
''Apa yang kalian bicarakan? Tanggung jawab apa? Siapa yang harus bertanggung jawab ...?'' Adelia sang ibu tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
Axel dan Gabriel pun terkejut dan menghentikan perdebatan panas mereka.
''Eu ...! Mom ...'' Lirih El, dengan wajah pucat pasi, berharap sang ibu tidak mendengar pembicaraan dirinya dengan Gabriel, karena kalau sampai itu terjadi hati ibunya pasti akan sangat terluka.
''Siapa dia, El ...? Apa dia kawan kamu?'' tanya sang ibu lagi.
''Eu ... Anu mom ... dia pacar Axela, mom ...!'' El dengan sedikit terbata-bata.
''Apa ...?'' sang ibu pun terkejut.
''Perkenalkan, Tante. Nama saya Gabriel, kekasih dari putri Tante.'' Gabriel memberanikan diri untuk memperkenalkan diri sendiri, mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
''Sejak kapan Al punya pacar? ko mommy sama sekali nggak tahu?''
Tanya Adelia seraya menerima uluran tangan Gabriel, namun wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun, raut wajahnya terlihat datar, dan tatapan matanya pun masih terlihat tidak percaya.
''Aku juga gak tau, mom. Tanya aja sama orangnya langsung,'' El menatap wajah Gabriel.
Entah mengapa, tidak seperti sebelumnya, saat kedua putranya memperkenalkan pacar mereka masing-masing, waktu itu Adelia merasa senang dan tidak merasakan beban apapun.
Namun, kali ini perasaannya seolah ada yang mengganjal, ada perasaan aneh yang menyusup di relung hati seorang Adelia, rasa tidak suka jika putri kesayangannya berpacaran dengan pria bernama Gabriel.
''Sejak kapan kamu pacaran dengan putri saya?'' tanya Adelia melayangkan tatapan tajam.
''Kami baru berpacaran selama satu bulan, Tante.''
''Oh, begitu. Dimana dia sekarang? papi mu juga dimana ...?'' Adelia mengalihkan pandangannya kepada Axel putranya.
''Papi lagi di Rontgen, mom. Di antar sama Om Alex dan juga Al.'' jawab Axel.
Tidak lama kemudian Lucky pun masuk ke dalam ruangan, matanya nampak menatap wajah Gabriel, menatap dengan tatapan heran, karena pria itu sama sekali tidak dia kenal.
''Mom, dia siapa?'' tanya Lucky berdiri di samping sang ibu.
''Katanya dia pacar kakakmu,'' jawab sang ibu datar.
''Wah, Kaka punya pacar juga. Kenalkan aku Lucky, adik bungsu kak Al,'' Lucky mengulurkan tangannya berkenalan dengan wajah yang terlihat lebih ramah dari Axel dan dan juga ibunya.
Briel pun menerima uluran tangan Lucky, bersalaman dengannya seraya menyebutkan namanya juga.
''Tante, saya permisi keluar dulu,'' ujar Briel setelah melepaskan tangan Lucky.
__ADS_1
Adelia pun mengangguk, masih dengan tatapan datar.
Gabriel merasa tidak enak berada di sana, tatapan dari ibu kekasihnya itu membuat dirinya terasa tercekik, apalagi tatapan Axel yang terus saja menunjukan rasa kebencian, meskipun Lucky terlihat lebih ramah, namun, tetap saja, pemuda itu merasa tidak nyaman berada di sana.
Briel pun berjalan keluar dari dalam ruangan, dengan perasaan tidak enak sebenarnya, sejenak dia pun merasa rendah diri berada di tengah-tengah keluarga kekasihnya, keluarga kaya raya yang bergelimang harta.
Sementara dirinya, hanya pria yatim piatu yang tinggal sendiri, dan tidak punya apa-apa, bahkan pekerjaan'nya pun tidak jelas, meski dia punya cukup uang dari hasil pekerjaannya sebagai seorang Mafia yang bertugas sebagai malaikat maut, namun tetap saja, apa yang dia punya tidak sebanding dengan apa yang dimiliki oleh keluarga kekasih'nya tersebut. Apalagi, selama ini dia menabung semua hasil jerih payahnya tersebut.
Ya, sebagai pembunuh bayaran, Briel memang mendapatkan bayaran yang cukup besar, sekali menjalankan tugas, dia bisa mendapatkan upah seharga mobil baru, namun, dia sama sekali tidak menggunakan uang itu untuk berfoya-foya ataupun membeli barang mewah.
Dia bahkan tinggal di kontrakan sederhana, uang yang dia terima, selalu dia simpan dan sebagain dia sumbangkan ke panti asuhan tempatnya di besarkan dulu.
Briel pun berjalan di koridor Rumah sakit dengan langkah gontai, apakah salah jika dirinya benar-benar mencintai gadis yang bernama Axela? yang merupakan putri dari pengusaha kaya raya, rasa tidak percaya diri itu kini menggerogoti hatinya.
Dia pun sampai di luar Rumah sakit, masih berjalan dengan langkah sama, dia pun duduk di bawah pohon besar yang terdapat kursi kayu di bawahnya.
Briel, merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya lalu menyesapnya secara perlahan untuk menghilangkan rasa gundah di dalam hatinya.
***
Setelah pemeriksaan selesai, Leo pun kembali ke dalam ruangan, bersama Alex dan juga Axela. Di dorong oleh putrinya menggunakan kursi roda.
''Bagaimana hasil Rontgen'nya, sayang ...?'' Adelia sang istri segera menghampiri.
''Syukurlah aku lega sekali mendengarnya.''
''Hmm ...! Bang ... Gabriel mana?'' Al menatap ke sekeliling ruangan.
''Tadi dia keluar, gak tau kemana?'' jawab El tak acuh.
''Kamu gak bilang apa-apa kan sama dia?'' Al menatap dengan tatapan tajam.
''Nggak, maksud kamu apa?'' El sedikit kesal.
''Ada apa ini? Al, kamu kenapa menatap kakakmu seperti itu ...?'' Adelia terlihat heran.
''Nanti aku jelasin, mom. Aku keluar dulu ya,'' Al berlari keluar dari dalam ruangan, meninggalkan Leo yang masih duduk di atas kursi roda.
Dia berlari menyusuri koridor dengan mata yang terlihat menatap ke sekeliling, mencari sosok kekasih'nya.
'Kamu dimana? jangan sampai kamu lari lagi dariku, Briel ...' (Batin Al merasa cemas)
Akhirnya Al pun sampai di depan rumah sakit, dengan napas yang tersengal-sengal dia masih menatap sekitar, sampai akhirnya matanya menangkap sosok yang dia cari, dia sedang duduk sendiri, di bawah pohon dengan sebatang rokok yang masih terselip di sela-sela jarinya.
__ADS_1
Al berlari menghampiri, dan menepuk pundak kekasihnya tersebut.
''Kamu lagi apa? kenapa gak bilang dulu kalau mau keluar?'' sapa Al duduk di samping Gabriel.
''Kamu ...? maaf, tadi aku merasa sesak di dalam, makannya aku keluar nyari udara segar, gimana keadaan ayah kamu?'' jawab Briel seraya membuang rokok yang di pegang'nya.
''Papi baik-baik saja, kata Dokter beberapa hari lagi beliau sudah boleh pulang.''
''Syukurlah, aku senang mendengarnya.''
''Abang aku nggak bilang apa-apa kan sama kamu?''
''Nggak ko, dia gak bilang apa-apa. O ya, apa kamu mau terus di sini? kayaknya aku gak enak jika lama-lama berada di dalam?'' Briel menatap wajah sang kekasih.
''Kamu mau kemana? aku ikut kemanapun kamu pergi?''
Briel tersenyum, masih dengan tatapan mata yang tidak luput dalam memandangi wajah cantik kekasihnya, entah mengapa perasaan'nya terasa semakin dalam kepada wanita bernama Axela tersebut.
'Aku sungguh mencintaimu, Axela ...' ( batin Gabriel )
" Gabriel ...?''
Al membuyarkan lamunan Briel.
''Maaf, aku melamun tadi, wajahmu begitu cantik, membuat aku terkesima.''
''Akh, gombal banget si, dari dulu juga wajah aku memang sudah cantik seperti ini,'' wajah Al memerah mendapatkan pujian.
''Eu ...! Aku mau mengunjungi panti asuhan, kamu mau ikut?''
''Panti asuhan?''
Briel mengangguk.
''Aku tinggal dan besar di panti asuhan, dan hari ini tiba-tiba saja aku ingin pergi ke sana,'' Briel menjelaskan.
Al menatap wajah Gabriel, hatinya berfikir, pasti berat di besarkan dan tinggal di panti asuhan, dimana tanpa kasih sayang seorang ayah apalagi seorang ibu yang selama ini selalu dia rasakan.
Ada rasa iba yang sedikit menyusup relung hati seorang Axela, rasa iba bercampur dengan rasa cinta yang terasa semakin membara di dalam hatinya.
Sepertinya, sepasang kekasih tersebut tidak akan mudah dalam menjalani hubungan mereka, akan banyak rintangan dan kerikil tajam yang akan mewarnai perjalanan cinta mereka.
______________----------______________
__ADS_1