantung Lucky, remaja tampan namun memiliki sifat dingin itu merasakan getaran, getaran yang selama ini belum pernah dia rasakan.


Jantungnya pun mulai berdebar kencang, tatkala Mata sayu dengan senyuman manis itu menatap wajahnya, dan melayangkan senyuman bahagia di hadapannya.

__ADS_1


Akh... Apakah remaja yang sedang beranjak dewasa itu telah jatuh cinta? jatuh cinta kepada wanita yang perbedaan usianya sangat jauh dengan dirinya.


Dia pun masih senyum-senyum sendiri seraya mengendarai mobilnya, melaju kencang di jalanan ibu kota, memecah kepadatan jalan raya.


***


Akhirnya mereka pun sampai, di sebuah gang sempit di pinggir jalan.


''Ibu turun di sini, Luck...''


Mobil pun berhenti kemudian.


''Terima kasih ya, sudah mengantarkan ibu ke Rumah sakit, terus sekarang sampai si antar pulang pula.''


''Sama-sama, Bu.''


''Ya sudah, ibu pulang dulu ya. Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut, oke...'' Emillia mulai membuka pintu mobil, lalu keluar dari dalamnya.


Lucky pun melambaikan tangan'nya seraya tersenyum, setelah itu dia pun mulai melajukan mobil'nya secara perlahan.


'Ada apa ini? mengapa aku melakukan hal seperti ini, ibu Emillia adalah wanita pertama yang membuat aku rela menunggu lama, mengantarkan pulang, dan juga membuat jantungku berdetak kencang.'


Batin Lucky berucap, seraya tersenyum kecil.


Lagu dari band ungu pun menjadi pilihannya, untuk menemani perjalanan pulang setelah mengantarkan ibu Emillia, wanita dewasa yang telah membuat hatinya berdebar kencang.


Akhirnya dia pun sampai di depan Rumah orang tuanya, rumah besar dengan pagar yang tinggi menjulang, dengan pos satpam yang bertengger di depannya.


Pak Diman, satpam yang biasa berjaga di depan pun segera membuka pintu gerbang, setelah itu mobil pun mulai memasuki halaman.


'Akh... akhirnya sampai juga, aku lelah sekali.'


Batin Lucky berucap.


Lucky menghentikan mobilnya dan hendak keluar dari dalam mobil, namun saat dia hendak membuka pintu mobil, gerakannya terhenti seketika saat melihat bungkusan berwarna hitam, tergeletak begitu saja di kursi mobil yang tadi di duduki oleh Emillia.


'Apa ini?'


Lucky meraih dan membuka isinya.


'Obat...? banyak sekali, apa ini milik Ibu Emil tadi?'


Berucap pelan.

__ADS_1


Akhirnya dia pun mengurungkan niatnya untuk turun dari dalam mobil, kembali menyalakan mobilnya dan berjalan perlahan keluar dari dalam halaman.


''Pak, gerbangnya buka lagi,'' Lucky berteriak di depan pintu gerbang.


''Baik, den...''


Pak satpam pun segera membuka pintu gerbang dengan perasaan heran, karena Lucky baru saja datang namun sudah kembali keluar.


Di perjalanan, dia terus menatap bungkusan yang berisi beberapa macam obat tersebut, hatinya nampak diliputi berbagai macam pertanyaan, apakah Emillia sakit? tapi sakit apa? mengapa obatnya banyak sekali? batin Lucky diliputi berbagai pertanyaan.


Akh... hatinya mendadak dilanda kegelisahan.


***


Emillia baru saja selesai membersihkan diri, setelah berpakaian, dia hendak mengambil obat yang tadi dia bawa dari Rumah sakit.


Namun gerakannya terhenti seketika, saat dia menatap tas yang tadi di bawanya, ternyata obat tersebut tidak berada di dalamnya. Dia pun mengerutkan keningnya, dan mencoba mengingat-ingat dimanakah gerangan obat itu berada.


Sementara itu, dada'nya semakin terasa sesak, penyakit Asma yang di deritanya mulai kambuh dan membuat napasnya semakin terasa berat.


'Ya ampun... apa obatnya ketinggalan di mobil si Lucky?' Emil bergumam pelan seraya memegangi dadanya, yang terlihat sudah naik turun semakin terasa berat.


Dia pun duduk lemas di atas lantai, apabila obat tersebut tidak segera di minumnya, dia bisa saja mati seketika itu juga.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'


Batinnya kembali berucap, tubuhnya perlahan terasa lemas, dan dadanya semakin terasa sesak, dengan masih memegangi dadanya dia hampir tidak sadarkan diri, duduk bersandar tembok di dalam rumahnya.


Trok


Trok


Trok


Suara ketukan di pintu pun terdengar, Emil sedikit membuka mata, menatap ke arah pintu rumahnya, bibirnya nampak sedikit mengucapkan kata minta tolong.


Ceklek


Akhirnya pintu pun di buka, karena dirinya memang tidak mengunci pintu rumah. Samar-samar, dia melihat sosok laki-laki menghampiri dirinya dengan setengah berlari, dan membawa sebuah bungkusan.


''Ya ampun, Bu Emil. Ibu kenapa?''


Lucky yang datang di waktu yang tepat, segera meraih tubuh Emillia dan menggendong'nya, membaringkan tubuh lemas dengan dada yang terlihat naik turun menahan rasa sesak itu, membaring'kan nya di atas kursi yang terletak di ruang tamu.

__ADS_1


__________----------__________


__ADS_2