Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Melawan Para Penjaga


__ADS_3

Sebelum masuk dengan cara memanjat pagar tembok yang menjadi pembatas antara halaman rumah dengan jalan raya, Briel terlebih dahulu memperhatikan setiap sudut halaman rumah tersebut, yang memang di jaga oleh beberapa orang bertubuh besar.


Di setiap sudut halaman bahkan di depan pagar dan juga di depan pintu utama pun terdapat dua orang penjaga bertubuh kekar dan gagah.


Briel nampak memberi kode kepada kedua rekannya untuk ikut memanjat pagar, dia berencana akan melumpuhkan penjaga yang ada di dalam gerbang, setelah itu dia akan membuka pagar agar Axel dan Lucky bisa masuk ke dalamnya.


Bruk ...


Briel melompat dari atas pagar, pelan tapi sedikit menimbulkan suara membuat penjaga yang ada di sana menoleh dan mencari sumber suara, perlahan ketiga orang itu pun berjongkok seraya berjalan menghampiri para penjaga, sampai akhirnya Briel dan dua orang rekannya berada tepat di belakang penjaga tersebut.


Perkelahian sengit pun terjadi, dua lawan tiga, dan tentu saja dengan sekejap mata, Briel dan kedua rekannya dapat mengalahkan penjaga itu dengan mudah.


Setelah itu, Briel segera membuka pintu gerbang, Axel dan juga Lucky berlari masuk ke dalam dengan jantung yang berdebar sebenarnya.


Sialnya, penjaga yang berjaga di depan pintu utama menyadari kehadiran penyusup yang berhasil masuk ke halaman rumah besar majikannya itu, dan mereka segera berteriak memanggil rekannya yang lain, berlari menghampiri dan menyerang Gabriel serentak.


Gabriel tidak gentar sama sekali, empat orang yang kini berlari ke arahnya langsung dia lawan sekuat tenaga, begitupun dengan rekannya yang lain yang segera melawan para penjaga itu membantu Gabriel, sementara itu Axel dan Lucky melipir mencari celah agar mereka bisa menyusup masuk ke dalam rumah.


Bug ...


Bruk ...


Plak ...


Briel menendang bahkan melayangkan tinjunya tepat mengenai penjaga itu, dengan wajah yang berapi-api dan keringat yang bercucuran memenuhi seluruh tubuhnya.


Axel dan Lucky menatap takjub ke arah suami dari saudaranya itu, nampak kagum dengan kemampuan beladiri yang di tunjukan oleh Gabriel benar-benar terlihat luar biasa.


''Aku gak nyangka kalau kak Briel pandai berkelahi, aku kira dia hanya pemuda biasa,'' tanya Lucky setengah berbisik.


''Tentu saja, dia mantan anggota Mafia juga sama kayak Papi,'' jawab El.


''Abang serius?'' Lucky terkejut seketika.

__ADS_1


Axel mengangguk seraya menatap sekeliling.


Karena pertarungan tidak seimbang, empat lawan tiga, membuat Briel harus sedikit memakan waktu untuk benar-benar bisa mengalahkan keempat lawannya yang semuanya terlihat bukan orang sembarang, tubuh kekar dan juga otot yang membulat di kedua tangan serta dadanya, menandakan bahwa penjaga itu memiliki kemampuan yang kuat.


Sebenarnya Lucky sama sekali sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam rumah, hingga akhirnya dia segera berlari ke arah pintu secara mendadak membuat Axel benar-benar terkejut dan berlari mengejar.


''Anak itu, gak sabaran banget si, kalau di dalam masih banyak penjaga, gimana? bisa gawat ...'' gerutu Axel di sela langkah kakinya.


''LIHAT ADA YANG MASUK KE DALAM RUMAH ...'' teriak penjaga yang sedang bertarung bersama Gabriel.


Matanya nampak menatap ke arah Lucky dan juga Axel, dan dia pun hendak mengejar, tapi untungnya Briel segera menyadari hal itu dan sontak menendang orang tersebut dari arah belakang, hingga dia pun tersungkur di atas lantai, tidak hanya itu saja, Briel meraih kepala pria pria itu dan memukulnya keras hingga orang tersebut benar-benar tersungkur di atas lantai tidak sadarkan diri.


Briel menarik napas panjang, merasa lega, dengan dada yang terlihat naik turun, menatap kedua saudaranya yang kini mulai masuk ke dalam rumah dengan keadaan selamat, namun, karena dia sedikit lengah salah satu penjaga berhasil menendang punggungnya hingga dia terjatuh dan langsung bangkit seketika, berbalik dan menghantam peria tersebut tiada henti, hingga orang itu benar-benar tidak sadarkan diri.


''Kurang ajar, brengsek ...'' teriak Briel dengan wajah yang memerah.


Setelah keempat penjaga itu berhasil dikalahkan, Briel dan kedua rekannya segera berlari masuk ke dalam rumah, menyusul Axel dan juga Lucky yang telah lebih dahulu masuk ke dalam sana.


''Kemana mereka berdua?'' gumam Briel menatap sekeliling dengan tatapan waspada.


''Kita berpencar, kalian berdua cari target di lantai satu, sedangkan aku akan mencari di lantai dua,'' pinta Briel kepada kedua rekannya, yang langsung di jawab dengan anggukan.


Mereka pun berpencar, Briel segera naik ke lantai dua dengan tatapan waspada, selain mencari target, dia pun mencari Axel dan Lucky yang entah kenapa mereka berdua tidak ada di dalam sana, padahal mereka baru saja masuk ke dalam rumah itu.


Perlahan Briel mulai menapaki tangga pelan dan penuh waspada dan tentu saja menatap sekeliling rumah besar itu yang kini terasa sepi, dan juga gelap namun, terasa mencekam.


Satu-persatu anak tangga berhasil dia naiki, dengan kaki dan perasaan gemetar sebenarnya, sampai akhirnya dia hampir tiba di ujung tangga paling atas di lantai dua dan terkejut seketika saat seonggok tubuh berbaring dengan posisi telungkup.


Sontak hal itu membuat Briel semakin gemetar karena postur tubuh orang itu tersebut terlihat seperti bentuk tubuh Axel.


Dengan napas yang tersengal-sengal, dan tentu saja dengan tubuh yang semakin gemetar, tak ketinggalan keringat yang kini semakin membasahi pelipis wajahnya, Briel mencoba membalikan tubuh tersebut, meski tangannya tengah gemetar hebat.


''Aku berharap ini bukan kamu, El ...'' lirih Briel sesaat sebelum tangannya mulai meraih pakaian berwarna hitam yang dikenakan oleh orang tersebut.

__ADS_1


Perlahan Briel pun mulai menarik pelan, kaos hitam yang terlihat basah dengan keringat bahkan darah segar, sampai akhirnya ...


Bruk ...


Briel pun benar-benar membalikan tubuh itu, dan matanya nampak membulat diiringi helaan napas panjang, bernapas lega karena orang tersebut bukanlah Axel ataupun Lucky.


''Syukurlah ...'' ucap Briel mengusap wajahnya secara kasar.


''Kak ... Kak Briel,'' terdengar suara Lucky memanggil dari arah pintu yang terlihat di tutup rapat dan sepertinya mereka berdua sedang berusaha membuka pintu tersebut.


''Kalian ...? syukurlah kalian baik-baik saja, aku sungguh khawatir,'' ucap Briel berjalan mendekat.


''Tolong bantu kita membuka pintu kamar Ayu, sepertinya di kunci dari luar, dan kami sama sekali tidak bisa membuka pintu ini,'' pinta Lucky seraya menggedor pintu dan berusaha sedemikan rupa agar pintu bisa terbuka, namun usahanya sia-sia.


''Kalian mundur, aku akan menghancurkan pintu ini,'' pinta Briel.


Axel dan Lucky pun mundur dua langkah.


Briel nampak mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, sesuatu seperti palu yang memang sengaja dia bawa karena merasa hal seperti ini pasti akan terjadi.


Bruk


Bruk


Bruk


Briel memukul gagang pintu secara berkali-kali dengan kekuatan tinggi, sampai akhirnya gagang pintu itupun hancur dan seketika pintu pun terbuka.


Lucky segera berlari ke dalam kamar, menatap sekeliling, mencari sosok sang kekasih yang seharusnya berada di sana.


Tatapan matanya pun seketika membulat sempurna, dengan mulut yang di buka lebar, tatkala dirinya melihat gadis yang dicintainya itu tergeletak di atas lantai kamar tepat di depan lemari yang sudah berantakan. Wajah Ayu terlihat pucat pasi dengan bibir yang sedikit membiru, serta mata yang terpejam sempurna.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2