Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Penyesalan


__ADS_3

''Bagaimana keadaan suami saya, Dokter?"


''Syukurlah, peluru yang bersarang di lengan kiri Tuan Leonardo sudah berhasil di keluarkan, tapi karena beliau mengeluarkan banyak darah, sekarang beliau membutuhkan donor darah, apa di antara keluarganya ada yang memiliki golongan darah O?''


''Saya, Dok. Golongan darah saya O. Dokter bisa ambil darah saya sebanyak yang Dokter mau,'' ucap Axel.


''Baiklah, sekarang kamu ikut saya ke dalam, kami akan memeriksa keadaan anda, apakah tubuh Anda sehat dan akan baik-baik saja apabila darah anda di donor'kan?''


''Baik, Dokter?'' Axel hendak mengikuti Dokter, ke dalam ruangan Operasi.


''Tapi, Dok. Suami saya baik-baik saja, kan?'' Adelia kembali memastikan.


''Kita lihat nanti, kalau darah yang butuhkan sudah terpenuhi, kondisi pasien pasti akan baik-baik saja, untung saja peluru tersebut tidak mengenai bagian tubuh yang patal,'' jelas Dokter.


''Baiklah, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan suami saya.''


''Baik, Nyonya. Kami akan melakukan yang terbaik, saya permisi dulu.''


''Mom, aku masuk dulu, mommy jangan khawatir, papi pasti baik-baik saja,'' El menyempatkan diri menghibur sang ibu sebelum dia mengikuti Dokter ke dalam ruangan operasi.


Ruangan pun kembali di tutup, seiring dengan Axel dan Dokter yang masuk ke dalam sana, dan semua yang ada di sana, kini kembali menunggu dengan perasaan cemas.


Ryan, dia sedang memikirkan apa yang baru saja menimpa bos'nya, bukankah Alex sudah berdamai dengan Leonardo? mana mungkin dia melakukan hal ini? tapi jika bukan dia siapa lagi? apa ada orang lain yang masih menyimpan dendam dengan bosnya tersebut? kalau hanya pencuri rasanya tidak mungkin.


Angel yang melihat raut wajah suaminya, segera menghampiri dan memintanya untuk berbicara berdua saja, keduanya pun melipir ke lorong yang tidak ada siapapun di sana.


''Apa mungkin ini perbuatan bang Alex?'' tanya Angel.


''Gak mungkin, dia sudah berdamai dengan bos Leo?''


''Lalu siapa? siapa yang berani melakukan hal ini kepada bos?''


''Apa lebih baik kita hubungi saja Alex untuk memastikan, siapa tahu dia mengetahui sesuatu tentang hal ini?'' pinta Angel kemudian.

__ADS_1


''Ide yang bagus, aku akan menghubungi dia sekarang.''


''Apa maksud kalian?'' tiba-tiba saja Adelia sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka dan mendengar semua yang keduanya bicarakan.


''Adelia...?''


''Apa maksud kalian, semua ini di sengaja? ada seseorang yang sengaja masuk ke dalam rumah kami dan berniat menghabisi nyawa suamiku? katakan yang sejujurnya ...?''


''Eu ...! itu baru dugaan kami saja, Nyonya ...!'' Ryan terkejut.


''Apa mungkin ini perbuatan Alex?''


''Kami akan menghubungi dia untuk memastikan, tapi Nyonya, Alex dan Tuan Leo sudah berbaikan, dan dendam di antara mereka sudah tidak ada, bahkan sekarang kedua orang itu sudah sepakat untuk kembali bersahabat, rasanya tidak mungkin kalau ini perbuatan dia,'' jelas Ryan.


''Lalu siapa? siapa yang melakukan ini kepada suamiku? hiks hiks hiks ...!'' Adel menangis seketika.


''Adel ...! kami akan menyelidiki hal ini, kami juga akan segera lapor polisi, agar pihak yang berwenang dapat mencari siapa pelaku penembakan itu, kamu tidak usah khawatir, serahkan semua ini kepada kami ...! kamu pokus saja dalam menemani proses kesembuhan Leo, ya ...?'' Angel mencoba menenangkan.


''Mana mungkin aku bisa tidak khawatir, di saat ada orang yang sedang mengincar nyawa suamiku?''


''Baiklah, aku serahkan semua kepada kalian, aku hanya berharap bahwa ini bukan perbuatan Alex, jika dia benar-benar melakukan hal ini, maka aku sendiri yang akan membunuh dia,'' Adel terlihat geram.


Angel mengusap punggung sahabatnya tersebut, kembali menenangkan.


***


Ceklek


Gabriel membuka pintu kediaman'nya, di berjalan dengan tertatih-tatih memasuki kontrakan, tangannya yang sempat terkena pecahan kaca kini terasa sakit dengan darah segar yang terus bercucuran.


Dia pun kembali menutup pintu lalu menguncinya, Briel terduduk di balik pintu, menyandarkan tubuhnya di balik pintu lalu membuka masker dan juga jaket hitam yang di kenakan'nya.


''Argh ...!'' Briel meringis kesakitan.

__ADS_1


Dia menunduk lesu menatap lantai yang saat ini terasa dingin di tubuhnya, tanpa terasa buliran air mata pun berjatuhan satu-persatu ke atas lantai.


Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Gabriel, menangis, bahkan kali ini menangis sesenggukan, sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, sekeras apapun hidup yang dia jalani selama ini, dia tidak pernah mengeluarkan air mata untuk meratapi nasibnya.


Namun, kali ini entah mengapa air matanya keluar dengan begitu derasnya, hingga membuat bahunya berguncang, seperti merasakan kesakitan yang teramat dalam.


Bukan sakit karena luka di tangannya, bukan juga rasa sakit yang dia rasakan di wajahnya yang kini terdapat banyak luka lebam, namun, dia merasakan sakit karena harus mengarahkan pistol ke arah wajah wanita yang di cintai'nya, mengingat wajah wanita tersebut membuat hatinya makin terasa sakit.


Dia juga merasakan penyesalan yang teramat dalam, karena harus melukai pria yang akan menjadi mertuanya kelak, andai saja dia tahu sebelumnya bahwa, orang yang akan menjadi targetnya adalah ayah dari wanita yang bernama Axela, tidak mungkin dia akan menerima begitu saja tugas yang di berikan.


''Bodoh ...! Bodoh ...!'' Briel berteriak pada diri sendiri.


Tangisnya semakin pecah, tatkala mengingat janjinya kepada kekasihnya, janji bahwa dia akan segera menemui Axela setelah menyelesaikan tugas terakhirnya, tapi kini, dia bahkan tidak tahu apakan dia punya keberanian dan kepercayaan diri untuk menemui wanita itu setelah apa yang dia lakukan.


'Maafkan aku, Al ...! aku tidak tahu apakah aku akan kembali menemui'mu sekarang, maafkan aku juga, karena aku sudah berniat untuk membunuh ayahmu,' (Batin Briel, merasakan pilu)


Dia pun bangkit lalu berjalan menuju kamar, mengambil kotak obat untuk mengobati luka di tangannya, luka tersebut perlahan mulai terasa perih bahkan semakin terasa menyengat, beriringan dengan rasa perih yang dia rasakan di dalam hatinya.


***


Alex segera menuju Rumah Sakit setelah mendapat kabar dari Ryan bahwa, sahabat'nya terkena luka tembak, dia pun membawa serta Amora putrinya.


Sesampainya di Rumah Sakit dia segera menuju ruang operasi dimana sahabat'nya itu berada, dengan langkah gontai dan di ikuti oleh Amora di belakangnya dia akhirnya sampai di depan ruang operasi.


Semua keluarga Leo masih berada di sana, kedua anaknya dan juga Adelia, tak terkecuali dengan Ryan dan Angel. Sementara Axel, dia masih berada di dalam ruang operasi, karena baru saja mendonorkan darahnya untuk sang ayah.


''Adelia ...! bagaimana keadaan Leonardo?'' Alex segera menghampiri.


''Alex ...? sedang apa kamu di sini?'' tanya Adelia memasang wajah geram, diiringi tatapan heran dari mata Axela dan Lucky yang melihat Amora datang bersama pria yang bernama Alex tersebut.


_____________------------_____________


Promosi

__ADS_1



__ADS_2