Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Sahabat Lama


__ADS_3

"Daddy kemana sih, tumben jam segini belum pulang...?''


Amora terlihat duduk bersandar di kursi ruang tamu, di dalam Apartemen'nya, masih dengan memakai seragam sekolah lengkap dengan sepatu berwarna putih yang membalut kakinya.


Dia pun sampai ketiduran di atas kursi, sampai Alex sang ayah benar-benar datang dua jam kemudian. Alex menghampiri sang putri sesaat setelah dirinya memasuki Apartemen mewah kepunyaannya.


Alex berjongkok tepat di depan Amora, lalu manatap wajah cantik nan eksotik putrinya tersebut, dia pun mengusap kening sang putri dan membangunkannya.


''Sayang...? Amora...? bangun sayang...''


Amora pun perlahan membuka mata, mengedipkan pelupuknya secara secara perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kelopak matanya, lalu mulai membuka mata secara sempurna.


''Daddy...? Daddy sudah pulang?'' tanya Amora bangkit lalu merentangkan kedua tangannya seraya membuka lebar mulutnya, menguap.


''Kenapa kamu tidur di sini, sayang?''


''Aku nungguin Daddy. Daddy dari mana sih, jam segini baru pulang?''


''Maaf, tadi Daddy habis ketemu kawan lama, saking asiknya mengobrol, Daddy sampai lupa waktu...''


''Kawan lama?''


Alex mengangguk.


''Kamu sudah makan?'' tanya Alex kemudian.


Amora menggelengkan kepalanya.


''Lihat, Daddy bawa makanan kesukaan kamu, sekarang kamu mandi terus ganti baju, Daddy tunggu di meja makan, ya.'' Alex menunjuk bungkusan pizza yang dia letakan di atas meja.


''Baik, Dad. Aku mandi dulu, ya.''


Amora melirik bungkusan tersebut, lalu tersenyum senang. setelah itu, dia pun bangkit dan berjalan menuju kamarnya, dengan mulutnya yang sekali-kali masih terlihat menguap tanda mengantuk.


Alex menatap putri kesayangannya dengan sedikit tersenyum, dia pun mengikuti sang putri dari arah belakang, namun, dengan tujuan yang berbeda.


Setelah selesai mandi, Amora pun segera menghampiri sang ayah yang sudah menunggunya di meja makan, wajahnya terlihat ceria, dengan senyum yang mengembang dari kedua sisi bibirnya.


''Muka Daddy, cerah banget? ada apa, kayaknya Daddy lagi happy?'' tanya Amora, menarik kursi lalu duduk di ruang makan.


''O ya...? apa kelihatan? Daddy memang lagi senang banget hari ini...'' Alex menjawab dengan bibir yang masih tersenyum lebar.


''Bahagia kenapa, Dad? tumben...?'' Amora memasukan potongan pizza ke dalam mulutnya.


''Hmm... Hari ini pokoknya Daddy seneng banget, karena setelah sekian lama akhirnya Daddy bisa berdamai dengan sahabat Daddy, kami sempat bermusuhan untuk waktu yang lama.''


''Dih, Daddy kayak anak kecil aja musuhan sama teman...''

__ADS_1


''Iya, kami memang selalu bertengkar seperti anak kecil, tapi sekarang tidak lagi, sekarang Daddy sudah baikan sama dia, nanti Daddy kenalin deh sama kamu, namanya Leonardo, eu... kamu lebih cocok menyebut dia dengan sebutan Om Leonardo...''


''Om Leonardo...? mirip nama seseorang yang aku kenal...?'' lirih Amora mengingat sosok ayah dari kekasihnya.


''O ya, sayang. Pacar kamu siapa namanya? Daddy ingin mengundang dia makan malam, sekalian ingin kenal lebih dekat dekat dengan dia.''


''Axel...? dari mana Daddy tahu aku pacaran sama dia?'' Amora mengerutkan keningnya.


''Tau dong, selama ini hanya dia pria yang dekat dengan kamu, apa namanya kalau bukan pacar?''


''He ... he ...! iya, Dad ...! nanti aku beri tahu dia kalau Daddy ngundang dia makan malam..."


Alex menganggukan kepalanya.


Ting Tong


Ting Tong


Tiba-tiba suara bel pun berbunyi.


"Siapa sih malam-malam gini bertamu?'' Amora bangkit lalu berjalan menuju pintu.


Ceklek


Kreket


''Maaf, om. Nyari siapa ya?'' tanya Amora, menatap pria yang tidak dia kenal tersebut.


''Hai gadis cantik, kamu putri'nya bang Alex, apakah dia ada di rumah?''


''Siapa, sayang...?'' Alex berjalan mendekati pintu, dan terkejut seketika saat melihat sosok yang sedang berdiri di depannya.


''Revan...?'' ucap Alex dengan tersenyum.


''Apa kabar, bang Alex...?''


Keduanya pun saling menghampiri lalu berjabat tangan, dengan perasaan senang, tidak hanya sampai di situ, Alex bahkan memeluk sahabat dari mendiang adiknya tersebut.


''Bagaimana kabarmu, van? senang sekali bisa bertemu lagi dengan'mu?''


''Aku baik-baik saja, bang.''


''O iya, silahkan masuk...''


''Terima kasih...!''


Keduanya pun berjalan secara beriringan, lalu duduk di kursi di ruang tamu, Revan mengalihkan pandangannya kepada Amora yang berjalan melintasi dirinya.

__ADS_1


''Apakah dia putrimu?''


''Iya...! Amora... kenalkan ini Revan, teman Daddy...'' Alex memanggil Amora yang baru saja akan memasuki kamar.


''Amora...? nama yang bagus...!''


Revan menatap wajah cantik Amora yang kini berjalan mendekat lalu mengulurkan tangannya hendak berkenalan.


Revan pun menerima uluran tangan Amora, seraya menyebutkan namanya, dengan mata genit yang terus menatap wajah cantik gadis itu merasa terkesima dengan kecantikannya.


Amora sediri merasa tidak nyaman dengan tatapan Revan sebenarnya, dia pun memasang wajah datar dengan sedikit masam, seraya menyebutkan namanya. Setelah itu, dia pun kembali berbalik dan berjalan menuju kamar.


Tinggallah Alex dan Revan yang berada di ruang tamu, Revan menatap wajah Alex, dengan tatapan tajam sebenarnya, dia masih merasa kesal dengan apa yang tadi dia lihat di pemakaman.


Ya... orang yang melihat Leo dan dan Alex saat keduanya sedang berada di pusara Jimmy, adalah Revan, dirinya memang sengaja mengikuti Alex, yang saat itu baru keluar dari dalam kantor Leonardo, karena merasa penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Alex, dia pun mengikuti mobil pria tersebut sampai di pemakaman.


''Aku datang kemari mau menanyakan sesuatu kepadamu, bos?''


''Bertanya apa?''


''Kenapa kamu tidak pernah menghubungi aku setelah dirimu kembali dari Amerika, padahal aku sudah menunggu kedatangan'mu sejak lama, bang,'' Revan terlihat kecewa.


''Aku baru saja akan menghubungimu setelah ada waktu, saat ini aku sedang sibuk sekali.''


''Sibuk...? Heuh... sesibuk apa? sampai-sampai kamu melupakan orang yang selama ini setia menemani dirimu saat kamu sedang terpuruk dahulu?''


''Apa kamu marah?''


''Aku tidak marah, aku hanya kecewa, karena ternyata kesetiaan aku dahulu tidak ada artinya di matamu,'' Revan melayangkan tataan tajam.


''Ha... ha... ha...! aku minta maaf kalau begitu, jangan merajuk kayak anak kecil, Revan...!''


''Bang...! apakah kau sudah menyerah dalam membalaskan dendam kematian adikmu?''


''Apa maksudmu? sejak aku menetap di Amerika, aku sudah melupakan dendam itu dan ingin hidup tenang, bukankah aku sudah bilang padamu waktu itu?'' Alex mengerutkan keningnya.


''Aku pikir waktu itu kau hanya bercanda, dan sekarang kembali lagi kesini untuk menuntaskan dendam yang belum terbalaskan?''


''Revan...! Dengarkan aku, aku sudah memaafkan orang yang bernama Leonardo itu, dan mengikis dendam itu hingga kini tak lagi bersisa, aku sudah menghabiskan separuh umurku untuk membenci dia dan membalaskan dendam, namun aku sadar semua itu tidak ada gunanya.''


''Apa yang aku lakukan dahulu sama sekali tidak dapat merubah keadaan, adikku tidak dapat hidup lagi, yang ada dia malah tersiksa di atas sana karena melihat kakaknya terus berbuat kejahatan, mari kita lupakan dendam itu dan hidup tenang, di hari tua kita ini, ya...''


Revan mengepalkan tangannya mendengar ucapan Alex.


____________----------____________


Promosi

__ADS_1



__ADS_2