
Keesokan harinya.
Axel sudah menunggu di luar Apartemen Amora, tempat yang sama sewaktu kemarin dirinya mengantarkan gadis itu, dia pun meraih ponsel dan hendak menelpon, namun gerakannya terhenti saat mengingat bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki nomor ponsel Amora.
'Sial, udah jam segini belum nongol lagi tuh jadi cewe, bisa-bisa telat nanti nyampe sekolah, mana gue lupa minta nomor ponselnya lagi.'
Batin Axel.
Dia pun keluar dari dalam mobil, duduk di bagian depan mobil dengan mengenakan kaca mata hitam serta jaket kulit berwarna hitam pula.
Matanya tampak berkeliling menatap ke arah sekitar mencari sosok yang sedang dia tunggu. Semakin cemas karena takut terlambat masuk sekolah, Axel pun memutuskan untuk masuk kedalam Apartemen, untuk mencari sendiri sosok Amora.
Axel, dia pun berjalan ke arah pintu masuk gedung Apartemen, sampai akhirnya dia melihat Amora berjalan keluar dari dalam sana, berjalan dengan tersenyum menatap kearahnya lalu melambaikan tangan.
Entah mengapa wajah gadis itu terlihat begitu cantik di mata Axel, rambutnya terurai panjang sedikit tersapu angin, di tambah tingginya yang semampai, serta wajah polos tanpa make up sedikitpun seolah kecantikan yang terpancar begitu alami tanpa di buat-buat seperti kebanyakan wanita.
''Lama sekali si?'' Axel mencoba menyembunyikan kegugupannya.
''Why didn't you call me, Axel?"
(Kenapa tidak menelpon aku, Axel.)
''Gimana mau nelpon, gue gak tau nomor Lo, Ra.''
''Ok, I'm sorry for making you wait so long."
(Aku minta maaf telah membuat kamu menunggu lama.)
''Ya sudah ayo kita berangkat sekarang, udah terlambat nih,'' Axel berjalan di depan Amora, yang langsung di susul dengan berlari oleh gadis cantik itu.
''Tunggu, El...!'' teriak Amora mencoba menyesuaikan langkah kakinya.
Axel tidak menanggapi, dia terus berjalan hingga akhirnya sampai di depan mobil, dan keduanya pun masuk kedalam'nya. Kemudian mobil sport berwarna hitam itupun mulai berjalan secara perlahan.
***
''Selamat pagi anak-anak,'' Ibu Emillia menyapa anak didik'nya di depan kelas.
''Selamat pagi, Bu.'' Seluruh murid menjawab secara serentak.
Ibu Emilia menatap kursi yang biasa di duduki oleh Lucky, dan dia sama sekali tidak melihat dia berada di sana.
''Apa kalian tahu kemana Lucky? apa dia tidak masuk sekolah?'' tanya Ibu Emillia.
__ADS_1
''Katanya dia sakit, Bu. Apa Lucky tidak memberi kabar sama ibu?'' jawab salah satu siswa.
Ibu Emillia menggelengkan kepalanya.
Kini hati ibu Emillia tiba-tiba dilanda rasa cemas, apa mungkin dia terlalu keras kepada Lucky waktu itu, hingga dia sampai tidak masuk sekolah? padahal niat Lucky baik, yaitu ingin menolong dirinya yang saat itu sedang dalam keadaan sakit parah, entah mengapa ada rasa bersalah yang tiba-tiba saja menggerogoti hatinya saat ini.
''Baiklah, kita mulai pelajaran pagi ini,'' Ibu Emillia akhirnya memulai pelajaran.
***
Setelah pulang sekolah, akhirnya Emillia memutuskan untuk mendatangi rumah anak didiknya yang bernama Lucky, berbekal alamat yang dia minta dari salah satu temannya, dia pun sampai di sana.
Emillia, dia berdiri di depan gerbang tinggi dengan pos satpam yang bertengger di depannya, menatap ke arah pagar dengan wajah yang terlihat ragu-ragu untuk memencet bel.
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi klakson mobil yang mengejutkan dirinya dari arah belakang.
Tut
Tut
Suara Klakson mobil.
Dia pun terkejut dan menoleh ke arah mobil yang perlahan mulai berhenti tepat di belakang tubuhnya, penasaran dia menyipitkan matanya untuk melihat dengan seksama siapa orang yang berada di dalam mobil tersebut.
Benar, Lucky keluar dari dalam mobil dengan mengenakan seram sekolah'nya di tambah jaket jeans abu yang menutup seragam putih'nya.
''Kamu...? bukannya tadi kamu tidak sekolah? ko pake seragam...?''
Lucky tidak menjawab pertanyaan wali kelasnya tersebut, dia meraih pergelangan tangan Emillia lalu menariknya untuk masuk ke dalam mobil, dengan wajah Emillia yang terlihat heran serta alis yang saling ditautkan.
Emillia duduk di kursi depan dan Lucky pun menyusul, masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi depan kemudi.
''Apa kamu bolos sekolah? Luck?''
Lucky masih terdiam, dia menyalakan mobil dan mulai berjalan secara perlahan meninggalkan rumahnya.
''Lucky, kenapa tidak menjawab pertanyaan ibu?''
''Nanti aku jelasin, Bu. Sekarang kita pergi dulu dari sini, jangan sampai ibu aku melihat ibu dan tau bahwa aku bolos sekolah,'' jawab Lucky dengan tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke depan.
''Benarkan, kamu bolos sekolah.''
Lucky kembali terdiam.
__ADS_1
Kemudian mereka pun sampai di tepi pantai, Lucky segera menghentikan mobilnya lalu keluar, dan di susul oleh ibu Emillia kemudian.
Keduanya duduk di bagian depan mobil dengan mata yang lurus menatap ke depan, melayangkan tatapan kosong ke arah lautan.
''Ibu minta maaf, karena terlalu kasar kemarin, padahal niat kamu baik untuk menolong ibu, kan? andai saja tidak ada kamu, mungkin ibu sudah wafat hari itu juga.''
''Apa ibu sudah baik-baik saja sekarang?''
Lucky menoleh, menatap wajah Emillia yang terlihat begitu teduh dan anggun berbalut stelan jas berwarna hitam, rambut panjangnya tampak bergoyang tersapu angin pantai.
''Iya, ibu sudah baik-baik saja sekarang, terima kasih, ya. Ibu lupa mengatakan itu kemarin, ibu malah mengusir kamu begitu saja,'' Emillia menoleh, dan menatap wajah tampan Lucky yang saat ini sedang menatap lekat wajahnya.
Keduanya pun gugup seketika, saat tatapan mereka bertemu di satu titik, Emillia mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan kegugupannya, entah mengapa hatinya terasa sedikit bergetar sekarang.
Lain halnya dengan Lucky, remaja berusia 15 tahun itu, masih menatap wajah cantik wali kelasnya, bahkan kali ini semakin memandang lekat wajah cantik Emillia, membuat perempuan yang berprofesi sebagai guru itu semakin gugup dengan wajah yang mulai memerah.
''Jangan liatin ibu seperti itu,'' Emillia sedikit tersenyum.
''Aku suka sama ibu,'' lirih Lucky secara tiba-tiba.
''Apa...?''
Emillia terhenyak dengan jantung yang semakin berdebar, dia menoleh ke arah remaja tampan yang bernama lengkap Lucky Pratama tersebut.
''Kamu bercanda...?'' Emillia tertawa .
''Tidak, Bu. Aku menyukai ibu, dan aku juga mencintai ibu, perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya kepada perempuan manapun, sungguh...!''
Emillia terdiam, matanya masih menatap wajah Lucky yang entah mengapa seperti memancarkan ketulusan.
''Apa kamu tahu umur ibu berapa?''
''Aku tidak perduli?''
''Akan terasa aneh jika seorang guru memacari anak didiknya sendiri, dengan umur yang terpaut cukup jauh.''
''Aku juga tidak perduli.''
''Lucky....!'' Lirih Emillia.
''Aku tidak peduli dengan perbedaan umur kita, aku juga tidak perduli dengan apa yang akan orang pikirkan nantinya, cinta tidak pernah memilih kepada siapa dia akan berlabuh, dan cinta juga tidak pernah salah meskipun dia berlabuh di tempat yang salah, aku memang masih remaja, tapi rasa cintaku tulus kepada ibu, sejak pertemuan pertama kita, hati aku sudah merasakan getaran cinta itu, dan aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama, meskipun aku tidak yakin pada awalnya.''
_________---------________
__ADS_1