Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Tidak Akan Mudah


__ADS_3

Revan berjalan menghampiri seraya membawa kotak cincin yang tadi di jatuhkan oleh Gabriel, dia nampak tersenyum namun, senyum yang terlihat licik dan sedikit mengejek.


Gabriel pun terkesima dengan apa yang lihatnya sekarang, dia berdiri mematung tanpa sepatah katapun, tangannya nampak menerima kotak tersebut dengan perasaan yang berdebar sebenarnya.


''Apa kabar Gabriel? kemana saja kamu? dirimu bagai hilang di telan bumi, apa kamu tahu aku mencarimu kemana-mana? untung saja aku menemukanmu di sini.''


''Eu ...! Maaf ...! Bos ...!'' Briel menunduk.


''Bisa kita bicara sebentar? ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Briel ...''


''Ba-baik, bos.''


Keduanya pun melipir ke tempat yang lebih sepi, mencari tempat yang nyaman untuk berbicara berdua, dan tibalah mereka di sebuah lorong, sepi yang berada tepat di depan toilet pria.


''Apa kamu sudah siap untuk menjalankan kembali misi yang sempat gagal kemarin?'' Revan memulai pembicaraan.


''Apa, bos? Eu ...! aku sama sekali tidak mengerti."


"Apa kau tuli? perlu aku berteriak mengatakannya agar semua orang tahu, hah ...?"


"Maaf, bos."


"Jadi bagaimana? Apa kau sudah siap menjalankan kembali misi yang sempat gagal kemarin?"


Gabriel terdiam dan masih menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu diam saja?"


"Bos, sepertinya aku mau mundur dari misi ini, aku tidak bisa menuruti perintah'mu lagi, aku mohon maaf.''


"Apa kamu bilang ...?"


Plak ...


Satu tamparan keras mendarat di pipi Gabriel, ucapan yang baru di keluar dari mulut pemuda itu benar-benar membuat Revan geram.


"Apa kamu gila? atau kamu telah benar-benar di buta'kan oleh cinta? sampai-sampai kamu berani membantah perintahku?''

__ADS_1


''Aku mohon maaf, bos. Bos boleh menghukum aku, hajar aku sepuasnya, tapi aku mohon, izinkan aku menjalani hidup aku dengan normal dan keluar dari dunia hitam, aku lelah terus menjalani hidup aku seperti ini,'' Briel mengiba.


''Baiklah jika kamu yang memintanya ...!''


Revan kembali menghantam wajah Gabriel, memukulnya secara berkali-kali hingga wajahnya babak belur, tidak hanya itu saja, pria itu pun bahkan menendang dan membuat Briel tersungkur tidak berdaya di atas lantai dengan wajah yang penuh dengan luka, dan darah segar yang keluar dari hidung serta bibirnya.


Meski begitu, Briel masih mencoba bangkit dan kembali berdiri, dia tidak akan melawan atau menepis setiap hantaman yang akan di layangkan oleh Revan, baginya asalkan dia bisa benar-benar keluar dan terbebas dari bosnya tersebut, tidak masalah baginya jika dia harus babak belur nantinya.


Belum merasa puas, dan perasaannya sangat kesal sekarang, Revan pun kembali melayangkan bogem mentahnya ke arah perut Gabriel, berkali-kali hingga Gabriel benar-benar tidak berdaya sekarang, dia kembali tersungkur dan kali ini tubuhnya terasa berat dan sulit untuk kembali bangkit.


"Brengsek ...! Kamu pikir kamu bisa keluar dari dunia hitam ini begitu saja, hah ...? aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang Gabriel.''


Buk...


Revan meletakan kakinya yang berbalut sepatu kets berwarna hitam tepat di dada Briel, hingga dia pun meringis kesakitan, dan darah segar pun kembali keluar dari mulutnya.


''Argh ...'' Briel meringis kesakitan, memuntahkan darah kental berwarna merah terang.


"Berhenti, apa yang kalian lakukan?"


Axel keluar dari dalam toilet, dan melihat pacar dari saudaranya tersungkur bersimbah darah dengan dada yang di injak oleh kaki Revan.


"Siapa kamu? aku akan memanggil pihak keamanan karena kalian telah mengganggu ketenangan pengunjung mal ..." ujar El, berdiri tidak jauh.


"Brengsek, urusan kita belum selesai, Gabriel. Ingat, aku tidak akan pernah membiarkan hidup kamu tenang." Revan dengan penuh penekanan, lalu berjalan meninggalkan Gabriel yang kini sudah tidak berdaya dengan wajah yang penuh dengan luka.


Axel pun segera menghampiri dengan wajah yang terlihat cemas, dia membantu pacar dari kembarannya itu untuk berdiri.


"Apa yang terjadi? mengapa pria itu memukuli Lo seperti ini?''


Gabriel hanya terdiam, dia tidak mungkin menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa sebenarnya pria tadi.


''Gue akan nganterin Lo pulang.''


El memapah, tubuh Gabriel, berjalan pelan menuju tempat parkir dimana mobilnya berada, dengan tangan yang nampak meraih ponsel dari saku celananya, menelpon Amora, dan memintanya untuk menyusul dirinya ke tempat parkiran.


Setelah bersusah payah, akhirnya keduanya pun sampai di tempat parkir, Briel duduk di lantai, tubuhnya benar-benar terasa remuk sekarang, dan tidak lama kemudian Amora pun datang dengan wajah yang terlihat heran.

__ADS_1


''Dia kenapa? apa kamu memukuli dia, El?'' Amora mengerutkan keningnya.


''Tidak, bukan aku, aku justru menolong dia.''


''Kamu serius ...?''


''Tentu saja ...! Mana mungkin aku memukuli dia, meski aku tidak suka dengan dia, tapi aku tidak akan memukuli dia tanpa alasan ...''


Mendengar percakapan El dengan kekasihnya, Gabriel pun mencoba untuk bangun dan menjelaskan kepada Amora, bahwa memang bukan Axel yang melakukan ini kepada dirinya.


''Beneran bukan dia yang memukuli kamu?''


Gabriel menggelengkan kepalanya.


''Kamu percaya sekarang?''


Amora mengangguk merasa bersalah karena telah menuduh kekasihnya.


''Gue akan nganterin Lo pulang sekarang,'' Axel menatap wajah Gabriel.


''Tidak usah, gue bisa pulang sendiri, motor gue ada di sana? gue masih bisa pulang naik motor.''


''Gila Lo ya? Lo bisa celaka naik motor dalam keadaan terluka kayak gini.''


''Motor dia biar aku yang bawa, El ...!'' Amora.


''Serius ...?''


Amora menganggukan kepalanya.


''Ya sudah berikan kuncinya sama dia, Lo pulang sama gue, gak ada bantahan gak ada penolakan, kalau tidak, gue bakal bilang sama Al, apa yang baru saja menimpa Lo sekarang.''


Gabriel menganggukan kepala akhirnya, menuruti keinginan calon kakak iparnya, dia masuk ke dalam mobil dengan di bantu oleh Axel, sementara Amora, dia menaiki motor milik Gabriel, berjalan perlahan tepat di belakang mobil Axel.


___________-----------___________


Promosi

__ADS_1



__ADS_2