Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Makan Malam


__ADS_3

Leo berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya, hari ini benar-benar terasa begitu melelahkan bagi kakek dari tiga cucu itu, tapi dia pun merasa lega karena urusannya di kota sudah selesai dia kerjakan, dari mulai serah terima Perusahaan, hingga pembubaran perkumpulan Mafia yang sudah lebih dari 20 tahun dia pimpin.


Rasa lelahnya seketika hilang saat melihat ketiga cucu kembarnya berlarian kini ke arahnya. Lala, Lili, Lulu seperti biasa selalu menyambut kedatangan eyangnya dengan berlari dan saling berebut minta di gendong.


''Eyang ... Endong Yaya ...'' Pita Lala dengan suara cempleng yang menggemaskan.


''Hmm ... Cucu eyang ... Siapa dulu nih yang mau di gendong?'' Jawab Leo berjongkok di depan ketiga cucunya.


''Yaya ...''


''Yuyu duyu ...''


''Yiyi dulu, eyang ...''


Ketiganya saling berebut minta di gendong, membuat Leo bingung, karena tangannya yang hanya berjumlah dua tidak akan bisa menggendong ketiga cucunya sekaligus.


''Hmm ... Satu-satu dulu dong, sayang. Hmmm ... Gimana kalau kalian suit dulu, yang menang yang di gendong duluan sama eyang,'' pinta Leo menatap satu-persatu cucunya tersebut.


''Gak au ... Gak au ... Aku duyuan yang di gendong eyang,'' jawab triple L secara bersamaan.


''Aduuuuh ... gimana dong, tangan eyang cuma ada dua, sayang ...''


''Huaaaaa ...'' Sontak ketiganya menangis secara bersamaan.


''Ya udah, iya-iya ... Eyang coba gendong kalian semua, Oke ...? Tapi diem dulu. Eyang gak bisa gendong kalau kalian nangis kayak gini,'' pinta Leo mencoba menenangkan.


Triple L pun serentak langsung terdiam, mereka langsung mengubah raut wajahnya menjadi ceria seperti sedia kala seolah tidak habis menangis sama sekali, entah mereka hanya berpura-pura agar kakeknya itu bersedia menggendong mereka semua, entahlah hanya mereka yang tahu, yang jelas, rasa lelah yang semula di rasakan oleh Leonardo seketika hilang setelah bercanda dengan ketiga cucunya itu.


Leo merentangkan kedua tangannya lebar-lebar agar bisa meraih ketiga cucunya sekaligus, dan sedetik kemudian, ketiga cucunya itu di gendong secara bersamaan oleh kedua tangannya, membuat triple L tertawa senang, begitupun dengan Leo yang saat ini menciumi satu-persatu cucu kesayangannya itu.


''Hmm ... Cucu eyang wangi-wangi, suka deh ...'' ucap Leo mengecup pelan satu-persatu cucunya.


Adelia dan Axela yang kini berjalan mendekati Leo pun nampak tertawa bahagia, mereka berdua sudah biasa melihat triple L berebut meminta untuk di gendong.


''Sayang ... Ko tiga-tiganya di gendong si? kasian nanti eyang encok lho ...'' ucap Al meraih tubuh mungil Lily.

__ADS_1


''Moom ... Yiyi au endong eyang ...'' rengek Lili dengan suara manja khas anak balita berusia 3 tahun.


''Iya, sayang. Tapi gendongnya satu-satu dulu, nanti giliran ...'' ucap Axela lagi, membuat Lily seketika langsung menangis kencang.


''Huaaaaaa ...'' Tangis Lily terdengar begitu nyaring.


''Gak apa-apa, Al. Sini kasih ke Papi lagi, Papi masih kuat ko gendong mereka sekaligus.''


''Tapi, Pap. Nanti pinggang Papi sakit?''


''Nggak bakalan, sini Lily, sayang. Eyang gendong lagi.''


Axela mau tidak mau akhirnya mengikuti keinginan ayahnya, Lily di apit di antara dua saudaranya yang berada tepat di dada lebar Leonardo.


''Yeeeeey ...'' Triple L pun bersorak senang.


''Kita ke ruang makan yu, Eyang lapar banget mau makan.''


Leo berjalan ke arah ruang makan dengan triple L di dalam gendongan.


''Sudah dong, sesuai dengan permintaan kamu, sayang. Semuanya juga udah nungguin kamu di meja makan.'' Jawab Adelia.


''O ya ...? apa aku datang terlambat?''


''Nggak ko, mereka juga baru aja turun.''


Malam ini, Leo memang sengaja mengumpulkan ketiga anak serta menantunya, dia ingin membicarakan perihal keinginannya untuk pindah ke rumah nenek mereka yang ada di kampung.


Ya ... Leo memang belum membicarakan keinginannya itu kepada ketiga putra-putri serta menantunya, karena menunggu waktu yang tepat, dan sepertinya malam ini adalah malam yang tepat untuk dia membicarakan keinginannya itu kepada mereka.


Axel duduk samping Amora sang istri, sedangkan Axela di samping Gabriel suaminya, sementara Lucky, dia duduk di kursi paling ujung.


Adelia pun menarik kursi makan dan mempersilahkan suaminya itu untuk duduk, lengkap dengan ketiga cucunya yang saat ini masih berada di dalam gendongannya.


Axela dan Gabriel yang melihat itupun segera membujuk triple L untuk turun dan duduk bersama mereka.

__ADS_1


''Hmm ... Makanannya banyak banget, sayang. Makanan kegemaran aku juga ada, waaah ... aku kangen banget makan ini,'' ucap Leo meraih satu buah gorengan yang masih hangat, lalu mengigitnya.


''Hmmm ... Rasanya masih sama kayak dulu, keriuk-''


''Kriuk di luar, lembut di dalam ...'' sela Axela, Axel, dan juga Lucky secara bersamaan, membuat Adelia dan Leo tertawa seketika.


''Ha ... ha ... ha ...! apa Papi terlalu sering mengatakan hal itu? kalian sampe hapal.''


''Iya dong, kalau dibikin jargon, bagus juga tuh kalimat Papi ini.'' Jawab El.


''Ha ... ha ... ha .... bisa aja kamu ...''


''Pap ... katanya ada hal penting yang harus dibicarakan? apa itu, kami penasaran banget,'' tanya Lucky yang duduk di kursi paling ujung.


''Hmm ... Memang betul, Papi ingin mengatakan sesuatu sama kalian semua, dan Papi berharap kalian bisa menerima keputusan ini dengan lapang dada tanpa ada protes, karena papi sudah sepakat sama Mommy kamu tentang hal ini.'' Leo meraih pergelangan tangan sang istri lalu menggenggam jemari-nya kuat.


''Iya, Pap. Tapi apaan, langsung ke intinya aja deh, kami jadi makin penasaran.''


''Jadi begini, Papi dan Mommy sudah sepakat untuk pindah ke desa, kami ingin tinggal di rumah peninggalan nenek kalian, sayang sekali rumah itu sudah terlalu lama dibiarkan kosong.''


''Apa ...? Papi serius mau tinggal di desa?'' tanya El merasa tidak percaya.


''Hmm ... Kami ingin menghabiskan masa tua kami berdua di desa, sekaligus mengenang masa muda dan hidup tenang di sana, tanpa harus memikirkan pekerjaan, tanpa polusi dan riuhnya bunyi kendaraan, dan sekaligus kami ingin berbulan madu berdua di sana, gimana? kalian setuju 'kan? harus setuju dong.'' Ucap Leo panjang lebar.


''Pap ...?'' Lirih Axela menatap sendu wajah ayahnya.


''Kenapa, Al? kamu gak usah sedih, kamu 'kan sudah besar, ada Gabriel yang akan selalu menemani kamu, gak usah sedih gitu akh, lagian kalau kamu kangen sama kami, kamu tinggal datang ke sana, gampang 'kan?''


''Tapi tetap saja, rasanya akan aneh jika di rumah ini gak ada kalian,'' Al yang merupakan putri satu-satunya dan anak yang paling di sayang oleh Leo dan juga Adelia itu nampak mulai berkaca-kaca merasa sedih.


''Ha ... ha ... ha ...! udah-udah jangan nangis kayak gitu, malu tuh sama tripel L ...'' pinta Leo merasakan kesedihan yang sama sebenarnya.


Leo menatap satu-persatu putra putri beserta menantunya itu, menatap dengan tatapan sedih dan juga bahagia sebenarnya.


'*Waktu begitu cepat berlalu, aku tidak menyangka kalau anak-anakku kini sudah benar-benar dewasa,' ( Batin Leo )

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀*


__ADS_2