
Setelah menunggu hampir 30 menit, akhirnya Gabriel pun kembali dengan membawa kantong plastik berisi dua bungkus nasi Padang.
Axela nampak memperhatikan dengan mengerutkan keningnya, saat Briel memberinya satu bungkus, di letaknya bungkusan tersebut di atas piring, tepat di depan dirinya.
Gabriel, dia segera membuka bungkusan miliknya, lalu memakannya begitu lahap dengan menggunakan tangan.
Sementara, Axela, dia hanya menatap bungkusan makanan yang berada tepat di depan diri'nya dengan mata yang sesekali menatap ke arah Gabriel, dengan mengerutkan keningnya, membuat Gabriel heran lalu menghentikan gerakan tangannya seketika.
''Kenapa tidak makan? tadi katanya lapar? mau aku suap'in?''
''Kamu yakin makanan ini bersih?''
''Tentu saja,'' jawab Briel masukan satu suap kedalam mulutnya sendiri.
''Apa kamu punya sendok dan garpu? aku gak biasa makan menggunakan tangan.''
''Axela, makan nasi Padang itu enaknya menggunakan tangan, coba deh cicipi dulu sedikit, kamu pasti bakal ketagihan.''
Mendengar hal tersebut, Al pun membuka bungkusan tersebut, meski dengan perasaan enggan sebenarnya, setelah bungkusan dibuka sempurna, dia pun mengambil satu suap makanan tersebut dengan hanya menggunakan dua jari lalu memasukan ke dalam mulutnya.
''Gimana? enak kan?''
Axela kembali meraih buliran nasi lengkap dengan lauk pauknya, namun kali ini dengan dengan menggunakan tiga jarinya.
''Hmmm, iya... enak...'' Al tersenyum seketika, ternyata yang di katakan oleh Gabriel memang benar adanya.
Makanan yang sedang di kunyah'nya memanglah terasa enak, alhasil dia pun kembali memakan makanan tersebut, kali ini bahkan memakan dengan begitu lahapnya, sampai mulutnya penuh dengan makanan.
Briel tersenyum geli, manatap wajah Axela yang kini kedua sisi rahangnya mengembang penuh dengan makanan.
''Enak kan?''
Al mengangguk seraya terus mengunyah.
Keduanya pun makan dengan begitu lahapnya, Al bahkan sampai tidak menyadari bahwa Gabriel sedari tadi terus memandangi wajahnya dengan begitu lekat, dengan bibir yang terus tersenyum begitu manisnya.
Saking khusuk'nya dalam menikmati makanan tersebut, Al pun sampai tersedak lalu batuk seketika, dia pun memegangi dadanya dan mencari air minum.
''Ohok...'' suara Al tersedak.
''Makannya pelan-pelan, Axela. Santai saja.''
Briel segera meraih botol air mineral, membuka tutupnya dan segera memberikannya kepada Axela.
Glekgek
Glekgek
__ADS_1
Glekgek
Al meminum air mineral.
''Akh...! aku tidak menyangka ternyata makanan ini enak sekali, aku akan memasukan nasi Padang ke dalam daftar menu favorit'ku,'' ucap Al, sesaat setelah dia selesai meminum air putih.
Gabriel kembali menatap wajah Al, masih dengan tersenyum, kali ini dia bahkan mengulurkan tangan kiri'nya hendak meraba bibir Axela yang terdapat beberapa buah buliran nasi, membuat Al terkejut dan memundurkan kepalanya.
''Kamu mau apa?''
''Diam dulu, ada nasi di bibir kamu. Makannya kaya anak kecil banget si sampai belepotan begini.''
Briel mengusap bibir merah Axela, menyingkirkan beberapa buah buliran nasi, dengan mata yang memandang lekat bibir tipis berwarna merah muda tersebut, membuat Al berdebar seketika dan begitupun sebaliknya.
Keduanya pun merasa gugup dengan detak jantung yang berdetak tidak beraturan seketika itu juga, Briel pun kembali meneruskan makannya, dengan tangan yang sedikit bergetar sebenarnya.
''Akh... aku kenyang sekali, makasih ya, Briel. Aku janji suatu saat nanti akan mentraktir'mu makan di Restoran mahal.''
''Memangnya kamu masih mau bertemu dengan aku nantinya?'' tanya Briel, membuat Al terdiam.
''Memangnya kenapa? apa kamu tidak ingin bertemu dengan aku lagi?''
''Nggak, bukan begitu?''
''Terus?''
Batin Gabriel.
''Gabriel, kenapa kamu diam?''
''Oh... Nggak ko. Iya... Iya... aku akan tunggu janji kamu.''
''Hmm... kamar mandinya dimana? aku mau cuci tangan.''
''Ada di sebelah sana,'' Briel menunjuk ke lorong sempit yang terletak di pojok ruangan tersebut.
''Baiklah.''
Al pun mencoba untuk bangkit dan berdiri namun karena tubuhnya masih terasa lemas, dia pun gagal melakukannya dan kembali duduk.
''Kamu tunggu saja si sini, biar aku ambilkan saja airnya,'' ujar Briel bangkit dan mengambil air untuk mencuci tangan Axela.
***
Keesokan harinya.
Axela meringkuk di atas kasur busa di dalam kamar sempit milik Gabriel, sebenarnya semalaman dia terus terjaga karena tidak biasan tidur di ruangan sempit yang ukurannya 3 kali lipat dari ukuran kamar pribadinya.
__ADS_1
Kantong matanya nampak berwarna hitam, dengan bola matanya berwarna sedikit kemerahan. Sementara Gabriel yang tidur di ruangan depan, nampak masih tertidur dengan begitu pulas'nya meski hanya beralaskan kasur lantai yang tipis.
Al pun bangkit lalu duduk di atas tempat tidur, entah mengapa punggungnya yang terdapat luka sayatan dan kini sudah di tutup perban terasa begitu sakit, dan perih sekali.
Axela, membuka kaos oblong berwarna putih yang di kenakan'nya, dia memutar kepala ke kiri mencoba melihat luka tersebut.
''Argh... kenapa sakit sekali?'' Al meringis kesakitan.
Dia pun menurunkan tali B** yang melingkar di pundaknya, lalu mengusap luka tersebut menggunakan telapak tangannya, dengan harapan bahwa rasa sakit'nya akan sedikit berkurang.
Namun harapannya sirna seketika, karena luka tersebut semakin terasa perih bahkan mengeluarkan darah segar yang kini mulai mewarnai perban yang semula berwarna putih kini mulai kemerahan.
''Argh...''
Al semakin meringis kesakitan, mengerang dengan begitu kerasnya, membuat Gabriel yang sedang tertidur pulas bangun karena mendengar suara Al yang terdengar begitu nyaring.
Dia pun segera membuka pintu kamar, dan terkejut menatap tubuh Axela yang kini dalam keadaan setengah polos, dengan bagian dada yang menyembul sempurna begitu indahnya.
''Kamu kenapa?'' Briel berjalan menghampiri, mencoba mengabaikan pemandangan indah di depan matanya.
''Entahlah, lukaku sakit sekali, Argh...''
''Sepertinya lukamu kembali mengeluarkan darah,'' Briel duduk di belakang punggung Al, menatap luka tersebut, lalu merabanya.
''Sebentar, aku ambilkan kotak obat terlebih dahulu.''
Al mengangguk, dengan wajah yang masih meringis kesakitan. Sesaat kemudian, Briel pun kembali dengan membawa kotak obat yang memang selalu dia sediakan untuk mengobati dirinya apabila dia sedang dalam keadaan terluka.
Briel sama sekali tidak suka dengan yang namanya Rumah Sakit, apa lagi kalau harus masuk kedalamnya, dia memiliki trauma yang teramat dalam dengan bau Rumah Sakit, dan itu pula yang menyebabkan dirinya tidak membawa Al ke sana.
''Sebentar ya, aku akan membuka perban'nya, aku akan memberikan obat lagi di luka'mu ini,'' ucap Briel.
Axela hanya mengangguk pelan.
Kini Briel pun membuka tali B** yang melingkar di punggung Axela, sehingga, kini punggung gadis remaja itu terekspose dengan sempurna, putih mulus dengan pinggang ramping, membuat darah pria berusia 25 tahun itu seolah mendidih di buatnya.
Dengan sangat hati-hati, Briel membuka perban yang di iringi dengan erangan kesakitan dari mulut Axela.
''Pelan-pelan, sakit sekali... Argh...!''
''Iya, maaf... aku akan melakukan dengan hati-hati.''
Dia pun membersihkan darah segar yang keluar dari luka tersebut, lalu kembali mengoleskan salep khusus tepat di kulit Al yang robek tersebut. Setelah itu luka pun kembali di balut dengan perban.
''Nah sudah selesai,'' ucap Briel, menatap punggung putih mulus tersebut.
Lalu secara tiba-tiba, dia pun mengecup punggung Axela dengan begitu lembut, membuat gadis remaja itu terkejut seketika, merasakan getaran yang membuat jantungnya berdetak dengan begitu kencang'nya.
__ADS_1
__________---------___________