
Gabriel menatap Leo dan juga Alex secara bergantian, sebenarnya dia merasa gugup, namun, berusaha bersikap setenang mungkin.
''Jawab pertanyaan aku dengan jujur, Gabriel. Katakan apapun yang kamu tahu tentang rencana si Revan jangan ada satupun yang kamu sembunyikan,'' kini giliran Alex yang berbicara.
''Baik, Om. Aku akan menceritakan semuanya, namun, sebelumnya, aku ingin meminta maaf terlebih dahulu kepada Om Leo, aku tidak tahu waktu itu, saat aku menerobos masuk ke rumahmu. Sebetulnya, aku hanya menerima tugas tanpa tahu siapa target aku yang sebenarnya, dan aku sungguh terkejut saat mengetahui orang yang akan aku bunuh adalah ayah dari wanita yang aku cintai,'' lirih Gabriel merasa menyesal.
''Aku merasa kesal sekali mengingat hari itu sebenarnya, kamu tahu, andai saja kamu tidak menembak aku, mungkin aku sudah membunuhmu hari itu juga.''
''Itu sebabnya, aku minta maaf yang sedalam-dalamnya, menembak mu pun aku menyesal sebenarnya, tapi aku tidak ada pilihan lain lagi waktu itu selain menembakmu, aku harap, Om memaafkan aku dan melupakan semuanya.''
''Enak aja kau menyuruh aku melupakannya, kalau saja kau bukan ayah dari bayi yang di kandung oleh putriku, tangan aku sudah gatal sekali ingin mencekik lehermu ini,'' ujar Leo mengeraskan rahangnya, merasa kesal sebenarnya.
''Sudah-sudah, maafkan saja, toh dia sudah mengakui kesalahan dan menyesali perbuatannya juga, aku tahu kamu pasti kesal, Leo. Tapi kamu gak ada pilihan lain selain memaafkan dia, toh dia calon mantu kamu, kan?'' Alex membuyarkan ketegangan yang ada.
''His ...! Kamu ini ..." Leo menoleh dan menatap tajam.
"Kita kembali ke topik utama, maaf-maafannya nanti lagi, sekarang cepat ceritakan kepada kami, semua yang kamu tahu, apa sebenarnya yang di rencanakan oleh si Revan ...?''
''Sebenarnya, dia membentuk sebuah perkumpulan, semacam Mafia, sudah terbentuk selama dua tahun ini, dan aku salah satu anak buahnya, tapi sekarang sudah tidak lagi, dia tidak terima, karena aku salah satu anak buah terbaiknya ingin keluar dari sana, itu sebabnya dia mencoba membunuhku agar semua informasi yang aku punya tidak bocor.''
''Lalu ... Untuk apa dia membentuk perkumpulan itu?''
''Target utamanya adalah kamu, Om. Tapi karena kamu adalah bos Mafia yang sudah terkenal dengan kekuatan dan memiliki kemampuan bela diri yang lumayan, dia tidak berani menghadapi Om sendiri, dia hanya ingin duduk di belakang layar, dan membiarkan anak buahnya yang melakukan aksinya, selain itu, dia juga sering menerima order dari orang lain?''
''Order ...? Maksud kamu?''
''Jadi seperti pembunuh bayaran, namun, bukan dia sendiri yang melakukannya, dia hanya memberi perintah dan membayarnya dengan bayaran yang besar, jadi seperti itulah yang aku tahu.''
''Apa masih ada lagi yang kamu tahu?''
''Gak ada, Om. Sungguh hanya itu yang aku tahu, dan sudah aku ceritakan semuanya.''
__ADS_1
''Hmm ...! Aku gak nyangka Revan berubah menjadi penjahat kelas kakap, dulu dia tidak seperti ini, dia anak baik dan penurut, aku benar-benar terkejut, ternyata dia benar-benar diluar dugaan,'' ucap Alex menggelangkan kepalanya.
''Nah, itu dia. Didikan kamu memang hebat.''
''Enak aja, aku gak pernah mendidik dia menjadi penjahat seperti ini, ya.''
''Apa kalian kenal dengan bos Revan?'' Gabriel merasa heran.
''Dia yang kenal, aku si enggak, hanya kenal sekilas saja,'' Leo menunjuk ke arah Alex.
''Iya, aku kenal dekat dengan dia, bahkan aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri, tapi aku tidak pernah mengajarkan dia untuk menjadi penjahat seperti ini, aku sungguh kecewa sekali.''
''Jadi apa yang akan Om lakukan sekarang?'' tanya Gabriel.
''Terpaksa, aku harus kembali mengumpulkan seluruh anak buah'ku yang sudah bercerai-berai, mengaktifkan kembali perkumpulan mafia aku yang sudah sempat aku bubarkan, aku harus melawan si Revan, dan menghentikan aksinya, tantu saja menghadapinya one by one, agar dia tidak penasaran denganku lagi,'' jawab Leo dengan mata yang terlihat di bulatkan sempurna.
''Kalau itu, aku gak ikutan, ya. Aku gak mau kehilangan satu kakiku lagi, aku hanya akan duduk manis di balik layar dengan ditemani secangkir kopi, dan camilan, dan tentu saja, aku doakan kamu semoga kamu menang, melawan si Revan itu,'' ucap Alex, memundurkan kakinya satu langkah kebelakang.
''Baguslah, kalau diajak pun, aku gak akan mau,'' jawabnya lagi gak mau kalah.
''Tapi, Om. Kalau Om mau melakukan hal itu, bisakah Om tunggu sampai aku sembuh dulu,'' pinta Briel.
''Emangnya kamu mau ngapain? mau ikut?''
Briel mengangguk pelan.
''Bercanda kamu, kalau kamu sampai kenapa-kenapa nantinya, gimana nasib cucuku, keluarga aku gak boleh ada yang ikut, tidak terkecuali kamu juga,'' ucap Leo menunjuk jari telunjuknya tepat di dahi Gabriel.
''Apa itu berarti, aku sudah termasuk keluarga Om juga?'' Briel dengan sedikit tersenyum.
''Hah, apa ...? siapa bilang, jangan kepedean dulu kamu,'' Leo berkilah.
__ADS_1
''Nah, karena kita sudah selesai mengintrogasi dia, mari kita makan sekarang, aku lapar sekali,'' ajak Alex seraya memegangi perutnya.
''Tunggu, Om ...''
''Apa lagi ...?''
''Apa Om Alex adalah orang yang telah menyelamatkan aku?''
''Iya betul, itu juga, aku sama sekali tidak tahu kalau kamu adalah calon mantu dia, seharusnya kamu berterima kasih padaku, Leo. Karena aku telah menyelamatkan calon mantu kesayanganmu ini.''
''Iya-iya, terima kasih yang sedalam-dalamnya sahabat aku, karena telah menyelamatkan calon menantuku, PUAS ...?'' jawab Leo lalu pergi dari sana begitu saja.
''Makasih, Om Alex. Aku sungguh mengucapkan terima kasih, kalau saja aku tidak di tolong oleh Om, mungkin aku sudah benar-benar mati sekarang.''
''Sama-sama, kamu istirahat yang banyak, agar kamu cepat sembuh dan sehat lagi, supaya kamu bisa membalaskan perbuatan si Revan itu padamu.''
''Baik, Om. Aku janji akan sehat dengan cepat.''
Alex menganggukkan kepalanya, lalu keluar, menyusul sahabatnya yang kini telah berjalan menjauh.
''Sial, ditinggalkan lagi, kan? LEONARDO TUNGGU AKU, KAMU TAHU KAN JALAN AKU LAMBAT ...?'' Alex berteriak seraya melambaikan tangannya.
Leo pun berhenti dan memutar badan, dia menatap sahabatnya yang kini berjalan dengan sedikit memegangi kakinya, karena satu kakinya palsu, membuat sahabatnya itu berjalan dengan sangat lambat, membuat Leo menggelangkan kepalanya, sedikit kesal.
''Hmm ... pria tua ini, lambat sekali si?''
''Iya-iya, aku datang ...'' jawab Alex, sesaat setelah dirinya sampai di tempat dimana Leo berada, dan keduanya pun berjalan beriringan sekarang, Leo sengaja memperlambat langkahnya, menyesuaikan diri agar langkah kakinya tetap beriringan dengan sahabatnya tersebut.
______________--------________________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1