Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Mengenang Masa Lalu


__ADS_3

Akhirnya hari itu pun tiba, hari dimana Leo pindah ke desa di mana rumah mertuanya berada, rumah itu pun sudah di renovasi sedemikian rupa. Penampakan rumah yang awalnya sederhana, kini telah di sulap menjadi rumah kecil yang mungil tapi mewah lengkap dengan perabotan yang semuanya berharga mahal.


Selain karena Leo memang menyukai barang mewah dengan harga yang selangit, dia juga ingin tinggal dengan nyaman di rumah yang akan dia jadikan persinggahan terakhirnya itu.


Teras yang terbuat dari marmer putih, akan menjadi pijakan Leo dan Adelia di rumah itu. Sayangnya, anak-anaknya tidak ada satupun yang mengantar kepergian Leo dan Adelia ke sana, membuat Leo sedikit kecewa namun dia pun mencoba mengerti.


Axel mulai sibuk karena dia harus mengurus perusahaan yang telah dia wariskan kepada putra sulungnya itu. Lucky harus mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi, sedang Axela, dia sibuk mengurus ketiga putri kembarnya yang kini semakin aktif membuat Axela dan suaminya keteteran.


Setelah sedikit membenahi pakaiannya, memasukan seluruh pakaian yang mereka bawa ke dalam lemari, kini Leo dan Adelia nampak duduk di teras rumah, menatap sekeliling halaman yang masih sama meskipun rumah itu sudah berubah.


''Hmmm ... Duduk di sini mengingatkan aku akan masa lalu. Dulu saat kita berjualan gorengan di situ,'' ucap Leo pikirannya melayang ke beberapa tahun yang lalu saat usianya masih muda saat itu.


''Ha ... ha ... ha ...! Iya ... Waktu itu aku benar-benar merasakan betapa sulitnya mencari uang sampai aku harus berjualan keliling kampung, membawa satu nampan penuh gorengan," jawab Adelia dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Leo pun menoleh menatap wajah Adelia, yang masih tetap terlihat sama seperti 25 tahun yang lalu saat dirinya pertama kali bertemu dengan wanita yang telah menjadi ibu dari anak-anaknya ini. Dia meletakkan tangannya di pundak sang istri, dan seketika itu juga Adelia menyandarkan kepalanya di pundak kokoh Leonardo.


"Kamu sungguh wanita tangguh, Adelia Fasha. Dan itu pula yang membuat aku jatuh cinta sama kamu, aku sungguh beruntung punya istri seperti kamu, sayang. Kamu tau? kamu adalah anugerah terindah dalam hidup aku, Adelia ..." ucap Leo mengecup pucuk kepala istrinya.


"Gombal ... Udah tua, kita sudah bukan anak muda lagi yang pantas buat gombal-gombalan," lirih Adelia, melingkarkan tangannya di pinggang Leonardo erat.


"Ish ... Kamu ini. Wajah suamimu ini memang sudah tua tapi jiwa aku masih muda, enak aja. Gak liat apa aku masih tampan kayak gini."


"Ha ... ha ... ha ... Dasar Leonardo, sifat kamu yang satu ini gak berubah sedikitpun walaupun kamu sudah jadi kakek-kakek kayak gini."


"Dibilangin aku tuh masih muda, coba liat, bukankah wajah aku ini masih sama seperti dulu?" ucap Leo.


Dia pun sedikit mundurkan posisi duduknya, meletakan tangannya di kedua pipi Adelia lalu menatap wajah cantik sang istri.


Leo pun menatap lekat wajah Adelia, wajahnya yang sudah terdapat guratan tipis di bagian dahi dan bawah matanya, tidak membuat kecantikannya memudar di mata Leo, rambut panjangnya yang sudah sedikit memutih pun tidak mengurangi kecantikan alami yang dimiliki oleh sang istri.

__ADS_1


''Lihat muka suamimu ini, bukankah masih tampan. Sama seperti sewaktu aku masih bernama Axel, nama yang kamu berikan dulu padaku?'' lirih Leo menatap lekat wajah Adelia.


Adelia pun tersenyum, tangannya kini meraba satu-persatu Indra yang ada di wajah suaminya, mata yang sudah mulai berkeriput, hidung, pipinya yang juga sudah terdapat keriput halus, terakhir dia meraba bibir sang suami yang terlihat memerah, lalu mengecupnya mesra.


''Iya, sayang. Wajah kamu masih tampan, sama seperti waktu kamu masih bernama Axel dulu, tampan, gagah, baik, dan cinta kamu pun masih sama seperti dulu, tidak berkurang sedikitpun. Aku cinta kamu Mafia tampanku ...'' jawab Adelia, seketika langsung memeluk tubuh suaminya.


''Aku juga cinta sama kamu, Adelia Fasha si penjual gorengan.''


Keduanya saling merekatkan pelukan, mendekap erat benar-benar merasa tidak ingin pisahkan. Semilir angin pedesaan pun terasa sejuk menyapu wajah masing-masing, belum lagi kicauan burung camar terdengar saling bersautan membuat hari yang mulai saat ini akan mereka habiskan hanya berdua itu terasa indah, dan tentu saja begitu bahagia.


''Hmm ... Mau mengulang malam pertama kita seperti dulu?''


''Apa ...?'' Adelia pura-pura tidak mendengar.


''Aku ingin mengulang malam pertama kita seperti dulu, kamu yang waktu sampai memakai baju terbalik terlihat sangat lucu, ha ... ha ... ha ...''


''O iya ... Itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Apakah ibu menyadarinya juga waktu itu?''


''Duuuh ... Rasanya malu banget deh waktu itu.''


''Ha ... ha ... ha ...! Sayang ... Mumpung di sini kita hanya berdua, tenang dan gak bakalan ada yang menggangu, eu ... anu ...'' Leo dengan nada suara yang terbata-bata.


''Eu ... Anu ... Apa ...?''


''Itu, jatah ...''


''Ini siang hari lho, panas-panas gini masa mau keringatan?''


''Ya gak apa-apa lah, di rumah juga 'kan hanya ada kita berdua, gak bakalan ada yang ganggu. Lagian aku gak ngerasa kepanasan sama sekali, malahan dingin banget ini. Aku butuh kehangatan, sayang ...'' Leo merengek manja.

__ADS_1


''Ha ... ha ... ha ... Dasar, pintar aja bikin alasan yang tidak masuk akal.''


''Ehem ...''


''Ya udah iya, tapi-''


''Tapi apa, sayang?''


''Gendong ... udah lama kamu gak pernah gendong aku,'' rengek Adelia manja.


''Ha ... ha ... ha ... Suara kamu gemesin ... Iya-iya aku gendong.''


Tanpa basa-basi lagi, Leo meraih tubuh sang istri, membawanya dalam gendongannya lalu mulai berjalan pelan masuk ke dalam rumah.


''Ko tumben tubuh kamu berat banget,'' ucap Leo di sela-sela langkahnya.


''Bukan tubuh aku yang berat, tapi kamu-nya aja yang udah tua, tenaga kamu sudah berkurang, sayang ...'' jawab Adelia terkekeh.


''Ha ... ha ... ha ... Iya-iya sayang, aku ngaku, aku emang sudah tua. Hadeuh ... Kayaknya pinggang aku keseleo,'' ringis Leo, membuat Adelia sontak turun dari pangkuan suaminya.


''Udah aku turun aja kalau gitu, karena pinggang kamu lagi sakit, mengulang malam pertamanya pun gak jadi, tunggu sampe pinggang kamu sembuh dulu, oke ...'' ucap Adelia, berdiri lalu mengusap punggung suaminya.


''Eit ... mana bisa kayak gitu, justru kalau pinggang aku ini digerakin maju mundur, sakitnya pasti akan langsung hilang.''


''Hadeuh ... Dasar kamu ... jangan salahin aku ya, kalau nanti pinggang kamu tambah sakit,'' Adelia berjalan memasuki kamar.


''Iya ... Sayang. Percaya deh sakitnya pasti hilang kalau kita olah raga siang sebentar,'' Leo menaikan nada suaranya, berjalan mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar.


Blug ....

__ADS_1


Pintu kamar pun di tutup rapat membuat Adelia terkejut dan tersenyum menatap wajah sang suami yang entah mengapa terlihat begitu tampan sempurna.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2