Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Hamil


__ADS_3

''Kita harus memastikannya terlebih dahulu sebelum kita cek ke Dokter,'' ucap Emillia.


''Hmm ... Caranya?''


''Mommy akan tes urin dulu pake alat tes kehamilan.''


''Ya udah, Mommy tungguin di sini ya. Aku beli tespek dulu ke depan.''


Emillia menganggukan kepalanya.


Amora hendak melangkah keluar dari dalam kamar.


''Tunggu, Ra ...''


''Apa lagi, Mom? apa ada yang lain yang Mommy ingin beli? kalau iya, sekalian aja aku beliin.''


''Nggak, bukan itu. Apa gak apa-apa kamu pergi sendirian?''


''Gak apa-apa, Mom. Lagian kondisi Mommy lagi kayak gini, jadi Mommy tungguin aja di rumah, Oke ...''


''Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan, ya ...?''


''Baik, Mom. Aku berangkat ya ...''


Emill menganggukan kepalanya.


Emillia menunggu dengan perasaan cemas, tepatnya harap-harap cemas dan tidak sabar, dia ingin segera memastikan kalau tebakan dirinya dan sang putri tidak salah.


Kalau memang dirinya mengandung, tentu saja Emillia akan merasa sangat senang, tapi apabila tebakannya salah, dia tidak akan merasa kecewa dan akan kembali mencoba.


30 menit berlalu, lama menunggu akhirnya Amora pun kembali dengan membawa alat yang diperlukan untuk mengetes kehamilannya.


''Ini, Mom. Aku beli tiga sekaligus,'' ucap Amora duduk di tepi ranjang.


''Lho, banyak sekali belinya? satu juga cukup, sayang.''


''Gak apa-apa, untuk jaga-jaga barangkali kita meragukan hasil dari satu alat, maka kita bisa pake alat yang lainnya.''


''Hmmm ... Oke deh, makasih ya, sayang.'' Ucap Emill mengusap bahu putrinya.


''Ko diam aja? buru di pake alatnya. Aku sudah benar-benar gak sabar.''


''Eu ... Mommy takut?''


''Lho, takut kenapa?''

__ADS_1


''Takut kalau tebakan kita salah.''


''Gak akan, aku yakin Mommy pasti hamil, coba deh di cek.'' Pinta Amora merasa tidak sabar.


''Baiklah, kamu tunggu di sini, ya ...''


Amora menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


Di dalam toilet, Emillia segera memasukan alat tersebut ke dalam urin yang sudah dia tampung menggunakan wadah kecil, dengan perasaan yang berdebar-debar, dia pun menunggu dengan tidak sabar sampai alat itu bereaksi dan memunculkan garis yang diinginkan.


Emill nampak menggigit ujung kuku jari jempolnya, benar-benar merasa tidak sabar. Sampai akhirnya, satu garis merah benar-benar muncul perlahan, setelah itu di susul dengan satu garis lainnya, hingga akhirnya dua garis merah itu benar-benar muncul jelas membuat Emillia menutup mulut dengan telapak tangannya merasa terkejut sekaligus senang.


'Apa aku beneran hamil? di dalam perut aku ada janin buah hati pernikahan aku sama mas Alex, ya Tuhan terima kasih ...' ( Batin Emillia)


Setelah benar-benar yakin bahwa hasil yang dia lihat adalah dua garis merah, Emil pun keluar dari dalam kamar mandi, perlahan dia pun mulai membuka pintu dan berjalan memasuki kamar.


Ceklek ...


Pintu pun di buka, Amora yang memang sudah menunggu dengan tidak sabar segera menghampiri ibu sambungnya itu dan menanyakan hasilnya.


''Gimana, Mom. Positif?'' tanya Amora penasaran.


Dengan tersenyum senang, Emillia pun menganggukkan kepalanya, dan langsung mendapatkan pelukan dari sang putri.


''Selamat, Mom. Akhirnya Mommy akan segera memiliki seorang bayi, dan aku akan segera memiliki seorang adik, terima kasih Tuhan ...'' lirih Amora dengan mata yang berkaca-kaca.


''Hmm ... Kita harus segera memberitahukan hal ini sama Daddy, dia pasti senang,'' Amora mulai mengurai pelukan.


''Hmm ... Tunggu, Ra. Biar Mommy sendiri yang akan kasih tau dia langsung nanti, Mommy mau bikin kejutan buat Daddy mu,'' pinta Emillia.


''Baiklah ... Sebentar lagi Daddy pasti pulang. Aku yakin dia pasti akan senang sekali mendengar kabar ini.''


Emillia menganggukan kepalanya seraya tersenyum bahagia.


''Emillia, Amora ... Kalian dimana, sayang?'' terdengar suara bas Alex yang baru saja pulang dari kantor.


''Kami di sini, Dad.'' Teriak Amora menjawab.


Tidak lama kemudian terdengar suara langkah sepatu Alex yang perlahan mendekati kamar. Emill segera menyembunyikan tespek di tangannya ke belakang punggung.


''Kalian sedang apa di sini?'' tanya Alex berjalan masuk ke dalam kamar.


''Hmm ... Nggak ko, Dad. Kami cuma lagi ngobrol aja tadi. Hmm ... Daddy pasti haus, aku bikinin kopi ya ...?'' tawar Amora.


''Ehem ... Tumben putri Daddy baik sekali?''

__ADS_1


''Ikh, Daddy. Emangnya selama ini aku gak baik?''


''Ha ... ha ... ha ...! setiap hari kamu selalu baik, ko.''


''Ya sudah aku bikinin kopi, ya. Aku tunggu di meja makan.''


Alex menganggukkan kepalanya.


Kemudian Alex mengalihkan pandangannya kepada sang istri yang kini berdiri tepat di depannya, dia mengecup kening istrinya itu lalu kembali menatap wajah Emil dengan tatapan heran, karena istrinya itu terlihat begitu pucat pasi.


''Wajahmu pucat sekali? kamu sakit ...?'' tanya Alex meletakkan telapak tangannya di kedua sisi pipi putih Emillia.


''Nggak, Mas. Aku baik-baik saja ko.''


''Beneran? muka kamu pucat lho ini?''


''Hmm ... masa sih? nggak akh biasa aja. Mas, kamu pasti lelah, mari aku bantu lepasin kaki palsu kamu, kaki kamu pasti pegal seharian menopang kaki palsu itu,'' tawar Emillia yang langsung mendapatkan anggukan senang dari suaminya itu.


Alex duduk di tepi ranjang, dan Emillia berjongkok tepat dihadapannya. Perlahan Emill mulai membuka kunci yang melingkar di lutut sang suami, lalu dia pun menarik kaki Alex pelan tapi pasti sampai kaki itu pun terlepas menyisakan setengam kaki sang suami.


Tanpa di sadari oleh Emillia, dia pun meletakkan begitu saja tespek yang tadi dia genggam di atas lantai, sampai akhirnya mata Alex menangkap alat tersebut lalu meraihnya.


''Apa ini?'' tanya Alex meraih dan menatap dengan seksama alat test kehamilan yang terdapat dua garis merah di permukaannya.


''Eu ... Mas, itu ...'' Emill terbata-bata, niatnya untuk membuat kejutan pun kini sirna.


''Bukanya ini alat test kehamilan?'' Alex membulatkan bola matanya seketika.


''Iya, Mas.''


''Lalu garis dua ini artinya apa?''


''Itu artinya ... eu ... kita akan segera memiliki bayi, aku hamil, Mas.''


Alex terkejut seketika, tubuhnya terasa lemas tidak percaya, bibir Alex pun seketika membisu, tidak kuasa untuk menahan rasa haru, hanya air matanya saja yang kini mendadak berjatuhan dengan begitu derasnya, membuat Emillia memeluk tubuh suaminya itu seketika.


''Terima kasih, sayang. Mas benar-benar senang, hingga Mas gak tau harus berkata apa? hiks ...'' lirih Alex memeluk erat tubuh Emillia.


''Iya, Mas. Aku juga senang sekali, akhirnya kita akan segera mempunyai bayi, aku gak nyangka akan di percaya oleh Tuhan secepat ini,'' jawab Emillia menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


Amora yang hendak masuk ke dalam kamar pun seketika langsung memeluk tubuh kedua orang tua yang sangat dia sayangi itu dan mengucapkan kata selamat.


''Mom, Dad. Selamat ya, akhirnya kalian akan segera memiliki momongan juga, aku senang sekali karena aku akan segera memiliki seorang adik. Aku sungguh gak sabar menunggu waktu sembilan bulan.''


''Iya, sayang. Kamu akan segera memiliki adik kecil. Daddy juga gak nyangka kalau di usia Daddy yang sudah lebih dari setengah abad ini masih di beri kepercayaan oleh Tuhan untuk merasakan menggendong seorang bayi,'' Alex merenggangkan kedua tangannya, lalu meraih tubuh Amora, sehingga dia kini memeluk dua wanita yang sangat dia cintai.

__ADS_1


Istrinya dan juga sang putri, dan sebentar lagi kebahagiaanya akan semakin lengkap dengan kehadiran seorang bayi. Sungguh tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan yang sedang Alex rasakan saat ini.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2