Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Jatah Malam ini


__ADS_3

''Apa maksudmu? apa kamu ingin pulang ke rumah ibu?'' tanya Leo mengerutkan keningnya.


Adel mengangguk lalu menangis tersedu, saat ini dirinya sungguh merindukan sang ibu, andai saja jarak dari rumah dirinya tidak terlalu jauh mungkin saja sekarang dirinya sudah pulang sendiri tanpa meminta untuk di antaranya.


''Kenapa? apa kamu sedang sangat merindukan dia? atau karena kamu marah sama aku terus mendadak ingin pulang?'' tanya Leo lemah lembut.


Adel hanya terdiam, entah mengapa dadanya terasa sesak sehingga dia merasa sulit untuk berucap, alhasil dia hanya terisak dengan mengusap lelehan air mata yang kian deras membasahi pipinya.


''Sayang... tatap mataku. Apa aku tampak seperti seorang playboy? apakah aku terlihat seperti seorang laki-laki yang suka bermain wanita?'' tanya Leo, menatap tajam.


Adel hanya terdiam.


''Dengarkan aku, aku akan menjelaskan semuanya padamu sekarang,'' Leo pun menceritakan semua yang telah terjadi antara dirinya dan Angel, dari awal sampai akhir tak ada satupun yang terlewatkan dan tak ada yang di tutupi sedikitpun.


''Begitulah... kejadian yang sebenarnya, kamu itu salah paham, aku sama sekali tidak berniat untuk memeluk dia, apalagi menyesali keputusan ku, kejadian itu terjadi begitu saja tanpa aku sadari,'' jelas Leo dengan suara yang terdengar lembut dan penuh kasih sayang.


''Benar kamu tidak sedang berbohong?'' tanya Adel mencoba percaya.


Leo mengangguk lalu mengusap lelehan air mata yang terus mengalir dengan deras nya, setelah itu dia pun memeluk tubuh sang istri dan mengusap punggungnya.


''Kenapa kamu tidak memecat dia saja?'' Adel melepaskan pelukannya.


''Sebenarnya aku sangat ingin melakukannya, aku masih membutuhkan bantuan dia untuk mengelola perusahaan, selama ini dia bekerja cukup lama dengan mendiang ibuku, dan sudah tahu banyak tentang perusahaan, sementara aku? aku sama sekali tidak tahu apapun, karena selama ini aku tidak pernah membantu ibu mengelola perusahaan yang di pimpinnya sedikit pun,'' jelas Leo, menunduk merasa menyesal.


''Memangnya selama ini kamu kemana saja? atau apakah kamu punya pekerjaan lain?'' tanya Adel penasaran.


Leo pun terkejut seketika, wajahnya berubah pucat pasi, belum siap untuk memberitahu segalanya, dia pun mencoba mengalihkan pembicaraan.


''O ya...! aku akan menyuruh Ryan untuk menjemput ibu kesini,'' ucap Leo mencoba untuk tenang.


''Beneran?'' Adel tersenyum senang berhasil teralihkan.


Leo mengangguk lalu tersenyum.


''Kapan ibu akan di jemput?''


''Kalau kamu mau, sekarang juga aku bisa menugaskan Ryan untuk segera menjemput ibu.''


''Jangan sekarang, sekarang sudah larut, kasian Ryan, Besok saja gimana?''


''Ko kamu kasian sama Ryan? kan aku menggaji dia, gajinya besar pula, kenapa harus kasian segala? kan itu memang sudah tugasnya dia, mengikuti semua perintah aku,'' jawab Leo kesal.


''Ko gitu aja marah sih? apa salah kalau aku kasihan sama orang?'' jawab Adel yang juga terlihat kesal.


''Kamu juga tadi marah sama aku? kamu cemburu kan sama Angel?'' ledek Leo dengan tersenyum.


''Cemburu apaan? enggak ko, aku hanya tidak suka saja kamu peluk-peluk'kan sama wanita lain?''


jawab Adel mengelak.

__ADS_1


''Itu namanya cemburu, Adelia Pasha...''


Adel terdiam dan sedikit menunduk merasa malu.


''Hayo, wajahmu merah tuh? beneran cemburu kan?'' masih dengan nada meledek menunjuk satu jarinya ke arah wajah sang istri.


''Memangnya kalau ia kenapa?'' jawab Adel membaringkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


''Hey... Adelia Fasya? beneran cemburu kan? hey... hey...! aku senang lho ngeliat kamu cemburu, itu tandanya kamu sudah mulai bucin sama suami tampan'mu ini. Iya kan... Iya kan...?'' goda Leo sedikit menarik selimut yang menutupi bagian kepala Adelia.


''Apaan sih, aku ngantuk mau tidur,'' menarik kembali selimut.


''Ya sudah, aku juga ngantuk, mau tidur,'' jawab Leo, memasukan tubuhnya ke dalam selimut, lalu memeluk tubuh sang istri dari arah belakang.


''Sana akh, mandi dulu, kamu kan seharian kerja, pasti tubuhmu bau,'' ejek Adel tanpa berbalik seraya menyingkirkan lengan tubuh sang suami yang melingkar di perut dirinya.


Leo bangkit dan duduk seketika, mencium ketiaknya dan sedikit mendengus nya.


''Nggak bau Akh, minyak wangi aku tuh mahal tau, dan badanku ini nggak bakalan bau meski tidak mandi dalam waktu satu Minggu sekali pun,'' jawabnya lalu kembali berbaring.


''Tetap saja, mandi dulu sana, baju kamu kotor.''


''Iya... iya...! tapi ingat jangan tidur duluan ya,'' bangkit dan hendak berdiri.


''Memang kenapa?'' Adel memutar badan dan menatap wajah sang suami.


''Apaan sih?'' Adel kembali berbalik membelakangi Leo, lalu menutup kepala dengan selimut.


''Adel... Adelia... Jatah ya...!'' goda Leo sembari menarik-narik pelan selimut.


Sang istri hanya terdiam tidak menjawab, dan Leo terus melakukan hal yang sama, membuat Adelia menyerah, dan menjawab.


''Iya... iya... cepat mandi dulu, tapi mandinya jangan kayak anak perawan, sampai berjam-jam," jawab Adelia berbicara dari dalam selimut.


''Yeesss...'' ucap Leo lalu segara turun dan berlari menuju kamar mandi.


30 menit kemudian Leo pun keluar dari kamar mandi, dengan hanya mengenakan handuk putih yang membalut bagian bawah tubuhnya, namun tanpa di sangat sang istri malah sudah tertidur pulas dengan selimut yang sudah terlihat tidak beraturan, mulutnya sedikit menganga dengan suara dengkuran kecil keluar dari dalam mulutnya.


Leo tersenyum, dia tidak marah atau merasa kecewa sama sekali karena telah gagal mendapatkan jatah malam ini, yang dia lakukan adalah menghampiri sang istri lalu merapikan selimut dan menutup tubuh ramping istri tercintanya tersebut.


Setelah itu dia segera berpakaian dan berbaring di samping Adelia, dan melingkarkan lengannya di perut istri tercintanya itu.


___--------___


Keesokan harinya.


Pagi hari Leonardo sudah siap untuk berangkat ke kantor, dia sudah berpakaian rapi dan terlihat sedang bercermin, merapikan kerah kemeja berwarna putih dan memasangkan dasinya.


Hingga tidak lama kemudian ponselnya pun berbunyi, Leo segera meraih dan mengangkat telpon.

__ADS_1


''Halo... ini siapa?'' tanya Leo tanpa basa basi.


''Apa kabar Leonardo?


bagaimana dengan


kejutan yang aku


kirimkan? apa kamu


suka?''


''Brengsek... siapa kamu? apakah kamu orang yang telah membunuh ibuku?''


''Kenapa bertanya, jika


kamu tahu jawabannya?


ingat Leo, nyawa di bayar


nyawa, ha... ha... ha...''


''Alex...? aku tahu ini kamu Diaman kau brengsek?'' (berteriak)


''Coba cari aku sampai


kalau bisa, dasar


pecundang, ha...ha...ha..''


''Brengsek kamu Alex...''


Lalu tiba-tiba saja Adelia membuka pintu kamar dengan kasar, menatap ke arah Leo dengan tatapan tajam.


''Siapa itu Alex? kenapa kamu seperti marah sekali dengan dia?''


Leo terkejut dan menutup telpon seketika.


______________-------______________


Hai Reader, sambil menunggu Author up episode selanjutnya,silahkan mampir dulu di karya sahabat saya, dengan nama pena yang sama, yaitu mama Reni.



Semoga kalian semua suka.


Terima kasih...


***

__ADS_1


__ADS_2