Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Berdamai dengan keadaan.


__ADS_3

''Tes DNA?''


Leo mengangguk.


''Lalu hasilnya?''


Adelia terlihat penasaran, dengan jantung yang berdebar kencang.


''Hasilnya adalah, bayi itu anakku, darah daging'ku, anak kandung aku, tidak ada sangkut pautnya dengan pria yang bernama Alex.''


Adel menarik napas panjang, dia pun memegangi dada dengan kedua tangannya lalu menangis sesenggukan, entah menangis karena lega, atau menangis karena bahagia, dia merasa beban berat yang selama ini menghimpit jiwanya seolah terangkat seketika itu juga.


Leo segera memeluk tubuh sang istri, mendekapnya erat dengan kedua tangannya, membenamkan wajah sang istri di dada bidangnya seraya mengusap kepala lalu mengecup rambut panjangnya.


''Maafkan aku, sungguh...! aku tidak bermaksud mengkhianati dirimu, aku pun menyesal melakukan hal itu, jika saat ini kau membenciku dan ingin meninggalkan aku, aku siap, karena aku memang salah, aku tidak pantas mendapatkan cinta tulus darimu... hiks hiks hiks...!'' Lirih Adelia sesenggukan.


''Aku memaafkan'mu sayang, jangan pernah berfikir bahwa aku akan meninggalkanmu, karena aku tidak akan pernah melakukan'nya, kamu adalah pelabuhan terakhir'ku, mari kita lupakan semua yang terjadi kemarin, mulai saat ini kita buka lembaran baru, membesarkan ketiga anak kita, heuh...!''


''Benarkah...?''


Leo mengangguk seraya tersenyum.


''Terima kasih, cinta'mu tidak pernah berubah sedikit'pun kepada'ku, aku sungguh beruntung memiliki suami seperti'mu, Leonardo. I love you..."


"I love you to Adelia Fasha..."


Keduanya pun saling mendekap tubuh masing-masing, dan mengeratkan pelukan dengan mata yang di pejamkan.


''O iya... Bayiku... dimana si bungsu? aku sangat ingin bertemu dengan dia, karena terlalu larut dengan pikiran'ku sendiri, aku sampai lupa bahwa aku memiliki seorang bayi yang belum lama aku lahir'kan.''


Adelia melepaskan pelukan suaminya, menatap wajah sang suami dengan tatapan pilu.


''Ada di rumah, bersama ibu.''


''Bisakah dia dibawa kemari? si kembar juga, aku sangat merindukan mereka.''


''Tentu saja, aku akan meminta ibu dan baby sister membawa ketiga anak kita.''


Adelia mengangguk lalu kembali memeluk tubuh suaminya, seolah meluapkan kerinduan dan rasa cinta yang mendalam.

__ADS_1


***


Sore harinya, si kembar dan si bungsu pun di bawa ke Rumah Sakit untuk di pertemukan dengan ibunya, Adelia segera meraih dan memeluk bayi tampan yang baru berusia sekitar tiga Minggu itu.


Memeluk dan menciumnya dengan perasaan penuh kasih sayang, sementara si kembar, bayi yang berusia hampir dua tahun itu duduk di samping ibunya di atas ranjang, keduanya memeluk sang ibu seolah meluapkan kerinduan karena sempat tidak bertemu selama beberapa Minggu dengan ibunya tersebut.


''Maafkan mommy ya, sayang, mommy mengabaikan kalian bertiga, mommy terlalu egois, mommy sungguh menyesal, mommy janji tidak akan berbuat seperti ini lagi,'' ucap Adelia penuh penyesalan memeluk si kembar dengan bayi tampan yang masih berada di dalam gendongan.


Ibu, Leo, dan kedua baby sister'nya, menatap Adelia dengan tatapan penuh rasa haru, Leo bahkan sedikit berkaca-kaca, merasa bahagia karena akhirnya semua masalah yang mereka hadapi selesai dan kini keluarganya kembali berkumpul bersama. Mulai saat ini, dia bertekad akan menjaga istri serta ketiga anak'nya.


''O iya, sayang. Apa kamu sudah memberi nama untuk si bungsu?'' tanya Adelia menatap wajah suaminya.


''Eu... belum... he he he,'' jawab Leo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


''Apa? belum?''


Leo mengangguk cengengesan.


''Aku menunggu dirimu, sayang. Aku ingin kamu ikut andil dalam memberi nama untuk anak bungsu kita.''


''Begitu...? hmm... baiklah kalau begitu, sepertinya aku memiliki nama yang cocok untuk bayi tampan ini.''


''O ya...? kalau begitu, kamu bisa memberi dia nama sekarang.''


''Tentu saja, 'Lucky' adalah nama yang cocok untuk dia, lihat dia langsung tersenyum.''


Leo menatap wajah tampan putra bungsunya yang terlihat tersenyum seketika saat sang ibu memberinya nama.


Leo pun meraih tubuh putra bungsunya dari dekapan Adelia, dan menggendongnya.


''Sayang, mulai saat ini, Papi dan Mommy, memberi kamu nama Lucky, berharap kamu akan menjadi anak Sholeh dan dapat membanggakan kedua orang tua'mu, ya...'' ucap Leo mengecup pipi mungil putra bungsunya.


***


Alex, dia duduk sendiri di Apartemen'nya, menatap ke arah luar jendela yang terlihat begitu gelap di matanya, sorotan Lambu jalanan di tambah ker'lipan lampu kendaraan yang berjejer di jalanan seolah tidak membuat hatinya terhibur.


Tidak lama kemudian Revan pun datang dengan membawa sebuah tiket pesawat tujuan Amerika serikat. Revan berjalan mendekat lalu berdiri tepat di samping Alex.


''Bos, ini tiket pesawat yang bos minta.''

__ADS_1


''Baiklah, terima kasih,'' Alex meraih tiket tersebut.


''Tapa, bos...! apa bos serius ingin pindah dan menetap di luar negeri?''


''Tentu saja, aku ingin memulai hidup baru di sana, aku lelah menjalani kehidupan seperti ini.''


''Lalu bagiamana dengan---''


Revan tidak meneruskan ucapannya.


''Balas dendam maksud'mu?''


Revan mengangguk.


''Aku sudah melakukannya, sejak dulu sebenarnya, saat dia kehilangan ibunya sebenarnya itu sudah cukup untuk membayar nyawa adikku, namun karena rasa dendam yang memenuhi hatiku dan mengontrol jiwa'ku sehingga membuat aku serakah dan tidak pernah merasa puas melihat dia menderita, lagipula, dia sudah berlutut di hadapan'ku dan meminta maaf, meski aku tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa aku memaafkan semua perbuatannya dahulu.''


''Namun entah mengapa, hatiku sedikit lega sekarang, beban yang selama ini menindih relung jiwaku seakan terangkat saat aku mendengar perkataan maaf darinya, apa sebenarnya hanya itu yang aku butuhkan dari dulu? permintaan maaf yang tulus dari dia, orang yang telah merenggut nyawa adikku?''


''Andai saja dia melakukan itu sejak lama, mungkin aku tak akan hidup seperti ini,'' Alex sedikit berkaca-kaca.


''Aku mengerti apa yang bos maksud, sebenarnya bos hanya butuh permintaan maaf dari manusia sombong bernama Leonardo itu, selama ini dia menjalani hidup dengan bahagia setelah membuat mu kehilangan Jimmy, dan hidup merana.''


Revan menatap wajah Alex yang terlihat mulai menunduk menyembunyikan kesedihannya kala mengingat adik kesayangannya yang telah tiada.


''Revan...! mulai sekarang aku serahkan apartemen ini padamu, beberapa perusahaan pun aku serahkan kepada'mu, tolong kelola mereka dengan baik, aku tidak tahu apa aku akan kembali kesini lagi atau tidak.''


''Baik, bos. Aku berjanji akan menjalani dan menjaga amanah yang kau berikan, tapi jangan pernah bilang kalau kau tak akan pernah kembali, karena itu membuat aku benar-benar sedih.''


Alex hanya terdiam, matanya kembali menatap ke luar jendela, menatap langit malam yang mulai terlihat gelap, tanpa satu pun bintang, apalagi bulan, sinar lampu jalanan pun perlahan meredup, hanya ker'lipan beberapa lampu mobil saja yang juga terlihat sudah tidak terlalu ramai.


Alex tersenyum kecut dengan mata yang masih sedikit berkaca-kaca.


'Mulai saat ini aku akan mencoba berdamai dengan keadaan...'


Batin Alex bergumam.


***


15 tahun kemudian...

__ADS_1


__________---------__________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️❤️


__ADS_2