Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Maukah kau menikah denganku


__ADS_3

Entah mengapa, Ibu sudah menganggap Axel seperti anaknya sendiri, meski pemuda itu belum lama tinggal bersamanya namun rasa sayang sebagai seorang ibu tumbuh begitu saja di hatinya.


Dia bahkan tidak tahu, identitas, rumah, atau pekerjaan dari pemuda yang saat ini sedang menyandarkan kepala di pundaknya itu, namun ketulusan Axel dan kebaikannya membuat ibu, bisa menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.


''O ya, Axel...! kenapa waktu di dalam angkot kemarin, kamu bilang sama ibu-ibu yang naik angkot bersama kita, bahwa kamu adalah calon suamiku?'' tanya Adel dengan wajah kesal, sambil mengangkat kepalanya dari pundak sang ibu.


Axel pun melakukan hal yang sama, mengangkat kepala, lalu menatap wajah Adel.


''Mmmm... itu, aku refleks mengatakannya,'' jawab Axel malu-malu.


''Refleks apaan? kamu sengaja kan ngomong kayak gitu?''


''Tidak ko, terus aku harus bilang apa sama dia? jujur gitu, bahwa aku adalah orang asing yang kamu tolong, hilang ingatan, terus sekarang tinggal di sini, begitu?'' jawab Axel datar.


Adelia hanya terdiam.


Ibu memperhatikan keduanya, menatap Adel dan juga Axel secara bergantian.


''Kenapa kalian tidak benar-benar menikah saja?'' ucap Ibu kemudian.


''Apa...?'' Adel terkejut mendengar ucapan ibunya.


Sementara Axel senyum senyum sendiri merasa senang.


''TIDAK...'' Adel menaikan suaranya.


''Kenapa tidak? apa kamu gak mau punya suami tampan kaya aku? lagian semua tetangga di sini sudah tahu kalau aku ini calon suami kamu.''


''Apa kamu menyukaiku? mencintaiku? apa kamu pikir pernikahan itu hal yang mudah, menikah tanpa perasaan cinta tidak akan bertahan,'' Adel masih dengan suara yang sedikit dinaikkan.


Ibu membisu, begitupun dengan Axel.


Adelia merasa kesal karena Axel sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, dia pun bangkit dan hendak melangkah ke dalam rumah, namun tangan Axel meraih pergelangan tangannya dan Adelia pun seketika menghentikan langkahnya.


''Jika aku bilang aku menyukaimu dan aku juga mencintaimu, apakah kamu bersedia menikah denganku?'' tanya Axel membuat perasaan Adel terkejut dengan jantung yang berdetak begitu kencang.


''Tidak...''


Adelia menepis tangan Axel dan pergi begitu saja meninggalkan Axel dan juga ibu.


Ibu melihat punggung putrinya yang berjalan menjauh masuk ke dalam rumah, lalu dia menatap wajah Axel dengan tatapan tajam seolah akan menginterogasinya.

__ADS_1


''Ibu kenapa menatap aku seperti itu?'' tanya Axel salah tingkah.


''Ibu mau bertanya padamu, kamu jawab dengan serius,'' ujar ibu masih dengan tatapan tajam dan wajah yang terlihat sangat serius.


''Ibu mau bertanya apa?''


''Apa kamu benar-benar menyukai dan mencintai Adelia, seperti yang kamu katakan tadi?'' tanya ibu dengan nada suara yang terdengar tegas dan penuh penekanan.


Axel terkejut seketika, mendapatkan pertanyaan yang sama sekali tidak dia sangka, dia terdiam sejenak, menunduk lalu menatap wajah ibu.


''Iya, Bu. Aku menyukai Adelia, entah sejak kapan aku mulai menyukainya, namun perasaan ini tiba-tiba saja hadir di hati aku.''


''Kamu serius dengan ucapan mu itu?''


Axel mengangguk menatap wajah ibu dengan tatapan serius.


''Baiklah, jika kamu memang serius, kamu harus menunjukan keseriusan mu itu, buat Adel putri ibu, jatuh cinta padamu dan mau menikah denganmu, sejujurnya, ibu ingin Adel cepat mempunyai suami, agar dia ada yang menjaga dan tentu saja tidak perlu lagi bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.''


''Aku berjanji Bu, mulai saat ini aku akan menunjukkan bukti bahwa aku serius dengan rasa cintaku kepada Adel dan akan membuat dia jatuh cinta kepadaku.''


''Ibu tunggu janji mu.''


''Iya, nanti ibu bantu sebisa ibu, tapi keputusan nya tetap ada di tangan Adel, jika dia tetap menolak Ibu tidak bisa berbuat apa-apa.''


''Iya, bu, aku akan menerima keputusan apapun yang akan dia buat nanti, yang penting sekarang, aku akan berusaha terlebih dahulu, menarik perhatian dia dan berusaha membuat dia jatuh cinta kepadaku,'' jawab Axel dengan penuh semangat.


''Iya, sayang, ibu akan selalu mendukung mu.''


Tanpa mereka sadari, ternyata Adelia mendengarkan percakapan keduanya, ia berdiri di balik tembok dengan wajah yang memerah dan mulut sedikit tersenyum, sejujurnya Ia pun menyukai Axel dari semenjak pertemuan pertama mereka.


Sesungguhnya, Adelia sangat terpesona oleh ketampanan Axel yang seolah memancarkan sejuta karisma, namun ia terlalu malu untuk mengakuinya, dan ingin memastikan terlebih dahulu, apakah rasa yang bersemayam di dalam hatinya benar-benar rasa cinta atau hanya kagum semata.


''Ya sudah aku mau mandi dulu ya, Bu.''


Terdengar suara Axel dari luar dan hendak masuk ke dalam rumah, dan sontak saja Adel segera berlari masuk ke dalam kamarnya.


Sementara, Ibu mengangguk sambil tersenyum menatap wajah Axel.


_____---_____


Selama tinggal di rumah Ibu Sarah, Axel memiliki kamar sendiri yang terletak bersebelahan dengan kamar Adel, kamar itu biasanya di gunakan apabila ada tamu ataupun saudara jauh yang datang menginap.

__ADS_1


Dan sekarang kamar itu menjadi kamar pribadi Axel lengkap dengan lemari berisikan pakaian almarhum ayah Adel.


Axel masuk ke dalam kamarnya, ia meraih baju ganti yang akan dia bawa ke kamar mandi, ia pun memilih satu persatu pakaian yang cocok yang akan ia kenakan.


Dia pun memilih satu-persatu, dan mengeluarkan pakaian tersebut dari dalam lemari sambil hendak di rapikan, namun, Axel terkejut seketika saat menemukan amplop berwarna coklat yang terletak di dalam lemari, tersembunyi di antara tumpukan baju yang di tata tidak begitu rapi.


Ia pun meraihnya dan melihat isi amplop tersebut, dan matanya lebih dikejutkan lagi saat melihat, ternyata amplop itu berisikan uang yang jumlahnya tidak sedikit.


Axel pun berlari keluar dari dalam kamar, sambil berteriak memanggil ibu dan menggenggam amplop di tangannya.


''Ibu...!'' suara Axel terdengar begitu nyaring sehingga Adel pun keluar dari dalam kamar.


''Ada apa si teriak-teriak?'' tanya Adel dengan wajah penasaran.


''Ini, Del. aku menemukan amplop ini dari dalam lemari.''


''Apa ini?'' tanya Adelia menerima dan membuka amplop coklat tersebut.


''Isinya uang.''


''Uang...?'' Adel merasa tak percaya.


Namun ternyata yang di katakan oleh Axel adalah benar, setelah ia melihat sendiri dengan kedua matanya.


''Uang dari mana ini? jumlahnya banyak?''


''Aku menemukannya dari dalam lemari.''


''O ya? tapi uang siapa ini?''


Tak lama kemudian ibu pun datang, dan berdiri di samping Axel.


''Ada apa si ribut-ribut?''


''Ini, Bu. Axel menemukan amplop ini di dalam lemari ayah,'' Adel memberikan amplop tersebut.


''Apa ini?'' ucap ibu dengan menerima amplop yang di berikan oleh putrinya, membukanya dan terkejut seketika saat melihat isi di dalam amplop tersebut.



____________---------____________

__ADS_1


__ADS_2