
''Sebenarnya dia itu adalah anak dari ...''
''Sudah, gak usah mikirin mereka, gak penting, lagipula aku yakin kalau dia itu anak yang baik,'' Revan menyela, membuat Topan menghentikan ucapannya.
''Tapi, Bos ...?''
''Sudah, sekarang kamu fokus sama urusan kita. Aku minta, nanti siang kumpulkan semua anak buah kita di markas besar, aku akan mulai menyusun rencana agar kita bisa bertarung dengan si Leo, aku sudah gak sabar ingin segera menghabisi dia,'' ucap Revan sedikit menaikan suaranya.
''Baik, Bos.''
''Kamu boleh pergi sekarang.''
Topan menganggukkan kepalanya sedikit membungkuk memberi hormat lalu mulai berbalik meninggalkan bosnya tersebut dengan perasaan kesal sebenarnya. Apa mungkin bosnya itu sudah tahu bahwa putrinya itu sebenarnya berpacaran dengan putra dari musuhnya sendiri?
Akh ... rasanya gak mungkin. Kalau Revan tahu hal itu dia tidak akan mengijinkan pemuda itu berpacaran dengan Ayu, apalagi sampai menginap segala. Batin Topan.
Revan, dia merasa tenang, karena Ayu putri satu-satunya itu memiliki kekasih pemuda baik seperti Lucky, karena sebenarnya, semalam dia sama sekali tidak tertidur, dia memperhatikan gerak-gerik Lucky bersama sang putri semalam dari CCTV yang memang sengaja di pasang secara diam-diam di kamar putrinya tersebut.
Revan pun bernapas lega, karena meskipun mereka tidur bersama, namun, keduanya terlihat tidak melakukan apapun.
Meskipun Revan terlihat jahat dan sangat kecewa kepada putrinya tersebut, tapi, dia masih tetap menyayangi Ayu, meskipun rasa sayang itu dia simpan dalam-dalam.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia berharap bahwa pemuda yang bernama Lucky itu akan merubah dan membantu sang putri untuk sembuh dari rasa candunya itu.
🍀🍀
''Kita mau kemana?'' tanya Ayu duduk kursi mobil, menatap Lucky yang sedang fokus menyetir.
''Kita ke rumah Om Alex dulu sebentar ya,'' jawab Lucky tanpa menoleh, tatapan matanya lurus menatap jalanan.
''Mau apa kita ke sana? tadi katanya mau pulang?''
''Sebentar aja, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama dia?''
''Apa aku boleh tau, apa yang ingin kamu tanyakan itu? gak ada hubungannya sama Bu Emill 'kan?''
''Ha ... ha ... ha ... Maksud kamu apa, sayang? tentu aja gak ada hubungannya sama sekali dengan dia, kamu tenang aja, ya. Gak akan lama, ko.'' jawab Lucky sedikit menoleh, dan mengusap lembut rambut kekasihnya itu.
🍀🍀
Sementara itu, sepasang pengantin baru yang masih hangat-hangatnya merasakan kebahagiaan dan kebersamaan mereka nampak baru saja terbangun, sudah tiga hari ini mereka bangun kesiangan, karena selalu lembur setiap malam.
Alex terlihat menatap wajah sang istri yang saat ini masih memejamkan mata dengan tubuh yang masih polos sisa pendakiannya semalam.
__ADS_1
''Sayang ... Bangun ...'' pinta Alex, mengusap lembut rambut sang istri.
''Jam berapa sekarang?'' tanya Emill membuka mata pelan.
''Jam 10 pagi ...''
''Apa ...?''
''Kenapa terkejut begitu, kalau kamu masih ngantuk? tidur lagi aja tubuhmu pasti letih 'kan?'' pinta Alex melingkarkan tangannya di perut sang istri.
''Nggak ...! sudah tiga hari kita kesiangan terus, aku 'kan malu sama Amora,'' Emillia bangkit lalu meraih lingerie yang tergeletak sembarang di tempat tidur.
''Gak usah malu, sayang. Dia pasti ngerti, ko ...''
''Tapi tetap saja. Cepat bangun sayang, aku buatkan sarapan buat kamu, ya ...''
Alex menganggukkan kepalanya.
Tok ... Tok ...Tok ...
''Dad ...''
Pintu pun di ketuk dan terdengar suara Amora dari luar kamar.
''Ada tamu diluar, Dad. Katanya mau bicara sama Daddy,'' teriak Amora lagi.
''Baik, sayang. Suruh tunggu sebentar, ya.''
''Oke ...'' jawab Amora lalu terdengar berjalan meninggalkan pintu kamar.
''Tuh, 'kan. Ada tamu, cepat bangun.'' Pinta Emillia.
Dia pun hendak bangkit, namun, tangannya diraih dengan sedikit paksaan hingga tubuhnya kembali berbaring.
''Tunggu, kecupan penyemangat pagi dulu, biar kita semangat menjalani pagi ini,'' lirih Alex, mengecup kening, hidung, pipi dan terakhir bibir merah sang istri dengan sedikit lu*atan lembut.
Keduanya pun melayangkan tatapan mesra dan saling melempar senyuman bahagia, setelahnya sepasang suami-istri itu pun benar-benar bangkit dan turun dari tempat tidur.
Emillia segera berjalan ke kamar mandi, sedangkan Alex keluar dari dalam kamar, untuk menemui tamu yang datang ke rumahnya.
Alex keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ruang tamu, dia pun terkejut seketika karena orang yang datang untuk menemuinya adalah Lucky dan Ayu.
''Lucky ...? ada apa kemari?'' tanya Alex heran, duduk di kursi.
__ADS_1
''Selamat pagi, Om. Maaf sudah menganggu pagi-pagi.''
''Nggak apa-apa. Tapi apakah ada sesuatu yang begitu penting sampai kamu jauh-jauh datang kemari?'' tanya Alex menatap gadis yang saat ini duduk tepat di samping Lucky.
''Iya, Om. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, tapi apa boleh kita bicara di tempat lain?'' tanya Lucky membuat Ayu merasa heran.
''Lho, kenapa? apa aku gak boleh mendengar pembicaraan kalian?'' tanya Ayu kecewa.
''Maaf, sayang. Untuk yang ini kamu gak boleh tau, tapi aku janji, aku akan memberitahukan hal ini nanti, ya. Aku janji ...'' jawab Lucky, mengusap punggung tangan kekasihnya itu.
''Baiklah kalau begitu.''
''Kalau begitu kita bicara di ruangan kerja Om aja ...'' Alex bangkit lalu berjalan menuju ruang kerja diikuti oleh Lucky berjalan di belakangnya.
Ceklek ...
Pintu pun di buka, lalu di tutup kembali rapat setelah keduanya masuk ke dalam ruangan.
''Ada apa, Luck? Om yakin pasti ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan sampai kamu harus jauh-jauh datang kemari,'' tanya Alex seolah sudah tau apa yang akan di tanyakan oleh putra dari sahabatnya itu.
Lucky pun mengeluarkan secarik poto yang tadi dia ambil di rumah kekasihnya, meletakkannya di atas meja kerja dan Alex tidak terkejut sama sekali, karena dia sudah menyangka, suatu saat Lucky pasti akan tahu siapa Ayu sebenarnya.
''Ini apa, Om? kenapa Papi ada di Poto itu? sama Om, sama Om Revan juga?''
''Hmm ...'' Alex menarik napas panjang, lalu meraih Poto tersebut.
Dia pun menatap dengan seksama gambar di dalam Poto yang terlihat sudah sedikit usang, namun, wajah ketiga orang di dalam Poto tersebut masih dapat dikenalinya dengan jelas.
''Ini Poto 20 tahun yang lalu.''
''Aku tau, Om.''
''Sebenarnya ...''
Alex terlihat ragu-ragu untuk menjelaskan, tapi dia juga tidak ingin berbohong, toh nanti juga Lucky bakalan tau sendiri, tapi akan lebih baik jika Lucky tau dari sekarang, sebelum kedua orang tua mereka benar-benar bertarung untuk membalaskan dendam mereka masing-masing.
''Om ...? Kenapa Om diam aja? Jawab pertanyaan aku Om. Apakah Papi sama Om Revan saling mengenal? tapi kenapa selama ini aku sama sekali tidak pernah mendengar Papi menyebut nama Om Revan? dan bahkan di hari pernikahan Om saja dia gak datang.''
''Tapi di Poto ini, kalian bertiga terlihat begitu akrab, apa yang sebenarnya terjadi, Om. Tolong jelaskan sama aku ...'' pinta Lucky sedikit memaksa.
''Lucky, sebaiknya kamu segera mengakhiri hubungan kamu dengan gadis itu ..."
Lucky terkejut bukan kepalang, merasa tidak mengerti dengan apa yang baru saja di katakan oleh sahabat dari ayahnya tersebut.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀