
Axel menghampiri Gabriel yang berdiri tepat di belakang Axela, dia mengepalkan tangannya lalu...
Blug
Tanpa basa-basi El melayangkan bogem mentah tepat mengenai wajah Gabriel hingga dia tersungkur ke atas lantai seketika, darah segar pun sedikit keluar dari hidung pria tersebut.
Axela pun terkejut seketika itu juga, dia berteriak lalu memeluk tubuh kembarannya.
''Aaa...! cukup El, dia tidak salah, aku yang minta dia untuk mengijinkan aku menginap di sini,'' lirih Al, dengan sedikit terisak.
''Siapa dia, Al?'' tanya Briel, bangkit lalu menatap wajah Axel, yang memang memiliki wajah yang terlihat mirip dengan Axela.
''Dia saudara kembar aku.''
''Kalian kembar?''
Al mengangguk, masih dengan tangan yang mendekap erat tubuh Axel, yang kini sedang berontak hendak melepaskan diri, perasaannya diliputi rasa kesal kepada kembarannya, dan juga kepada pria yang telah membuat saudara kembarnya itu tidak pulang ke rumah, dan bahkan berbohong kepada kedua orangtuanya.
Akhirnya Axel pun bisa terlepas dari lingkaran tangan Al, dia kembali menghampiri Gabriel, dan kembali melayangkan pukulan, bahkan kali ini secara bertubi-tubi, hingga saat tubuh Gabriel tersungkur di atas lantai pun Axel masih melayangkan pukulannya, dengan duduk tepat di tubuh pria tersebut dengan tangan menghantam wajah Gabriel.
Amora yang sedari tadi hanya bisa menyaksikan pun, akhirnya menghampiri Axela yang kini menangis sesenggukan melihat saudara kembarnya yang sedang menghantam habis-habisan wajah tampan Gabriel.
"Al, apa yang terjadi? mengapa kamu bisa ada di sini?"
Tidak menghiraukan pertanyaan Amora, Al berlari menghampiri saudara kembarnya, kembali memeluk tubuhnya hendak menyingkirkan tubuh kekar Axel yang saat ini sedang berada di atas tubuh Gabriel.
Namun, karena Axel sedang dalam keadaan menghantam wajah Briel secara bertubi-tubi, alhasil tubuh Al terbanting kebelakang dan punggungnya menghantam tembok, membuat luka yang masih belum mengering itu kembali mengeluarkan darah segar.
Axela lemas seketika, dia berusaha kembali bangkit namun pandangannya berkunang-kunang dengan kepala yang terasa sangat pusing.
Hingga Akhirnya...
Blug...
Tubuh Al terkulai lemas di atas lantai, tidak sadarkan diri, membuat Axel menghentikan gerakannya, dan bangkit menghampiri kembarannya.
''Al... kamu kenapa?'' Axel meraih kepala Axela yang sudah dalam keadaan pingsan.
__ADS_1
''Saudaramu terluka...'' ucap Briel, mencoba bangkit, meski dengan wajah yang penuh dengan luka.
''Apa yang terjadi mengapa dia sampai terluka seperti ini?'' El mulai berkaca-kaca, lalu menatap wajah Gabriel dengan tatapan tajam penuh dengan kebencian.
''Tidak ada waktu lagi, cepat bawa saudaramu ke Rumah Sakit.''
''Aku akan kembali dan memberimu pelajaran, brengsek...''
Axel meraih tubuh Al lalu menggendong'nya, dengan setengah berlari keluar dari Area kontrakan, menyusuri gang hingga akhirnya sampai di jalan dimana mobil miliknya terparkir, di ikuti Amora yang ikut berlari di belakangnya.
Gabriel pun ikut berlari menyusul, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa saat tubuh Axela mulai di masukan ke dalam mobil oleh saudaranya.
Dia hanya bisa memandang mobil hitam milik Axel dengan pandangan nanar, saat mobil itu mulai melaju kencang di jalanan, berjalan dengan kecepatan tinggi, membawa Axela, wanita yang baru saja di tidur'nya pagi ini.
Ada rasa bersalah yang terselip di dalam relung hatinya, ada perasaan aneh juga yang perlahan menghantui relung jiwanya. Apakah perasaan itu adalah perasaan cinta? atau hanya rasa bersalah semata? Entahlah, Briel sendiri masih termenung sendiri, menata perasaan'nya yang penuh dengan tanda tanya.
Apakah dia benar-benar telah jatuh cinta, kepada wonder woman bernama Axela.
***
Axel dan Amora, duduk di ruang tunggu di depan ruang Unit Gawat Darurat, perasaan Axel sungguh sangat terluka mengingat keadaan saudara kembarnya.
Sebagai saudara yang di lahir'kan dari rahim yang sama dan lahir di hari dan waktu yang sama pula, Axel seolah dapat merasakan kesakitan yang kini sedang di rasakan oleh kembarannya.
Dia duduk dengan kepala yang menunduk, menatap lantai rumah sakit dengan mata yang terlihat mulai berkaca-kaca. Hatinya sungguh di rundung derita.
''Kamu yang sabar, El. Aku yakin Al, akan baik-baik saja,'' Amora mengusap punggung El, mencoba menenangkan.
''Apa yang terjadi dengan dia, dari mana dia mengenal pria brengsek itu,'' El terlihat begitu geram.
''Kita bisa bertanya nanti, saat Al sudah bangun, ya.''
El terdiam, masih menunduk menahan rasa pilu, air matanya bahkan mulai berjatuhan, merasakan kesedihan yang mendalam sekaligus penyesalan karena tidak bisa menjaga saudara kembarnya dengan baik.
Tidak lama kemudian Dokter pun keluar dari dalam ruangan, Axel serta Amora segera menghampiri.
''Bagaimana keadaan saudara saya, Dokter?''
__ADS_1
''Sepertinya luka di punggung pasien sudah inspeksi, karena terlambat di bawa kemari dan hanya di obati seadanya, tapi kamu sudah menjahit dan memberikan pertolongan, mudah-mudahan saja inpeksi yang terjadi tidak terlalu parah.''
''Apakah dia akan baik-baik saja, Dok?'' Axel kembali bertanya dengan mata yang masih terlihat berkaca-kaca.
''Tentu saja, lukanya akan perlahan mengering dan sembuh, meski membutuhkan waktu yang sedikit lama, dan pasien harus si rawat selama seminggu di sini, agar kami bisa mengontrol kondisi luka tersebut.''
''Baik, Dok. Terima kasih.''
''Pasien akan segera di bawa ke ruang rawat inap. Kalau begitu saya permisi.''
Dokter tersebut pun berjalan dan meninggalkan Axel dan juga Amora yang masih dalam keadaan berdiri. Tidak lama kemudian para Perawat keluar dari dalam ruangan dengan membawa Axela, berbaring di ranjang Rumah Sakit, dalam keadaan terpejam.
''Pasien akan segera di bawa ke perawatan, apakah ruangannya sudah siap?'' ucap salah satu perawat.
''Sudah Suster, di ruang VVIP, di lantai dua, ruangan no 125.'' jawab Axel yang memang sudah memesan ruangan khusus yang akan di jadikan ruangan saudaranya dalam menjalani perawatan.
''Baiklah, kami akan membawanya ke sana.''
Perawat yang berjumlah tiga orang segera mendorong ranjang dan membawanya ke ruangan yang tadi sebutkan oleh Axel, dan tentu saja di ikuti oleh Axel dan Amora.
***
''Apakah Tante belum di beri tahu?'' tanya Amora di dalam ruangan, berdiri tepat di samping Axel di pinggir ranjang.
''Aku akan memberitahu mommy nanti, saat Al sudah siuman, dia pasti akan terkejut dan sangat sedih kalau sampai melihat Al dalam keadaan seperti ini,'' Axel menatap wajah Al dengan tatapan penuh kesedihan.
''Lalu Lucky, apakah dia sudah tahu?''
Ceklek...
belum juga Axel menjawab, sang adik Lucky masuk ke dalam kamar, dengan wajah yang terlihat sedih, berjalan menghampiri ranjang dimana Kaka perempuannya terbaring dengan mata yang masih terpejam.
''Kaka...? apa yang terjadi dengan dia, Abang? kenapa dia jadi seperti ini, hiks hiks hiks...'' Lucky menangis sesenggukan seperti anak kecil, menatap wajah Kaka perempuannya.
''Abang juga tidak tahu, nanti kita bisa bertanya saat Al sudah bangun...!''
______________-----------_____________
__ADS_1