
Lucky terkejut membulatkan bola matanya seketika, saat bibir Emillia hangat menyentuh bibirnya, kenyal dan lembut membuat Lucky memejamkan mata kemudian.
Entah apa yang merasuki jiwa Emillia, hingga dia melakukan hal itu tanpa berfikir panjang, apakah karena rasa rindu yang sudah tidak tertahankan lagi? atau karena rasa cintanya yang begitu besar? apa mungkin, hati kecilnya masih belum rela jika dia harus benar-benar mengakhiri hubungannya dengan remaja tampan bernama Lucky tersebut.
Keduanya saling menautkan bibir kini, menghiraukan status mereka yang tidak lagi memiliki hubungan apapun, Lucky bahkan meletakan tangannya di kedua sisi pipi Emillia, menyentuhnya lembut dengan menyesap bibir ranum Emillia yang saat ini semakin dalam dan semakin terasa manis di bibirnya.
Emillia, dia melingkarkan kedua tangannya di leher Lucky, menikmati setiap sesapan dan lu*atan yang di layangkan oleh bibir Lucky dan semakin menautkan bibirnya erat seolah tidak ingin dilepaskan.
Keduanya begitu menikmati sentuhan bibir masing-masing, hingga tanpa sadar bahwa ciu*an yang mereka lakukan semakin panas dan semakin membuat mereka kehilangan akal.
Sampai akhirnya, Emil melepaskan tautan bibirnya, dengan posisi yang begitu dekat, dia menatap wajah tampan mantan kekasihnya tersebut, lalu tersenyum begitu manisnya membuat Lucky kembali menarik leher Emillia dan meneruskan ciu*an mereka.
Selama 10 menit, mereka tidak melepaskan sedikitpun tautan bibir mereka, menikmati hangatnya sentuhan masing-masing yang mungkin saja tidak akan pernah mereka rasakan lagi, diiringi angin sepoi-sepoi, udara yang segar serta kicauan burung camar, membuat keduanya semakin larut dan semakin memperdalam ciu*an masing-masing.
Sampai akhirnya Emil pun melepaskan tautan bibirnya, memaksakan diri untuk menahan ge*olak yang sebenarnya mulai naik ke permukaan, andai saja dia tidak melakukan hal itu, mungkin saja, mereka sudah melakukan hal lain yang akan membuat mereka semakin berat untuk saling melepaskan perasaan masing-masing.
''Aku minta maaf, telah membuat hatimu terluka ...'' lirih Emillia tiba-tiba.
''Aku tau alasanmu memutuskan aku,'' jawab Lucky datar menatap ke depan.
''Apa kamu mendengar semua pembicaraan kami, tadi?''
Lucky mengangguk, lalu menoleh, mantap wajah Emillia yang terlihat begitu cantik dengan rambut yang tersapu angin.
''Sekali lagi aku minta maaf, dan aku gak akan menjelaskan apapun lagi, karena kamu telah tau semuanya, aku cuma berharap kamu mengerti dan menerima keputusan aku,'' jawab Emillia mulai berkaca-kaca.
Lucky memperbaiki posisi duduknya, hingga kini dia berada tepat di hadapan Emill, dengan tubuh yang begitu dekat, dia pun meraih pergelangan tangan lalu menggenggamnya erat, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Lucky menatap setiap jengkal wajah Emillia, lalu tersenyum getir.
''Aku mengerti semua alasanmu, dan aku akan mencoba ikhlas melepas'mu, aku tidak ingin membuat kamu menunggu sampai aku lulus dan menjadi dewasa seutuhnya, karena itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Carilah kebahagiaanmu, aku cuma bisa mendoakan semoga kamu mendapatkan laki-laki yang baik dan seperti yang kamu harapkan.''
__ADS_1
''Sakit memang, sakit sekali rasanya, hatiku terasa akan meledak sekarang, jantungku bahkan terasa akan berhenti berdetak, tapi apalah daya, aku akan mencoba menahan semua itu, kita jalani hidup kita masing-masing, melangkah ke depan dan meraih cita-cita kita masing-masing.''
''Tapi, aku berharap takdir akan mempertemukan kita lagi nanti. Kamu akan tetap berada di hatiku, dia tempat yang paling spesial di dalam sini ...'' ucap Lucky meletakan jemari Emillia di dada kirinya.
Mendengar semua itu, membuat buliran air mata seorang Emillia mulai berjatuhan, membasahi pipi hingga mengenai genggaman tangan keduanya.
''Sekali lagi aku minta maaf,'' hanya kata itu yang keluar dari bibir mungil Emil.
''Tidak, kamu sama sekali tidak salah, mungkin ini memang takdir yang harus kita jalani, manusia hanya bisa berencana dan berusaha, selebihnya tuhan yang menentukan, dan ternyata rencana dan usaha aku untuk mempertahankan hubungan kita tidak sesuai dengan yang ditakdirkan tuhan,'' lirih Lucky menahan rasa getir.
''Aku berdoa, semoga kamu bahagia, mendapatkan pacar lain yang lebih baik dari aku dan tentu saja seumuran dengan kamu, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi dalam hidup kamu,'' jawab Emil.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Menatap dengan tatapan penuh kesedihan, Lucky mencoba menahan air mata yang perlahan memenuhi pelupuknya, namun, usahanya gagal juga, karena pada akhirnya air mata itu pun jatuh membasahi wajah tampannya.
Emillia, memeluk tubuh mantan kekasihnya tersebut, meletakkan kepala di pundak Lucky dengan tangan yang mengusap punggungnya pelan, dan tentu saja dengan air mata yang terus mengalir bahkan semakin deras membanjiri wajah cantiknya.
''Aku mencintaimu, Ibu Emillia. Sungguh ... hiks hiks hiks ...'' tangis Lucky pecah di pelukan wanita yang dicintainya itu.
Lucky mengangguk pelan, dia mengigit bibir bawahnya keras, mengalihkan rasa sakit yang saat ini dia rasakan.
Akhirnya keduanya melepaskan pelukan, dan mengusap wajah mereka masing-masing, tersenyum getir.
''Kita harus segera kembali ke rumah, Nenekmu pasti sedang menunggu dan mencarimu,'' pinta Emill.
''Bukan ke rumah Nenek, tapi ke rumah orang tuaku,'' jawab Lucky datar.
''Lho, kenapa? bukannya kamu baru saja datang ...?''
''Aku takut jika aku terlalu lama berada di sini akan membuat aku berubah pikiran, dan akan semakin sulit melepaskan'mu. Kamu tahu apa tujuanku berlibur ke sini?''
__ADS_1
Emillia menggelengkan kepalanya.
''Aku ke sini, untuk menenangkan pikiran aku, dan berharap bisa melupakanmu, tapi gak di sangka di sini malah ketemu sama kamu,'' jawab Lucky seraya tersenyum.
''Mungkin Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk bertemu dan saling melepaskan perasaan masing-masing.''
Keduanya terdiam sejenak.
''Apakah kamu tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi?'' tanya Emil kemudian.
''Tidak, aku ingin segera melupakanmu dan segera mengobati rasa sakit ini, semakin lama berada di dekatmu akan membuat aku sulit melepaskan-mu nantinya, maaf ...''
Emil menunduk merasa kecewa.
Lucky bangkit lalu berdiri, dengan berat hati dia harus segera pergi, dia tidak ingin terlalu lama berada di sana. Dia pun kembali berjongkok dan meminta Emillia naik ke punggungnya.
''Naiklah, kita pulang sekarang,'' pinta Lucky.
Dengan perasaan berat, Emillia pun naik ke punggung mantan kekasihnya tersebut, melingkarkan lengannya di leher, dengan kepala yang di sandarkan di pundak lebar Lucky.
''Sudah siap ...?''
Emil mengangguk pelan.
Lucky pun mulai berjalan, menapaki jalan yang sama sewaktu mereka ke sana tadi.
''Terima kasih untuk hari ini, dan hari-hari kemarin, bersamamu aku benar-benar bahagia ...'' bisik Emillia.
Lucky hanya terdiam, wajahnya terlihat muram penuh dengan kesediaan, hingga dia tidak mampu lagi mengucapkan satu patah katapun.
__ADS_1
____________--------------___________