
Emillia hanya terdiam, dia masih mencoba menata perasaannya setelah di tembak secara tiba-tiba oleh laki-laki dewasa bernama Alex tersebut, tembakan yang di layangkan kepadanya bahkan terasa langsung mengenai hatinya, sehingga saat ini perasaan sendiri merasa tidak karuan.
''Kenapa diam saja?'' jawab Alex tidak sabar.
''Hmm ... Sebentar, Om. Aku masih terkejut mendengar semua yang Om katakan tadi,'' jawab Emil mencoba tersenyum untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
''Baiklah, tapi Om gak suka menunggu, menunggu bagi Om hanya akan buang-buang waktu, kamu jawab saja sesuai dengan apa yang ada di dalam hati kamu, Om akan menerima apapun keputusan kamu.''
Emill hanya terdiam, matanya fokus menatap ke depan melayangkan tatapan kosong.
Apakah dia harus menerima cinta Alex? Kalau laki-laki dewasa ini bisa mengobati luka di dalam hatinya, kenapa nggak? Tapi apa dia yakin, dan tidak akan menyesal nantinya? bukankah mereka belum lama kenal? dan dia belum punya perasaan apapun kepada laki-laki itu.
''Rasa cinta bisa menyusul belakangan, terkadang rasa nyaman dapat menimbulkan rasa cinta, jika kamu nyaman berada di sisi Om, aku yakin rasa cinta akan datang beriringan ...'' ucap Alex tiba-tiba seolah mengetahui apa yang saat ini ada di dalam otak Emil.
Mendengar hal itupun membuat Emill terkejut dan menoleh ke arah Alex, menatap wajah dewasanya yang terlihat berwibawa dengan sejuta karisma, meski wajah Alex tidak setampan Lucky mantan kekasihnya, namun, wajah Alex pun tidak kalah manis meski dengan kulit yang tidak terlalu putih.
Bukankah laki-laki seperti dia yang selama ini menjadi idamannya?Akh ... Entahlah, Emil mengusap kasar wajah cantiknya.
''Kalau kamu nerima cinta Om, Om akan segera menikahi kamu,'' ucap Alex setelah lama tidak mendapat jawaban.
''Apa Om?''
''Menikahi kamu, Emillia.'' Jawab Alex, menoleh ke arah Emil, menatap wajahnya dan pandangan mereka pun bertemu seketika.
''Apa Om yakin? Om 'kan baru mengenal aku? belum tentu aku itu wanita baik-baik lho, Om juga belum tau sifat aku seperti apa?''
''Om sudah tua, Emil. Untuk apa berpacaran, kalau ujung-ujungnya putus juga, lebih baik langsung menikah. Om yakin kamu wanita baik-baik, semua itu tergambar jelas dari raut wajah kamu, dan kalau masalah sifat, itu bisa diketahui belakangan, sekarang kamu terima saja dulu cinta Om. He ... he ... he ... Agak maksa dikit ...'' ucap Alex sedikit terkekeh.
''Baik, Om. Aku akan nerima cinta Om.'' Jawab Emil tiba-tiba.
Alex pun terkejut seketika membulatkan bola matanya diiringi senyuman yang mengembang begitu lebarnya, dengan perasaan tidak percaya.
''Kamu serius?''
__ADS_1
Emillia menganggukkan kepalanya.
''Ha ... ha ... ha ...! Makasih ... Makasih Emillia, Om senang sekali, Om janji, Om gak akan pernah ninggalin kamu,'' teriak Alex tertawa senang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen.
Emill pun tersenyum geli, melihat laki-laki dewasa yang bersorak kegirangan, sungguh pemandangan lucu baginya, hingga tanpa sadar dia pun ikut tertawa, dan membiarkan begitu saja saat kedua tangan Alex memeluk tubuhnya erat dari arah samping.
''Makasih Emil ... Om janji kamu akan jadi pelabuhan terakhir Om.''
''Tapi, Om. Om tau saat ini perasaan cinta belum ada di hati aku 'kan? apa Om bisa menerima itu?'' tanya Emillia, memutar kepalanya, menatap wajah Alex dengan seksama.
''Tak masalah, sayang. Kita mulai pelan-pelan, aku akan membuat kamu perlahan jatuh cinta sama aku, kita jalani aja dulu,'' jawab Alex, masih dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibirnya.
Akh ... Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta lagi? hati Alex terasa berbunga-bunga, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sejak lama, Alex sungguh merasakan kebahagiaan, hingga jiwanya pun terasa kembali muda.
''Aku akan mencoba mencintai Om, jan-'' Emill tidak meneruskan ucapannya, karena jari telunjuk Alex diletakan begitu saja di bibir mungil Emillia.
''Mulai sekarang, jangan panggil dengan sebutan Om lagi, tapi ... cobalah panggil dengan sebutan 'Mas' panggilan itu lebih cocok,'' ucap Alex menyela.
''Nah begitu lebih pas,'' jawab Alex.
Hati Emillia dirundung gelisah sebenarnya, apakah keputusannya menerima Alex sudahlah benar? apa dia tidak akan menyesal nantinya? apakah ini bukan sebuah pelarian semata karena dirinya baru saja mendapatkan kekecewaan?
Akh ... Entahlah, dia hanya ingin rasa sakit yang menggerogoti hatinya segera hilang, dan dia bisa dengan cepat melupakan mantan kekasihnya itu.
🌹🌹
Setelah selesai berjalan-jalan mengelilingi desa dengan menggunakan mobil miliknya, kini Lucky nampak sedang melajukan mobilnya untuk segera kembali ke rumah, dengan Ayu yang duduk di kursi sebelah.
Ayu nampak begitu senang, hatinya pun berbunga-bunga saat ini, karena akhirnya Lucky bersikap lembut padanya.
''Gimana apa kamu senang?'' tanya Lucky tanpa menoleh, matanya lurus menatap ke depan.
''Tentu saja, aku senang sekali,'' jawab Ayu tersenyum sumringah.
__ADS_1
''Syukur deh, aku pun senang mendengarnya.''
''Hmm ... Kapan kamu pulang ke kota?''
''Gak tau, aku ngikut Mommy sama Papi aja. Tapi kayaknya semingguan lagi baru balik, kita kan harus segera mendaftar ke Sekolah Menengah Atas ...'' jawab Lucky sedikit menoleh.
''Boleh 'kan kalau aku tetap di sini? sampai kamu pulang nanti, kita pulang bareng nanti."
''Hmm ... Tapi apa nanti orang tua kamu gak nyariin kamu?''
''Nggak, mereka gak akan peduli bahkan jika aku gak pulang lagi sekalipun.''
''Hus, jangan gitu, walau bagaimanapun mereka kedua orang tua kamu, mereka pasti peduli, meski tidak tau cara menunjukkan rasa peduli mereka harus seperti apa agar kamu tau.''
Ayu hanya terdiam, karena selama ini mereka memang tidak pernah sekalipun menunjukan rasa sayang mereka, kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan masing-masing.
Mereka hanya rutin memberinya uang jajan dalam jumlah yang besar, berpikir bahwa dengan memberi uang, mereka bisa membeli kasih sayang dan perhatian yang tidak bisa mereka berikan.
Akhirnya Lucky pun sampai di depan gang, dia segera melipir dan memarkir mobilnya di tepi jalan. Lucky pun segera keluar berbarengan dengan Ayu yang juga keluar dari pintu samping.
Lucky hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam gang, namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat dua orang berjalan di depannya, dengan saling berpegangan tangan.
Ya ... mereka adalah Emillia dan juga Alex, sepasang manusia yang baru saja sepakat untuk merajut kasih.
Lucky nampak menyipitkan kedua matanya, menatap dengan seksama bahwa yang dia lihat benar-benar Emillia, mantan kekasihnya. Sementara Ayu, dia nampak menatap heran ke arah kekasihnya itu, lalu dia mengikuti arah pandangan mata Lucky, sampai akhirnya dia pun melihat Emillia dan Alex si depan sana.
''Itu 'kan?'' tanya Ayu, tidak meneruskan ucapannya, matanya kini tertuju kembali menatap wajah Lucky.
''Apa ku cemburu melihat mereka berdua ...?'' tanya Ayu.
''Heuh ... Apa ...? Kamu bilang apa tadi?'' Lucky pura-pura tidak mengerti, karena hatinya sedang merasakan rasa cemburu yang teramat dalam.
______________-----------______________
__ADS_1