Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Buas


__ADS_3

Setelah memberikan hadiah sebuah mobil mewah untuk putri kesayangannya, Leo kini baru saja selesai membersihkan diri, dia nampak baru keluar dari dalam kamar mandi, tubuh kekarnya nampak terekspos begitu indah, dengan handuk pendek yang membalut bagian bawah tubuhnya.


Dia pun melangkah menuju lemari raksasa yang lebih tepatnya terlihat seperti ruangan khusus menyimpan pakaian sekaligus aksesoris mewah, seperti dasi, jam tangan, ataupun sepatu mewah yang biasa dia kenakan.


Saat dia hendak meraih satu stel pakaian santai, tiba-tiba saja gerakan tangannya terhenti seketika, saat melihat Adelia sang istri sedang termenung seperti sedang melamun memikirkan sesuatu, istrinya tersebut berdiri tepat di depan jendela, memandang ke arah luar yang suasananya sudah semakin mulai gelap.


Leo pun berjalan menghampiri sang istri, masih dengan mengenakan handuk saja, dia pun memeluk tubuh istrinya tersebut dari arah belakang.


''Kamu sedang memikirkan apa, honey...'' tanya Leo, meletakan kepala'nya di leher sang sang istri, seraya mengecup lehernya lembut.


''Heuh... Apa...? nggak ko...! Sayang... kenapa kamu tidak pakai baju, masih siang tahu, udah minta jatah aja,'' Adel sedikit tersenyum, menatap tubuh suaminya yang terlihat begitu seksi.


''Aku baru selesai mandi.''


''Kenapa gak di baju dulu, nanti masuk angin lho...''


''Melihatmu melamun membuatku malas memakai baju,'' Leo kini mencium tengkuk sang istri, membuat Adelia memejamkan mata.


''Seperti katamu tadi, aku mau minta jatah sekarang, boleh...?''


''Masih siang, sayang.''


''Aku gak peduli...''


Leo pun berlari ke arah pintu lalu menguncinya, setelah itu dia pun kembali ke hadapan sang istri dan menggendongnya ke atas pembaringan.


''Apa yang kamu fikirkan? aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu,'' ucapnya sesaat setelah istrinya itu di baringkan.


Adelia tidak menjawab pertanyaan suaminya tersebut, dia mengecup bibir sang suami dan me**** dengan begitu lahap, mengalihkan perhatian.


Sang suami pun membalas dengan kembali dengan me***** bibir indah nan menggoda milik istrinya tersebut, dengan begitu la**** sehingga Adelia sang istri merasa kewalahan.


'I Love You... honey...' lirih Leo berbisik di telinga Adelia seraya menjulurkan lidahnya.


''I Love You To..." menjawab dengan memejamkan mata.


Kini keduanya pun memulai pendakian, ditemani oleh senja yang mulai menutupi sinar matahari yang mulai meredup kembali ke peraduan.

__ADS_1


Entah apa yang merasuki merasuki seorang Adelia, kali ini dia terlihat lebih buas dari biasanya, gerakan tangan serta tubuhnya seolah bergerak begitu lincah'nya.


Leo sang suami, sampai-sampai di buat tidak berkutik karena istrinya tersebut bergerak begitu lincahnya, bergoyang bahkan memutar badan dan berada di atas raga polosnya.


Suara de**** pun sesekali keluar dari bibir wanita berusia 40 tahun tersebut, dia bahkan mengerang merasakan keni*****, sang suami di buat tidak berdaya dengan goyangan ping**** yang berputar bahkan bergetar dengan begitu hebatnya dengan gunungan kembar yang ikut bergoyang mengantung begitu indahnya.


Sampai akhirnya puncak ken***** itu di raih secara bersamaan, dengan masih dalam posisi Adelia sang istri di atas raga polos suaminya, tubuhnya pun bergetar hebat, seolah puncak itu benar-benar diraihnya secara sempurna.


Kini raga polos Adelia pun terkulai lemas, masih dalam posisi yang sama, dengan roket tajam sang suami masih menghujam sempurna di bagian inti tubuhnya.


Napas keduanya pun terlihat terengah-engah, apalagi napas Adelia yang menghembus tidak beraturan merasa letih karena raganya telah berkerja sangat keras untuk mencapai sebuah keni**** yang benar-benar sempurna.


''Ada apa denganmu hari ini, sayang? Gerakan tubuhmu begitu energik, kamu sungguh hebat...'' ledek Leo, tersenyum memeluk raga polos sang istri.


''Kenapa? mau lagi?'' Adel membalas senyuman sang suami kembali meledek.


''Serius, boleh...?'' dengan mata yang berbinar.


''Tentu saja...''


Adelia kembali sedikit mengangkat raga polosnya, lalu kembali menggoyangkan ping****, berputar dan seolah sedang menari jaip***, membuat sang suami kembali memejamkan mata, merasakan keni****.


***


Keesokan harinya.


Pukul 12 siang, Leo sedang berada di kantor'nya, dia hendak membuka kotak makan yang selalu di kirimkan oleh Adelia sang istri, sejak menikah dengan istri tercintanya, Leo memang selalu mendapat kiriman makan siang dari sang istri, dan dia pun sudah terbiasa dengan hal itu, karena dirinya lebih menyukai masakan sang istri di bandingkan makanan Restoran.


''Wah... masakan hari ini spesial sekali...'' Leo berbicara sendiri seraya menata rapi rantang makanan di atas meja.


Dia pun meraih satu persatu hidangan spesial tersebut, memakannya dengan begitu lahap. Sampai akhirnya, ketukan pintu membuatnya menghentikan gerakan tangannya.


Trok


Trok


Trok

__ADS_1


''Siapa si, ganggu orang yang lagi makan aja,'' gerutu Leo merasa kesal.


Ceklek


Pintu pun kemudian di buka, tanpa di sangka Alex dengan mengenakan jas berwarna hitam, masuk ke dalam ruangan.


''Wah ada yang lagi makan besar, nih,'' Alex berjalan masuk ke dalam ruangan.


Leo pun benar-benar menghentikan gerakan makannya, napsu makannya seolah mendadak hilang seketika, dia pun menyimpan sendok yang di genggamnya lalu, meminum segelas air putih.


''Ada apa kemari, gak lihat aku sedang makan, kedatangan'mu menghilangkan nafsu makan aku, tau...'' Gerutu Leo kesal.


''O ya...? kamu bisa meneruskan makan siang'mu, kita bisa mengobrol setelahnya, gimana?'' Alex duduk di kursi sebelum Leo mempersilahkan dia untuk duduk.


''Gak usah, nafsu makan'ku sudah hilang sekarang. Katakan saja, ada perlu apa mendadak kemari?'' jawab Leo dengan wajah datar.


''Aku memang sengaja datang kemari, kenapa? apa aku tidak boleh mengunjungi sahabat lama'ku ini? bukankah dendam di antara kita sudah habis tak bersisa?''


''Dulu kau tidak mengatakan bahwa kau benar-benar memaafkan aku, kan?''


''Apakah sebuah ucapan itu penting, Leo? dengan aku menghilang selama lebih dari 15 tahun saja sudah cukup membuktikan bahwa aku memaafkan'mu, dasar bodoh, wajahmu saja yang tampan, tapi ternyata otakmu masih tetap bodoh seperti dulu.''


Leo tersenyum mendengar ledekan Alex. Apakah benar bahwa dendam itu sudah benar-benar tidak ada lagi sekarang? Apakah pria yang sudah kehilangan satu kakinya itu dan sekarang harus menggunakan kaki palsu untuk berjalan, telah memaafkannya? batin Leo di penuhi tanda tanya.


''Kalau sudah selesai, bisakah kau ikut aku sekarang, aku ingin membawamu ke suatu tempat.''


''Kemana? kamu nggak akan menculik aku kan, Alex...?''


''Ha... ha... ha...! mana ada orang mau nyulik bilang dulu? sekali lagi kamu benar-benar bodoh, apa kamu sungguh seorang bos mafia?''


Leo kembali tersenyum mendengar ledekan mantan rivalnya tersebut. Keduanya pun berdiri lalu berjalan keluar dari dalam ruangan.


Entah apa yang merasuki pikiran Leonardo, sehingga dia menurut begitu saja saat Alex memintanya ikut dengan dirinya, bahkan Leo menaiki mobil Alex, keduanya pun berada di jok yang sama, di bangku belakang mobil pribadi Alex, sementara supir pribadi Alex menyetir di depannya.


__________----------__________


promosi

__ADS_1



__ADS_2