
Adelia terlihat memundurkan langkahnya, lengannya yang semula ditautkan di lengan sang suami'pun, dia lepaskan seketika, seiring sosok Alex yang kian berjalan semakin mendekat.
Senyuman yang semula menghiasi bibir Adel pun seketika pudar, wajahnya berubah pucat pasi dengan tangan yang memegangi perut besarnya.
Leo yang menyadari kehadiran Alex pun sebenarnya merasa geram, namun dia mencoba bersikap tenang karena tidak ingin terjadi kegaduhan.
Alex melambaikan tangan ke arah Leo dan juga Adelia, wajahnya terlihat penuh dengan senyuman, namun senyum yang terlihat penuh dengan ejekan.
''Apa kabar sobat?'' Alex berdiri tepat di hadapan Leo, dan Adelia berdiri di belakang'nya setengah bersembunyi.
''Ada tamu tidak di undang rupanya?'' jawab Leo sinis.
''Hey, kamu salah sobat, justru aku di undang langsung oleh kedua mempelai, apa kamu tidak tahu bahwa aku ini tamu spesial?''
Alex mengalihkan pandangannya kepada wanita yang berdiri tepat di belakang Leo, matanya pun terlihat manatap perut besar Adelia dan termenung seketika.
'Kelihantan nya Adelia sedang hamil besar? Jangan-jangan itu...?'
Alex bergumam di dalam hatinya.
Adel yang menyadari tatapan tajam Alex tertuju kepada perutnya, segera menyembunyikan perut besarnya tersebut di punggung suaminya, dengan tangan yang meremas tuksedo milik sang suami, membuat Leo merasa heran seketika dengan perubahan sikap istrinya tersebut.
''Hmmm... apakah kau akan segera di karuniai anak lagi? hebat juga kamu ya, aku jadi iri melihat'nya, sayang sekali tidak ada wanita yang mau dengan aku, padahal aku juga tak kalah tampan'nya dengan'mu, Leo...''
Alex mengalihkan pandangan kepada wajah Adelia yang terlihat semakin cantik setelah tidak bertemu selama beberapa bulan lamanya.
''Mana ada wanita yang mau dengan pria brengsek seperti dirimu, lebih baik kau bercermin, kalau di rumahmu tidak punya cermin, aku akan membelikan yang berukuran besar, dan aku kirimkan ke rumah'mu'' jawab Leo sinis.
''Aku tidak butuh cermin, Leo. Yang aku butuhkan adalah wanita cantik, seperti istri'mu itu?''
Perasaan Adelia semakin tidak menentu, tatapan mata Alex membuat dirinya merasa sedikit ketakutan.
''Sayang, seperti'nya aku harus ke toilet sebentar,'' lirih Adelia pelan.
''Baik, sayang. Mau aku antar?''
__ADS_1
''Tidak usah, aku bisa sendiri ko,'' jawab Adel datar.
Dia pun melangkah meninggalkan suaminya bersama Alex, tatapan mata Alex sungguh membuatnya kembali mengingat kejadian waktu itu, dadanya mendadak terasa sesak dan kakinya pun sedikit bergetar, dengan keringat yang mengalir membasahi pelipis wajahnya.
Ceklek
Adel berjalan masuk kedalam kamar mandi, lalu dia berdiri di depan cermin besar yang berada tepat di hadapannya, memandang perut besarnya dan mengusap'nya perlahan.
'Tidak...! bayi yang berada di dalam kandungan aku ini adalah anak dari suami'ku, bukan anak dari Laki-laki bajingan yang bernama Alex itu, aku yakin dengan segenap jiwaku, aku yakin... yakin..'
Batin Adelia, seraya menatap pantulan wajahnya dari dalam cermin.
Dia pun membasuh wajahnya dengan air yang mengalir untuk menenangkan perasaan'nya yang sempat terasa kacau, setelah itu dirinya pun merapikan make up tipis yang memoles wajah cantiknya.
Dia terus berujar dalam hatinya bahwa, anak yang sedang berada di dalam kandungan'nya adalah darah daging dari suaminya.
Adelia pun kembali membuka pintu toilet, dan hendak kembali ke tempat dimana suami dan si kembar berada, namun langkah'nya terhenti seketika, saat dia melihat Alex berdiri tepat di depan pintu toilet wanita seolah sedang menunggu dirinya.
Adel terkejut seketika, dan memundurkan langkahnya hendak masuk kembali kedalam toilet, namun apalah daya, tangan Alex tiba-tiba saja meraih pergelangan tangannya dan membuat Adel pun terkejut dan menampar pipi Alex dengan begitu kerasnya.
Plak
Adel melayangkan tatapan sinis penuh rasa dendam.
''Kenapa? jangankan tanganmu, tubuh'mu pun sudah aku jamah dan aku nikmati.''
Plak
Tamparan pun kembali mendarat di pipi kanan Alex, hingga kedua sisi pipinya memerah dan sedikit membengkak, namun lagi dan lagi, Alex tidak merasa marah sedikit pun, dia malah tersenyum, karena wajah Adelia terlihat semakin menggemaskan di matanya.
''Wajahmu terlihat semakin cantik apabila sedang marah seperti ini, Adelia...'' Alex tersenyum licik.
''Bajingan kurang ajar, aku benci sama kamu, jika membunuh itu tidaklah berdosa, maka ingin rasanya aku membunuhmu sekarang juga, Alex. Menyingkirkan dari hadapanku, aku muak melihat wajah'mu itu,'' ucap Adel dengan penuh penekanan.
''Maka lakukanlah, aku tidak menyesal mati di tangan wanita yang aku cintai.''
__ADS_1
''Cinta...? cinta katamu? hah...?''
Plak...
Satu kali lagi tamparan itu mendarat di pipi Alex, kali ini darah segar pun tampak keluar dari ujung bibirnya. Dia pun memegangi pipinya lalu mengusap darah segar dengan satu jarinya.
''Andai saja kamu bukan wanita yang aku cintai, mungkin saja aku sudah membunuh'mu sekarang juga,'' Alex mulai terlihat geram.
''Maka lakukanlah, jika itu bisa memuaskan rasa dendam'mu, dan bisa membuatmu berhenti menggangu suamiku,'' Adel hendak melangkah.
''Tunggu...?''
Alex menghentikan.
''Bayi di dalam perut'mu itu? anak siapa dia?''
Deg...
Adel terkejut seketika, jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya sedikit gemetar, dia pun mengigit bibir bawahnya, untuk menutupi keterkejutan'nya.
Adel pun menoleh dan menatap wajah Alex dengan tatapan tajam dan pancaran mata yang penuh dengan kebencian.
''Kamu tahu dan kenal suami'ku, kan? jadi tentu saja ini anak dia,'' jawab Adel dengan nada suara yang sedikit gemetar.
''Kamu yakin?'' Alex menatap tajam wajah Adelia.
Adel pun memberanikan diri memajukan langkahnya, dengan tatapan tajam dia berdiri tepat di hadapan pria yang sangat di bencinya.
''Kenapa? apa kamu mengira bahwa anak ini adalah anakmu, hah? aku tidak sudi mengandung anakmu, jika memang ini adalah anakmu, maka mungkin saja sudah lama aku menggugurkannya, tapi sayangnya kamu salah, bayi ini adalah darah daging suami'ku, jadi kamu tidak usah terlalu berkhayal. Aku benci kamu, bajingan...''
Adelia pun membalikan badan dan pergi meninggalkan Alex yang berdiri mematung sendirian. Menatap punggung wanita yang dia cintai namun wanita itu sangat membenci dirinya, sungguh hati Alex diliputi rasa sakit yang mendalam, sakit yang tidak berdarah yang selama ini belum pernah dia rasakan.
Dan tanpa mereka sadari bahwa, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka, dengan tatapan mata tajam, dan tangan yang menutup mulutnya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
___________----------__________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader...