Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Rumah Baru


__ADS_3

Axel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, melaju di jalanan yang tidak terlalu padat dengan pengendara, dengan Amora mengikuti dari arah belakang mengendarai motor milik Gabriel.


''Lo masih tinggal di tempat yang sama, kan?'' tanya El tanpa menoleh.


''Nggak, gue udah gak tinggal lagi di sana?''


''Lalu ...?''


''Bawa gue ke jalan *******, sekarang gue tinggal di sana ...!''


''Oke ...!''


El pun semakin melajukan mobilnya, seraya sesekali menatap kaca spion memantau motor yang kendarai oleh Amora.


Akhirnya dia sampai di jalan yang di maksud oleh Gabriel, dan Briel pun menunjuk rumah baru dimana tempatnya tinggal sekarang, Axel segera menghentikan laju mobilnya, berhenti tepat di depan pagar berwarna hitam, begitupun dengan Amora, dia berhenti tepat di belakang mobil Axel.


Keduanya pun keluar dari dalam mobil, berjalan memasuki halaman dengan El yang nampak memapah tubuh Briel yang terlihat masih lemas dan sedikit sulit di gerakan, wajah Gabriel pun masih terlihat meringis kesakitan, menahan rasa perih dan ngilu di sekujur tubuhnya.


Ceklek ...


Gabriel membuka pintu rumahnya, rumah sederhana yang dia beli sendiri dengan uang tabungan yang selama ini dia simpan, meski rumah tersebut tidak terlalu besar, namun, cukup baginya untuk memulai hidup baru sendirian sampai dirinya memiliki pendamping kelak, menikahi Axela, kekasih yang sangat di cintai'nya.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah, Axel mendudukkan Gabriel di kursi di ruang tamu.


''Apa Lo punya kotak obat? biar luka Lo gue obati,'' tanya El duduk di samping Briel.


''Di sana? gue selalu punya persediaan obat-obatan,'' Briel menunjuk kotak p3k yang dia simpan di atas meja kecil.


Axel pun segera meraih kotak tersebut, dan membawanya tepat di hadapan Gabriel.

__ADS_1


''Sebenarnya yang tadi mukulin Lo itu siapa? kenapa lo bisa dipukuli habis-habisan oleh pria itu?'' Axel seraya mengoleskan obat di setiap luka yang ada di wajah Gabriel.


''Argh ...! pelan-pelan, sakit, El ...!''


''Obati sendiri kalau begitu ...!'' El melempar obat tersebut tepat di pangkuan Gabriel.


Briel pun tersenyum, sebenarnya dia merasa senang, karena meski Axel terlihat membenci dirinya, tapi dia masih sudi menolong dan membawa dirinya pulang ke rumah, dan bahkan mengobati luka di wajahnya.


"Makasih, Lo sudah mau nolongin gue," Briel menatap wajah Axel.


"Jangan GR dulu, gue ngelakuin ini bukan karena gue suka sama Lo, gue lakuin ini karena gue gak ingin Al sampai sedih kalau dia melihat Lo kayak gini," Axel datar.


"Tetap saja, gue gak tau apa yang akan terjadi dengan gue tadi, jika Lo gak nolongin gue."


"Gak usah berlebihan, gue pamit sekarang," El berdiri dan hendak pergi.


"Tunggu, El."


"Jangan bilang sama Al kalau gue terluka."


El menoleh lalu menatap wajah Gabriel.


"Gak usah di pinta juga gue gak bakalan ngomong sama dia, Lo pikir gue bodoh? Asal lo tau, gue sama dia itu kembar, dia sedih, maka gue pun akan merasa sedih, dia terluka maka gue pun akan merasakan rasa sakit yang sama, oleh karena itu, Lo jangan berani-beraninya nyakitin hati dia, karena kalau sampai itu terjadi, Lo akan berhadapan langsung sama gue, ngerti Lo ..."


Briel mengangguk seraya tersenyum.


Axel dan Amora pun keluar dari dalam rumah, Briel hanya bisa menatap dua orang yang telah menolong dirinya, tanpa bisa mengantarkan keduanya ke depan, karena sekujur tubuhnya masih terasa nyeri sekarang.


Dia pun menyimpan obat yang tadi di lemparkan oleh Axel, menaruhnya kembali di tempat semula, kemudian Gabriel kini terlihat termenung, memikirkan kembali perkataan serta ancaman yang tadi di ucapkan oleh Revan.

__ADS_1


Apa yang harus dia lakukan sekarang? tidak mungkin rasanya jika dia menyakiti kembali ayah dari wanita yang sangat dicintai'nya, apalagi kalau harus melenyapkannya, memikirkannya saja membuat sekujur tubuhnya merinding, namun, tidak akan mudah baginya untuk lepas dari bosnya itu begitu saja.


Dia berbaring di kursi, menatap langit-langit ruang tamu seraya memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya, sampai akhirnya, dia pun mulai memejamkan mata lalu terlelap seketika.


Satu jam kemudian.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan di pintu, Briel yang baru saja memejamkan mata pun kembali membuka lebar kedua matanya, mengedipkan pelupuknya secara perlahan menyesuaikan cahaya matahari yang perlahan masuk kedalam kelopak matanya.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pun semakin keras terdengar. Briel mencoba bangkit dan berdiri berjalan ke arah pintu meski sekujur tubuhnya masih terasa ngilu.


Sebelum dia membuka pintu, Briel pun terlebih dahulu mengintip dari balik gorden, menatap dengan seksama siapakah gerangan orang yang datang ke rumahnya.


Dirinya pun terkejut seketika membulatkan bola matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


'Bagaimana ini? kenapa dia bisa datang kemari,' (Batin Gabriel, lalu berdiri di belakang pintu.)


____________--------------_____________

__ADS_1


Promosi



__ADS_2