
Gabriel berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Rumah Sakit dan hendak menuju parkiran dimana motornya di simpan, melangkah dengan begitu berat sebenarnya, ingin tetap tinggal di sana, namun, tubuhnya terasa remuk, bahkan seluruh wajahnya terasa perih sekarang.
Mau tidak mau, dia harus pulang dan mengobati luka di tubuhnya terlebih dahulu, akhirnya, dia pun sampai di parkiran, parkiran yang terlihat sepi tanpa ada seorang pun. Briel pun mempercepat langkanya setelah motor miliknya mulai terlihat dari kejauhan, namun, tiba-tiba saja, ada beberapa orang yang kini datang menghampiri dirinya.
Briel pun tidak bisa menutupi keterkejutannya, dia langsung memasang kuda-kuda, bersiap jika mereka mulai menyerang dirinya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tepuk tangan, diiringi ketukan sepatu yang perlahan mendekati dirinya, dan sedikit tertawa ringan.
Puk
Puk
Puk
''Hebat sekali kamu, Gabriel. Aku tidak menyangka kalau kamu mempunyai keberanian yang besar, kamu melukai dan mencoba membunuh Leonardo, dan sekarang kamu memacari putrinya, sungguh di luar dugaan, aku kagum dengan keberanian yang kamu punya, ha ... ha ... ha ...!'' terdengar suara Revan, berjalan mendekat dengan suara tawa yang renyah di dengar.
Briel tidak terkejut lagi, dia memang sedang di incar oleh mantan bos nya tersebut, matanya terlihat memerah kini.
''Apa kamu lupa? siapa yang menyuruhku untuk melakukan itu? kamu, kamu Revan, yang memintaku membunuh dia,'' teriak Briel, menatap tubuh Revan yang perlahan mendekat.
''Tapi tetap saja, perjalanan cintamu sungguh tragis, aku ikut merasa iba menyaksikannya, apa si Leo itu akan membiarkanmu berpacaran dengan putrinya, setelah apa yang telah kamu lakukan kepada dia? hah ...?''
''Aku tidak peduli, toh aku akan segera menikahi dia tidak lama lagi.''
''Menikah ...? ha ... ha ... ha ...! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Gabriel. Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa aku akan mengejar kamu kemanapun kamu pergi?''
Revan pun memberi isyarat kepada anak buahnya, untuk menangkap Gabriel, dan tidak menunggu lama lagi, lima orang pria yang sedari tadi berada di sana, segera menghampiri dan mulai menyerang.
Buk...
Pak...
Bruk...
Awalnya Briel bisa menepis setiap serangan yang dilayangkan oleh mereka semua, namun, karena tubuhnya sedang dalam keadaan terluka, dia pun terpojok dan tersungkur di atas lantai.
Dia pun mencoba untuk bangkit dan kembali berdiri, namun, tubuhnya kini di raih secara paksa oleh anak buah Revan, dia bahkan tidak bisa berbuat apapun, saat tubuhnya yang kini penuh dengan luka itu, mulai di seret dan dimasukan ke dalam mobil.
__ADS_1
''Lepaskan aku Brengsek ...! kalian mau bawa aku kemana? Brengsek ...'' teriak Briel.
Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Gabriel, yang ada kini, wajahnya di hantam dengan begitu kerasnya, hingga akhirnya, dia pun jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
🌹🌹
Axela mulai membuka mata, mengedipkan'nya pelan, dengan wajah yang sedikit meringis dan kening yang di kerut'kan, Adelia sang ibu yang sedari tadi duduk di samping ranjang pun segera berdiri dan mendekatkan wajahnya di depan sang putri, lalu menatapnya dengan tatapan mata penuh keteduhan.
''Sayang, kamu sudah bangun ...?'' tanya sang ibu tersenyum senang.
''Mom, aku dimana?''
''Kamu di Rumah Sakit, sayang.''
''Gabriel mana, Mom? apa dia baik-baik saja? Papi gak ngapa-ngapain dia, kan?'' tanya Al menatap ke sekeliling.
''Sudahlah, jangan mikirin dia, kamu fokus saja dulu dengan kesehatan kamu, jaga baik-baik calon cucu Mommy.''
Al terhenyak, hatinya mendadak kembali merasa pilu sekarang, dia pun mencoba bangkit dan duduk di atas ranjang meski tubuhnya masih terasa remuk sekarang.
''Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada pilihan lain lagi selain memaafkan kamu, Mommy memaafkan kamu, sayang. Jadi kamu tidak usah sedih lagi, dan pikirkan kesehatan kamu serta calon cucu Mommy ini,'' Adelia menjawab dengan mata yang berkaca-kaca, seraya mengusap perut sang putri.
''Mom ...? hiks hiks hiks ...?'' Al menangis seraya memeluk tubuh sang ibu. Dia pun merasa sangat terharu karena setelah apa yang dia lakukan, ibunya itu masih sudi memaafkan dirinya.
''Maafkan Mommy juga karena bicara terlalu keras semalam, Mommy sangat shock saat mendengar Dokter mengatakan bahwa kamu hamil, seharusnya Mommy tidak mengatakan hal-hal yang membuat mental kamu tertekan, Mommy sungguh menyesal,'' ucap sang ibu mengelus rambut Axela pelan.
''Tidak, Mom. Mommy tidak salah, kalian memang pantas untuk marah dan kecewa dengan aku, aku pantas mendapatkan kemarahan itu dari Mommy dan juga Papi, aku yang seharusnya minta maaf.'' Lirih Al semakin mengeratkan pelukannya.
''Iya, sayang. Mommy dan Papi memaafkan kamu, sekarang kamu jangan mikirin apapun dulu, kamu harus sehat, kamu harus kuat, demi ini, demi janin yang ada di perut kamu, jaga dia dengan baik, jaga cucu Mommy, Maaf, karena Mommy sempat tidak menginginkannya,'' ucap sang ibu melepaskan pelukannya, lalu mengusap wajah cantik putri kesayangannya.
''Pap, Gabriel dimana? aku ingin ketemu dengan dia, dia belum tahu kalau aku hamil,'' tanya Al seraya mengalihkan pandangannya ke arah sang ayah.
''Dia sudah tahu, Al,'' Axel mewakili ayahnya menjawab.
''Apa ...? dia sudah tau?''
El menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
''Aku yang memberitahu dia semalam, dan dia sangat senang mendengarnya, dia juga berpesan, bahwa kamu tidak perlu khawatir, karen dia tidak akan pernah meninggalkan kamu, dan akan segera menikahi kamu,'' Axel akhirnya mengatakan apa yang ingin di ucapkan oleh Gabriel.
''Benarkah dia mengatakan itu semua?'' Al dengan mata yang berkaca-kaca.
''Iya, sebenarnya, di ingin mengatakan langsung kepadamu, namun, karena---?'' Axel tidak meneruskan ucapannya lalu melirik sang ayah.
''Karena apa, El?''
''Karena, eu, karena dia habis kehujanan semalaman dia jadi agak demam, makannya aku suruh dia pulang untuk istirahat, nanti juga dia pasti kesini ko,'' jawab El berbohong.
''Tapi, Mom, Pap. Aku gak mau menikah, aku masih mau sekolah, bagaimana dengan cita-cita aku, aku ingin kuliah dan lain sebagainya, apakah aku harus menikah dan melahirkan lalu menjadi ibu rumah tangga biasa?'' ujar Axela, menatap ayah serta ibunya secara bergantian.
''Axela, sayang. Kamu masih bisa bersekolah, meskipun kamu sudah menikah dan melahirkan, kamu juga masih bisa berkuliah dan mewujudkan cita-cita kamu juga, kamu lupa, Papi punya banyak uang, Papi akan melakukan apapun, agar kamu bisa berkuliah di universitas yang kamu inginkan.'' Jawab Leo menenangkan.
''Yang penting sekarang, kamu harus menikah dulu, jangan sampai anakmu lahir tanpa seorang suami, oke ...?''
Al pun terdiam sejenak, mana mungkin dia menikah dengan laki-laki yang telah melukai ayahnya? bagaimana jika sang ayah sampai tahu bahwa, menantunya itu sebenarnya adalah pelaku utama penembakan itu? hati Axela benar-benar dilanda Dilema sekarang.
🌹🌹
Buk ...
Bak ...
Bruk ...
Gabriel sedang di siksa habis-habisan oleh Revan, sepertinya, Revan benar-benar akan membunuh Gabriel, terbukti, sekarang Briel nampak tersungkur tidak berdaya di atas lantai, dengan tubuh yang penuh dengan luka, wajahnya pun penuh dengan darah segar, tubuhnya kini sudah tidak bergerak lagi.
''Buang mayatnya sekarang juga?'' ucap Revan kepada anak buahnya.
''Buang kemana, Bos?''
''Kemana saja, terserah kalian, ke sungai atau pun kelaut, yang penting dia benar-benar lenyap.''
_______________--------_______________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️
__ADS_1