
Tiga hari sebelumnya.
Gabriel meringkuk di dalam bagasi mobil, tubuhnya terasa remuk dan bahkan tidak dapat digerakkan, meski hatinya masih tersadar, namun, matanya terasa sangat berat untuk di buka.
Dia pasrah dengan apa yang menimpa dirinya saat ini, dia berfikir, mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan atas seluruh kejahatan yang telah dia lakukan selama ini, hanya saja dia sangat menyesal karena tidak bisa berjumpa untuk terakhir kalinya dengan wanita yang dicintainya.
Terutama, dia sangat menyesal karena tidak bisa menemani Axela melahirkan, dan membesarkan putranya, air mata pun perlahan turun dari ujung kelopak matanya yang terpejam.
'Maafkan aku, Al,' (Batin Gabriel)
Lalu tiba-tiba saja, seseorang membuka bagasi, meraih tubuhnya perlahan, dan mengeluarkan Gabriel dari dalam bagasi mobil, entah siapa sebenarnya orang yang membawanya itu, tapi dia sangat bersyukur, karena dirinya masih ada kesempatan untuk hidup dan bertemu kembali dengan Axela.
🌹🌹
Alex melajukan mobilnya dengan begitu kencang, dengan tubuh Gabriel yang ada di belakang, meringkuk bersimbah darah dengan wajah yang tidak dapat dikenali sama sekali, karena wajah Briel benar-benar hancur, penuh dengan luka.
Sudah beberapa hari ini dia memang mengintai sendiri tempat yang biasa digunakan Revan untuk berkumpul dengan anak buahnya, sampai akhirnya, malam ini, dia melihat anak buah Revan, mambawa tubuh seorang pria dimasukan ke dalam mobil.
Merasa iba, Alex pun bermaksud menyelamatkan pria tersebut, tanpa dia sadari bahwa pria itu adalah Gabriel, pria yang menjadi kekasih putri dari sahabatnya.
Alex melajukan mobilnya dengan begitu kencang, berharap bahwa dia tidak terlambat, dan nyawa pria yang dia bawa akan terselamatkan, sampai akhirnya, dia pun tiba di Rumah Sakit. Rumah Sakit yang sama dimana Axela di rawat juga.
Alex segera memanggil perawat, dan tidak lama kemudian, tubuh Gabriel pun di bawa ke ruangan Unit Gawat Darurat, untuk segera di beri pengobatan.
🌹🌹
Axela menatap dengan seksama, pria yang terlihat memejamkan mata dengan berbagai alat bantu yang terpasang si tubuhnya, serta wajah yang penuh dengan luka lebam, seperti'nya pria tersebut akan mendapatkan operasi besar, melintas tidak jauh dari hadapannya, dengan dua orang perawat yang mendorong ranjang tempat di berbaring.
''Gabriel ...?'' lirihnya pelan.
Pria itu benar-benar mirip dengan kekasihnya, kekasih yang sudah beberapa hari ini tidak ditemuinya, wajah Briel yang penuh dengan memar, membuat wajahnya terlihat sedikit berbeda, membuat Al pun menepis pikirannya, bahwa pria itu bukanlah dia.
'Akh, mana mungkin itu dia? wajahnya sedikit berbeda, meski agak mirip sedikit,' (Batin Axela)
__ADS_1
Dia pun mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
''Ada apa, Al?'' tanya Amora menghentikan langkah kakinya.
''Nggak, ko. Gak apa-apa,'' jawab Al, mengalihkan pandangan ke arah depan.
Amora pun melanjutkan langkah kakinya, berjalan dengan mendorong kursi roda, menuju taman yang berada di luar Rumah Sakit, taman hijau membentang dengan pepohonan rindang membuat udara yang terhirup terasa sangat segar.
Mereka pun sengaja memilih berada di bawah pohon besar, dan bersantai di sana. Al masih duduk di kursi roda, sementara Amora, dia duduk di bangku yang memang sudah dari awal berada di sana.
''Udaranya segar sekali?'' ucap Amora tersenyum menatap ke sekitar.
''Iya, aku senang sekali, akhirnya bisa menghirup udara segar ini, berada di dalam sungguh membuat napas aku aku terasa sesak,'' jawab Al tanpa menoleh.
''Al, apakah kekasih'mu sudah datang kemari?''
Al menggelangkan kepalanya
''Entahlah, aku juga tidak tahu, padahal sebelumnya, dia bersikukuh untuk bertemu dengan aku, bahkan berdiri di tengah hujan, di tengah malam juga, tapi sekarang, di saat aku benar-benar sedang membutuhkan dia, dia sama sekali tidak pernah datang sekalipun,'' Al menunduk merasakan kesedihan.
''Mungkin dia sakit? atau sedang ada keperluan penting, sehingga dia tidak sempat datang kemari.''
Al pun tersenyum getir, merasakan rasa sakit yang kini terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
''Apa El sudah bercerita tentang kondisi aku saat ini?''
Amora menganggukkan kepalanya.
''Aku hamil, di usiaku yang baru saja akan beranjak 18 tahun, aku sungguh merasa hancur sekarang, masa depan aku pun suram, bahkan cita-cita aku pun kandas.''
''Kenapa seperti itu? di Amerika sana, hal seperti ini sudah biasa terjadi, bahkan tidak sedikit dari mereka yang melahirkan anak meski tanpa menikah, dan mereka masih bisa sukses dan meraih cita-cita yang mereka inginkan, kamu jangan berkecil hati seperti itu, Al.''
''Tapi kita bukan berada di sana, kita berada di negara yang menjunjung tinggi norma-norma agama dan tata Krama, bagi kebanyakan orang di sini, hamil di luar nikah adalah sebuah Aib, apalagi sampai melahirkan tanpa menikah terlebih dahulu, mereka akan menganggap bayi yang dilahirkan tanpa dosa itu sebagai anak haram, dan itu akan menimpa aku sekarang, orang-orang anak mencemooh aku, dan menyebut anakku sebagai anak haram nantinya,'' lirih Al, merasakan kegetiran.
__ADS_1
''Hey, jangan bicara seperti itu, bayi yang sedang kamu kandung ini sama sekali bukan anak haram, gak ada yang namanya anak haram, semua bayi yang dilahirkan itu suci, dan dia tidak bisa memilih dari rahim siapa dia ingin dilahirkan, apabila ada yang harus di salahkan, ya kedua orangtuanya ...! Eu ...! Maaf, aku tidak bermaksud menyalahkan kamu,'' Amora menunduk menyesal mengatakan hal itu.
''Nggak ko, gak apa-apa, ucapan kamu memang benar, aku yang salah karena telah melakukan itu di usia muda dan gak berfikir panjang dulu sebelum aku melakukannya,'' ucap Al tersenyum getir.
''Kamu jangan khawatir, kekasihmu pasti akan datang dan segera menikahi'mu, dan bayi kamu ini akan lahir dengan di dampingi oleh ayahnya, aku yakin, karena aku tahu Gabriel sangat mencintai dirimu, aku bisa melihat itu dari sorot matanya, waktu itu?''
''Benarkah ...? dia akan benar-benar datang, kan?'' ujar Al menatap Amora dengan tatapan mata sayu dengan kelopaknya yang pernah penuh dengan air mata kesedihan.
Melihat hal tersebut, Amora pun bangkit lalu memeluk tubuh sahabatnya, mengusap punggungnya, mencoba untuk menenangkan, dan memberi dukungan.
''Tentu saja, Ra. Aku yakin sekali, jadi kamu gak usah sedih lagi ya, kasian keluarga kamu, kasian El juga, dia sangat terpukul dan terpuruk melihat kamu seperti ini, dia bahkan tidak makan beberapa hari karena terus memikirkan kamu.''
''Benarkah ...?'' Al melepaskan pelukan Amora.
Amora menganggukkan kepalanya.
''Kasian dia, dari semua orang yang ada, hanya dia yang mengerti apa yang aku rasakan, sedikitpun dia tidak pernah menyalahkan aku, ataupun memarahi aku setelah semua kesalahan yang telah aku lakukan.''
''Tentu saja, karena dia saudara kembar kamu, dan dia sangat menyayangi kamu lebih dari apapun.'' ucap Amora, mengingat sosok Axel sang kekasih.
Keduanya pun terdiam sejenak.
Karena sinar matahari yang semakin terik, Amora pun memutuskan untuk membawa Al kembali ke dalam untuk beristirahat, perlahan dia mulai mendorong kursi roda dan masuk kedalam Rumah Sakit.
Selama di perjalanan menuju ruangan, Al sama sekali tidak mengatakan apapun, matanya menatap lurus ke depan dengan wajah yang terlihat datar.
Sampai akhirnya, pandangan matanya tertuju pada seseorang pasien yang baru saja keluar dari ruangan operasi, pria yang tadi dia lihat sewaktu dia akan ke taman, namun kali ini, wajah pria itu terlihat begitu jelas, karena ranjang tempatnya berbaring, melintas tepat di hadapannya.
''Gabriel ...?'' Al berucap pelan.-
_______________------------______________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️
__ADS_1