Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Pergi


__ADS_3

Lucky perlahan mulai berbalik, mengurungkan niatnya untuk pulang, dia pun berjalan kembali ke arah panggung dengan wajah datar dan tatapan mata yang terlihat dingin, diiringi riuhnya tepuk tangan dan teriakan para siswa-siswi.


"TERIMA ..."


"TERIMA ..."


Teriak seluruh siswa secara serentak.


Lucky sama sekali tidak berkutik mendengar semua itu, wajahnya masih terlihat datar, bahkan saat kakinya menaiki anak tangga, tetap saja wajah seorang Lucky masih menjunjukan ekspresi yang sama. Sampai akhirnya, dia pun sampai di atas panggung, berdiri di samping Ayu lalu meraih pengeras suara yang di pegang-nya.


Ayu terlihat senang, melihat Lucky berdiri di sampingnya sungguh membuatnya merasa bahagia, dan dia pun berharap, Lucky Sudi menerima cintanya kali ini.


''Maaf untuk kawan-kawan, karena kami berdua telah menggangu acara ini, saya tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini. Untuk kamu Ayu, saya memaafkan kamu atas apa yang telah kamu lakukan.'' Lucky menatap wajah Ayu dengan perasaan malas sebenarnya.


''JAWABANNYA GIMANA, LUCKY ...?'' Teriak salah satu siswa yang berada di bawah panggung.


''Apa perlu di jawab sekarang juga?'' tanya Lucky menatap ke arah kerumunan.


''TERIMA ...''


''TERIMA ...''


''TERIMA ...''


Seluruh siswa kembali meneriakan kata tersebut membuat Lucky tidak berkutik dan bingung harus mengatakan apa, sementara semua mata tertuju padanya sekarang.


Akh ... Sungguh, hati Lucky benar-benar dilanda sebuah dilema, apakah dia harus menerima cinta Ayu atau menolaknya, sementara, meskipun dia membenci siswi bernama Ayu tersebut, dia sama sekali tidak ingin mempermalukan dia di depan orang banyak.


Mempermalukan wanita membuatnya teringat akan kakak kesayangannya, Axela. Lucky terlihat menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya perlahan, mencoba menata perasaannya terlebih dahulu, sebelum di mulai menjawab.


''Baiklah, Ayu. Aku menerima kamu ...'' jawab Lucky singkat yang langsung di sambar dengan pelukan oleh Ayu, diiringi sorak-sorai semua yang ada di bawah sana.

__ADS_1


''Makasih, Lucky. Karena kamu tidak menolak aku,'' bisik ayu tersenyum senang.


Merasa tidak nyaman, Lucky pun melepaskan pelukan gadis itu dengan tersenyum malas, lalu memberikan kembali pengeras suara tersebut kepada Ayu, dan dia pun kembali turun dari atas panggung, dengan Ayu yang mengekor dari arah belakang, seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


''Lucky, tunggu,'' teriak Ayu berlari mengejar.


Lucky mengabaikan dan semakin mempercepat langkah kakinya, membuat Ayu semakin berlari mengejar sampai akhirnya dia pun berhasil lalu langsung menarik pergelangan tangan Lucky.


''Kamu mau kemana, Luck ...?'' tanya Ayu, menggenggam erat pergelangan tangan Lucky.


''Lepasin gue, udah untung gue gak mempermalukan Lo di depan mereka semua, ya ...'' jawab Lucky setengah berbisik.


''Gue tau Lo bukan tipe cowok yang suka mempermalukan cewek, apa lagi di depan orang banyak. Gue cuma mau ngucapin terima kasih lo udah maafin gue dan nerima gue jadi pacar Lo, gue benar-benar seneng Luck ...'' ucap Ayu dengan mata yang berbinar.


''Gue terpaksa nerima, Lo ...'' jawab Lucky, masih setengah berbisik.


''Gak apa-apa, meskipun Lo terpaksa pada awalnya, tapi gue yakin, lama-lama Lo akan mulai mencintai gue.''


Meski sedikit kecewa dengan apa yang baru saja dia dengar, namun, sedikitpun tidak merusak kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh seorang Ayu, hatinya masih saja berbunga-bunga, karena penantiannya selama tiga tahun tidaklah sia-sia, saat ini siswa tampan, populer dan baru saja menerima penghargaan itu, telah menjadi kekasihnya, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


🌹🌹


Lucky mendengus kesal dengan mengendarai mobilnya, ada sedikit rasa sesal yang kini terselip di hati seorang Lucky.


''Sial, kenapa tadi gue nerima dia segala sih? dasar bodoh ...'' gerutu Lucky, menatap ke arah depan.


Dia pun mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan, pandangannya hanya menatap lurus ke depan tanpa tahu arah mana yang sebenarnya sedang dia tuju, hingga tanpa sadar dia pun berhenti di tepi jalan, tempat dimana dia biasa memarkir mobil, tatkala dirinya sedang berkunjung ke rumah mantan kekasihnya, Emillia.


''Kenapa gue bisa berakhir di sini ...'' tanya Lucky pada diri sendiri, menatap ke arah luar.


Keadaan tepi jalan terlihat sedikit ramai karena sepertinya ada salah satu warga yang akan pindah rumah, karena tidak jauh dari tempatnya memarkir mobi, terparkir sebuah mobil pick up yang sudah penuh dengan perabotan dan sudah siap untuk berjalan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Lucky menatap dengan seksama, dia seperti mengenali barang-barang yang ada di dalam mobil pick up tersebut, namun, dia mengabaikan perasaannya, dan memilih keluar dari dalam mobil, memasukinya gang untuk mengunjungi rumah mantan kekasihnya karena telah terlanjur datang ke sana, dia hanya akan melihat keadaan Emill, setelah itu akan kembali pulang.


Perlahan Lucky mulai memasuki gang, seiringan dengan mobil pick up tersebut yang perlahan mulai berjalan.


Lagi-lagi ada perasaan aneh yang menyusup ke relung hatinya, dia pun menoleh ke arah mobil tersebut, lalu tanpa sengaja melihat Emillia duduk di kursi di dalam mobil, membuat Lucky terkejut lalu mengurungkan niatnya untuk mengunjungi rumah Emillia.


Lucky berusaha berlari mengejar mobil tersebut dengan meneriakan nama Emillia, diiringi air mata yang perlahan mulai tersapu angin.


''EMILLIA, TUNGGU ...!'' teriak Lucky berlari di belakang mobil yang berjalan.


Sementara itu, sang supir yang melihat ke arah belakang dari kaca spion mencoba untuk menghentikan mobilnya.


''Jangan berhenti, Pak. Abaikan saja, dia hanya orang iseng,'' jawab Emil berbohong.


''Tapi, Mbak. Kasian dia, kayaknya dia manggil-manggil nama Mbak terus.''


''Gak apa-apa, terus saja menyetir, saya sedang terburu-buru,'' jawab Emill merasa getir.


Sesungguhnya, Emillia tidak sanggup jika harus berpamitan secara langsung kepada Lucky, dirinya pun tidak sanggup jika harus melihat remaja itu kembali bersedih dan merasakan patah hati untuk yang kedua kalinya.


Emill hanya bisa menatap Lucky yang saat ini masih berlari kencang, menatap dari kaca spion mobil, dan tanpa terasa air mata yang sedari tadi dia tahan dengan sekuat tenaga, meleleh juga membanjiri wajahnya.


'Maafkan aku, Luck ... Semoga kamu bisa melupakan aku dengan cepat ...'' ( Batin Emillia )


Sementara itu, Lucky yang sama sekali tidak bisa mengejar mobil tersebut, hanya bisa berteriak kesal, saat mobil berjalan semakin menjauh bahkan sudah tidak terlihat lagi kini.


''HAAAAAA ....!'' teriak Lucky begitu kencang, hingga suaranya menggema dan memantul di udara.


'Apakah ini benar-benar akhir dari kisah kita, Emillia ...' ( Batin Lucky sedikit terisak )


Sakit ... Hati remaja bernama Lucky itu benar-benar merasakan rasa sakit yang mendalam, tidak hanya putus hubungan, kini bahkan wanita yang bernama Emillia itu telah pergi jauh entah kemana, meninggalkan dirinya, meninggalkan semua kenangan tenang mereka, dan tentu saja, meninggalkan cinta yang masih bersemayam begitu kuat di dalam hati seorang Lucky Pratama.

__ADS_1


_____________------------_____________


__ADS_2