
Dengan jantung yang hampir copot karena ketakutan, Al pun memberanikan diri menoleh ke arah belakang, dengan berdiri secara perlahan, dan ponsel yang sudah berada di dalam genggamannya, Al, pun memutar kepalanya sedikit demi sedikit.
Kemudian ...
''Aa ...''
Axela berteriak kencang, namun dengan segera, tangan pria yang berada di belakangnya tersebut menutup mulutnya dengan sedikit mendorong tubuh Al ke arah belakang, sehingga tubuh langsing seorang Axela menempel di tembok, dan berada sangat dekat dengan pria yang tadi mengikutinya, tubuh mereka bahkan sedikit bersentuhan, dengan mata yang saling bertemu.
''Al, ini aku. Gabriel ...!'' Briel berucap dengan sedikit berbisik.
Al pun mengangguk, setelah itu Briel melepaskan dekapan tangannya, yang tadi menutup mulut Axela.
''Gabriel ...?'' lirih Al dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Dan sedetik kemudian ...
Grep ...
Al memeluk tubuh pria yang sangat di rindukannya.
''Kamu kemana saja? aku sungguh merindukanmu, hiks hiks hiks ...!'' Al menangis sesenggukan di dalam pelukan Gabriel seolah menumpahkan kesedihan.
''Maafkan aku, karena telah membuatmu menunggu lama, Al.''
''Apa kamu tahu, aku baru saja mengalami kejadian yang buruk, aku hampir saja mati, dan orang pertama yang aku ingat saat mengalami hal itu adalah kamu, aku takut mati duluan sebelum sempat bertemu dengan'mu, Briel ..."
'Maafkan aku Al, semua itu gara-gara aku, dan aku juga yang mengarahkan pistol tepat di wajahmu kemarin, aku sungguh menyesal ...' ( Batin Gabriel )
Briel semakin mempererat pelukannya, dengan wajah yang di tenggelamkan di leher kekasihnya tersebut, merasakan penyesalan yang teramat dalam.
''Bagaimana keadaan ayah kamu, Al ...?"
"Dia sudah baik-baik saja, Tapi, dari mana kamu tahu papi terluka?" Axela melepaskan pelukannya.
"Eu... Anu ...! Aku tahu karena aku terus mengikuti'mu sebenarnya ...!" Briel sedikit terbata-bata.
"Oh, begitu ...? Aku kira---"
Belum sempat Axela meneruskan ucapannya, bibir mungilnya sudah di bungkam oleh bibir sensual Gabriel, Axela pun memejamkan mata menerima sentuhan hangat dan kenyal bibir kekasihnya tersebut, dia bahkan melingkarkan lengan di leher Gabriel, seolah meluapkan kerinduan yang selama ini mereka pendam.
Keduanya saling berputar dan menyesap secara perlahan, saling menautkan bibir masing-masing dengan mata yang terpejam.
'I Love You ...'
Lirih Gabriel pelan.
__ADS_1
'I Love You to ...'
Jawab Axela, menatap wajah sang kekasih dengan tatapan penuh rasa cinta, dan ciuman itu pun kembali mendarat di bibir masing-masing. Bahkan kali ini lebih buas hingga nafas keduanya pun seolah memburu sesuatu yang lain.
''Cukup, aku harus pulang sekarang,'' Al melepaskan ciumannya.
"Mau aku antar pulang?"
Al mengangguk pelan.
Keduanya pun berjalan secara beriringan, dengan tangan yang saling ditautkan, berpegangan dengan begitu eratnya seolah tidak ingin di pisahkan, mata mereka bahkan sesekali saling melirik dengan senyuman yang mengembang dari bibir keduanya, merasakan kebahagian.
''Kamu ke sini, naik apa?'' tanya Al, setelah mereka sampai di depan Rumah Sakit.
''Itu ...?'' Briel menunjuk, motor Ninja kawasaki berwarna hitam.
''Ya udah aku naik motor kamu saja, mobil abang'ku, biar nanti di ambil oleh adikku.''
''Oke ...!"
Briel semakin mempererat genggaman tangannya, membawa kekasihnya ke tempat di mana motornya berada, setelah sampai di sana, Briel pun segera memasangkan helm di kepala Axela.
Wajah Axela terlihat begitu ceria, senyum kecilnya bahkan terus mengembang dari bibir tipis'nya, sorotan matanya pun terlihat penuh harapan, untuk sesaat, dia dapat melupakan kejadian buruk yang baru saja menimpa keluarganya.
Al, mulai menaiki motor milik kekasihnya tersebut, melingkarkan tangannya di perut Gabriel dengan kepala yang di letakan di pundak pria itu, dan motor pun mulai melaju pelan keluar dari area parkiran, hingga akhirnya, melesat kencang di jalanan.
***
Briel berhenti tepat di depan pintu pagar rumah besar Axela, dan Axela pun turun dari motor.
''Masuk dulu ya.''
''Gak usah, aku antar kamu sampai di sini saja, ya ...!'' jawab Gabriel, merasa takut masuk ke dalam sana, melihat ada banyak penjaga yang berjaga di setiap sudut halaman.
''Aku sendiri di rumah, dan aku masih takut kalau harus sendirian, maukah kamu menemani aku malam ini, hanya sampai hari mulai terang, setelah itu aku juga mau kembali Rumah Sakit, ya ...?'' lirih Axela dengan tatapan mata penuh rasa harap.
''Hmm ...! gimana ya ...? apa nggak apa-apa kita hanya berdua saja di rumah?''
''Gak berdua saja, lihat, di luar banyak penjaga, pembantuku juga ada, jadi kamu nggak usah khawatir, aku hanya tidak ingin berpisah dengan'mu, please ...!" Al seolah mengiba.
"Baiklah kalau begitu."
Axela tersenyum senang, dia segera membuka pintu pagar, dan mengabaikan satpam yang sedang tertidur lelap di dalam pos, yang terletak di balik pagar besar dan tinggi tersebut.
***
__ADS_1
Ceklek ...
Axela pun membuka pintu rumahnya, masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Gabriel di belakangnya. Suasana hening dan sepi terasa kental di dalam sana, karena mereka hanya berdua di dalam sana, bi Surti pembantu rumah tangga nya pun pasti sudah tertidur.
"Kita ke lantai dua yu, aku mau mandi dan ganti baju dulu."
Briel mengangguk dan mengikuti Al dari belakang.
"Keluargamu semuanya ada di Rumah Sakit?"
"Iya, aku baru akan kembali ke sana besok, badanku letih sekali, itu sebabnya aku pulang," jawab Al seraya berjalan di tangga.
Briel pun mengangguk, seraya menatap ke sekeliling, mengingat kembali kejadian kemarin saat dirinya memasuki rumah itu sebagai pembunuh, dan malam ini dia kembali ke sana sebagai kekasih pemilik rumah, sungguh tidak tahu diri. Batin Briel.
Tibalah Al di depan pintu kamarnya, dia pun membuka pintu lalu masuk ke dalamnya, masih dengan di ikuti oleh Briel di belakangnya, yang juga ikut masuk ke dalam.
"Kamu tunggu di sini ya, aku mandi dulu."
Briel mengangguk, menatap tubuh kekasih'nya yang masuk ke dalam kamar mandi yang memang terletak di dalam kamar.
Mata Briel berkeliling menatap seisi kamar bernuansa ungu dan juga tertata rapi dengan berbagai pernak pernik khas seorang gadis kaya.
Matanya pun tiba-tiba tertuju pada sebuah diary yang tergeletak di atas meja belajar, dia pun menghampiri meja dan meraih buku bersampul ungu tersebut, membuka tiap lebar kertas di dalamnya, lalu membacanya di dalam hati.
Ceklek
Axela keluar dari dalam kamar mandi, dia terkejut saat melihat kekasihnya tersebut sedang membaca buku harian miliknya, Al pun segera berlari dan merebut buku tersebut dengan sedikit kasar.
"Gabriel, gak sopan banget sih, baca buku diary orang ..." Al mengerucutkan bibirnya.
"Apa kamu sesedih itu saat aku tinggalkan?" Briel dengan sedikit tersenyum, berdiri sangat dekat.
"Nggak, siapa bilang?" wajah Al terlihat memerah.
"Aku sudah baca semuanya."
"Serius ...?" Al membulatkan bola matanya.
Gabriel mengangguk, lalu memajukan langkahnya, hingga kini keduanya berada sangat dekat, Briel bahkan bisa mencium aroma wangi tubuh Axela yang baru saja mandi, rambutnya yang tergerai dan basah membuat gadis itu terlihat begitu menggoda.
"Aku merindukanmu, Al ..." Briel mendekatkan wajahnya.
"Aku juga merindukanmu, Gabriel ..."
Keduanya pun saling mendekatkan bibir masing-masing.
__ADS_1
__________----------__________