Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Mengobati Kesedihan


__ADS_3

Lucky dan Ayu terkejut seketika melepaskan pelukan mereka, keduanya langsung berdiri serempak lalu menatap wajah Adelia sang ibu.


''Mom ...'' suara Lucky terbata-bata.


''Siapa yang akan dimasukan ke panti rehabilitasi? apa kamu Ayu ...?'' tanya Adelia berjalan mendekat menatap wajah Ayu dan juga Lucky secara bergantian.


''Eu ... Anu ... Mom ...'' Lucky ragu-ragu.


''Iya, Tante. Aku memang seorang pecandu, dan aku sedang berusaha untuk sembuh, hiks hiks hiks ...'' jelas Ayu dengan berurai air mata.


''Masuk ... Kita bicara di dalam ...'' pinta sang ibu, berbalik lalu masuk ke dalam rumah.


Ayu tidak bergeming, dia berdiri mematung meremas baju yang dipakai Lucky keras, menatap dengan tatapan nanar dan tentu saja dengan air mata yang terus membanjiri pipi tirusnya, wajah Ayu nampak ketakutan, semburat kesedihan pun tergores jelas di wajah cantiknya.


''Gak apa-apa, kita masuk saja. Aku yakin Mommy akan mengerti dengan keadaan kamu, gak usah takut sayang, ada aku di sini,'' lirih Lucky, meletakan kedua telapak tangan di pipi Ayu, menatap dengan penuh keyakinan.


''Aku takut, Lucky ...''


''Jangan takut, sayang. Aku akan menemani kamu,'' lirih Lucky menggenggam erat jemari Ayu erat.


''Kenapa kalian diam saja, cepat masuk ...'' tegas Adelia memutar badan.


''Baik, Mom. Kami datang.''


Lucky dan Ayu berjalan mengikuti sang ibu masuk ke dalam rumah dengan tangan yang saling ditautkan, langkah Ayu terasa berat sebenarnya, dengan tubuh yang gemetar.


Di dalam rumah, Adelia sudah duduk di kursi ruang tamu, Axela pun ikut menemani, duduk di samping sang ibu yang saat ini menatap dengan tatapan tajam ke arah Ayu dan juga Lucky yang duduk saling berdampingan.

__ADS_1


''Mom ... Ada apa sebenernya? kenapa Mommy seolah-olah akan menyidang Lucky dan Ayu ...'' tanya Al yang tidak tau kejadian yang sebenarnya.


''Kalian berdua, jawab pertanyaan Mommy, apa benar yang Mommy dengar tadi? Mommy gak ingin ada kebohongan, jawab dengan jujur ...'' tegas Adelia.


''Mom-''


''Benar Tante ... Sudah selama satu tahun ini aku memakai barang haram, tapi semenjak bertemu dengan Lucky, aku perlahan menghentikan kebiasaan aku itu, dan aku ingin sembuh dan akan berusaha untuk sembuh, Tan ...'' jelas Ayu sedikit terisak.


Adelia menghela napas panjang, memijit pelipisnya yang sebenernya tidak terasa pusing sama sekali.


''Mom ... Ada alasan kenapa Ayu sampai terjerumus ke dunia hitam seperti ini, sebenarnya dia pun gak ingin seperti itu, namun, keadaan memaksanya karena ingin mencari ketenangan dan kebahagiannya sendiri,'' Lucky ikut menjelaskan.


''Tapi tetap saja, apapun alasannya menggunakan barang haram itu tetap gak boleh, dan itu sudah di atur dalam Undang-undang di negara kita,'' ucap Adelia lembut, namun, tatapan matanya terlihat tajam.


''Aku tau, Tan. Dan aku pun menyesal. Sebenarnya aku tumbuh di tengah-tengah keluarga yang gak normal, kedua orang tua aku selalu bertengkar setiap hari, ayah bahkan tidak segan untuk memukul dan menyiksa ibu meskipun di depan aku anaknya sendiri, tapi anehnya mereka masih bertahan dan tidak memilih untuk bercerai, padahal akan lebih baik jika mereka berpisah dan mencari kebahagian masing-masing.''


''Aku tau aku salah, Tante. Dan aku menyesal, sungguh ... Sekarang aku sedang berusaha untuk sembuh, tapi aku gak mau kalau harus masuk ke panti rehabilitasi, aku takut ... hiks hiks hiks ...'' jelas Ayu panjang lebar, diiringi dengan suara isakan yang terdengar pilu.


Reaksi Adelia sungguh di luar dugaan, Ayu yang mengira bahwa Ibu dari kekasihnya itu akan membenci dirinya dan menyuruhnya untuk meninggalkan Lucky kini berbanding terbalik.


Adelia berdiri lalu berjalan menghampiri Ayu, dia duduk di samping Ayu dan memeluknya erat, mengusap punggung Ayu lembut penuh kasih sayang.


Sontak, Ayu pun langsung menangis sesenggukan, tangisnya bahkan terdengar pilu, menumpahkan semua kesedihan yang selama ini dia tahan di dalam dekapan Adelia.


Tanpa amarah, tanpa makian ataupun hujatan yang selama ini selalu dia terima dari sang ayah, membuat hati Ayu benar-benar tenang, andai saja ibunya bisa bersikap seperti ini.


Andai saja ibunya bisa memberinya dukungan, memeluknya seperti yang saat ini dilakukan oleh Tante Adelia, mungkin saja sudah sejak dulu gadis bernama Ayu itu berhenti menjadi pecandu.

__ADS_1


''Menangis'lah, Ayu. Menangis'lah sepuas kamu, siapa pun gak akan ada yang bisa bertahan berada di tengah-tengah keluarga seperti itu, Tante mengerti perasaan kamu, sayang. Jadi, jangan sembunyikan kesedihan kamu lagi, keluarkan semuanya sampai beban di hati kamu sedikit berkurang,'' lirih Adelia mengusap lembut punggung Ayu.


''Makasih, Tante ... Makasih banyak ... hiks hiks hiks ...'' ucap Ayu menangis tiasa henti.


Lucky yang menyaksikan semua itupun tidak kuasa menahan rasa harunya, tanpa terasa air matanya pun memenuhi kelopaknya kini, dan sedetik kemudian buliran air mata itu pun berjatuhan membahasi wajah tampan seorang Lucky.


Setelah merasa tenang, Ayu pun melepaskan pelukan Tante Adelia, dia menatap nanar wajah teduh penuh kasih sayang Tante Adelia.


''Aku gak mau masuk panti rehabilitasi, Tan ... Aku takut ... Ayah pasti akan memaksa aku untuk mengikuti kemauannya,'' ucap Ayu pelan.


''Sayang ... Dengarkan Tante, mungkin ayah kamu melakukan itu demi kebaikanmu, ayahmu juga ingin kamu sembuh ...''


''Nggak, dia sama sekali gak pernah peduli sama aku, terakhir kali dia bahkan hendak memukul aku dengan gesper ... Aku takut ketemu sama ayah, tolong aku ...'' Mata Ayu semakin sayu, menatap nanar dengan buliran air mata yang semakin deras membasahi pipinya.


Adelia sama sekali tidak mengatakan apapun lagi, karena dia tidak memiliki kekuasaan apapun untuk melarang ataupun mencegah keinginan ayah Ayu untuk memasukannya ke panti rehabilitasi, alhasil dia hanya bisa kembali memeluk tubuh rapuh gadis itu, mengusap rambut serta punggungnya penuh kasih sayang.


Saat semua yang ada di sana larut dalam kesedihan yang mendalam, tiba-tiba saja suara bel rumah berbunyi, dengan tergopoh-gopoh Bibi berjalan menuju pintu dan membukanya.


Ceklek ...


Pintu pun di buka oleh Bibi.


''Ayu ... DIMANA KAMU? CEPAT PULANG ANAK NAKAL.''


Terdengar suara Revan, menerobos masuk ke dalam rumah, berteriak keras hingga suaranya menggelegar dan memantul di seisi ruangan luas itu.


Ayu yang sedang memeluk Tante Adelia pun sontak melepaskan pelukan, menatap dengan penuh ketakutan ke arah dimana sang ayah sedang berjalan sekarang.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2