
Akhirnya hari bahagia itu pun tiba, hari dimana Alex akan resmi mempersunting wanita bernama Emillia, acara pernikahan diadakan di hotel berbintang lima, dan tentunya acara tersebut diselenggarakan secara besar-besaran.
Sebelum acara dimulai, Alex nampak sedang duduk di kamar khusus yang memang diperuntukkan untuk pengantin, dia terlihat begitu rapi mengenakan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi membuat penampilan Alex benar-benar terlihat gagah dan tampan.
Alex terlihat sedang termenung sendiri, sejujurnya dia merasa gugup, mulutnya nampak komat-kamit menghapal ijab-qobul yang akan dia ucapkan, karena dia sendiri tidak ingin kalau sampai dirinya salah mengucapkan kata sakral tersebut.
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu pun di ketuk dan Leo masuk ke dalam ruangan tersebut. Dengan tersenyum, Leo berjalan menghampiri Alex lalu duduk tepat disampingnya.
''Jangan ngeledek dulu, aku lagi malas mendengar ledekan kamu, Leo ...'' ucap Alex menoleh menatap wajah sahabatnya.
''Ish ... kamu ini, su'udzon aja sama aku. Mana mungkin aku meledek kamu di hari yang spesial ini, yang ada, aku mau ngucapin selamat,'' jawab Leo.
''Jangan cuma ngucapin selamat doang, hadiah spesial yang kamu janjikan itu mana? jangan cuma ngomongnya aja, Leo ...''
''Iya ... Iya ... Aku bawakan kado spesial buat kamu, nih aku berikan sekarang aja, tadinya si aku mau ngasih ini nanti saat kamu selesai mengucapkan ijab-qobul, tapi karena kamu gak sabaran aku berikan sekarang, deh,'' ucap Leo, seraya mengeluarkan kotak hadiah berukuran kecil dari dalam saku jas hitam yang dikenakannya.
''Apa ini? masa kado spesial kayak gini? kecil banget, kamu lagi bercanda 'kan?'' gerutu Alex, menatap kotak berwarna hitam yang diberikan oleh Leo.
''Dasar tua bangka tidak tau terima kasih, buka dulu, baru ngeluh ...''
Alex pun perlahan membuka kotak tersebut dengan tersenyum mengejek, lalu senyum itu pun berubah menjadi senyum bahagia sekaligus terkejut dengan apa yang ada didalam kotak itu.
''Kunci ...? kunci apa ini? Apa ini kunci mobil?'' tanya Alex masih dengan senyum yang mengembang dari kedua sisi bibirnya.
__ADS_1
''No ... No ... No ...! kunci ini lebih spesial dari pada mobil.''
''Jangan bilang kalau ini kunci ru-mah ...?'' Alex membulatkan bola matanya seketika.
''Yap betul, aku spesial membelikan rumah baru untuk kamu, rumah itu spesial aku beli sebagai kado istimewa karena akhirnya ada wanita yang mau menikah dengan bujang tua kayak kamu, ha ... ha ... ha ...!''
Sungguh di luar dugaan, ternyata mata Alex berkaca-kaca kini, saking terharu dengan apa yang diberikan oleh Leo, dan suara Isak pun sedikit terdengar, membuat Leo menoleh ke arah Alex lalu kembali meledek.
''Jangan cengeng, aku punya banyak uang, cuma membelikan-mu rumah gak akan membuat aku miskin. Aku berharap semoga pernikahan kamu bahagia, langgeng sampai maut memisahkan kalian berdua. Aku benar-benar bahagia melihat kamu akan menikah, Lex ...'' ucap Leo yang sebenarnya juga berkaca-kaca.
''Ha ... ha ... ha ... Ternyata kamu juga mewek, masa bos mafia mewek,'' ledek Alex mengusap buliran air mata yang kian deras membasahi pipinya.
''Nggak, siapa yang mewek, aku cuma kelilipan doang, Alex.'' Jawab Leo yang juga mengusap wajahnya yang kini basah dengan air mata.
''Aku sungguh berterima kasih, Leo. Hadiah yang kamu berikan ini benar-benar spesial, aku senang sekali, kamu memang sahabat terbaik aku,'' ucap Alex menoleh menatap wajah sahabatnya tersebut.
''Ha ... ha ... ha ...''
Keduanya pun tertawa bersama, sampai akhirnya Amora dan Axel masuk ke dalam ruangan, memakai pakaian seragam membuat mereka berdua terlihat begitu serasi.
''Dad ...'' Amora mendekat lalu memeluk sang ayah.
''Sayang ...''
''Apa Daddy sudah siap?''
__ADS_1
Alex mengangguk.
''Penghulunya sudah datang, kita harus segera keluar sekarang.''
''O ya ...?'' Alex terkejut dan semakin gugup.
''Kenapa? apa kamu gugup?'' tanya Leo.
''Eu ... Nggak ko, biasa aja ...''
''Bohong ... wajahmu keringatan. Coba ikuti aku. Tarik napas panjang ... lalu hembuskan perlahan ... lakukan itu selama beberapa kali, aku jamin perasaan kamu akan tenang.''
Alex pun mengikuti apa yang Leo katakan, dia menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, melakukan hal itu selama beberapa kali, sampai perasaannya benar-benar tenang.
''Gimana ... bisa kita keluar sekarang?'' tanya Amora.
''Oke, Daddy siap.''
''Tunggu sebentar, Lex. Dasi kamu miring.''
Leo merapikan dasi yang kenakan oleh Alex berikut dengan jas hitam yang kini membalut tubuh kekar Alex hingga pakaian yang dikenakan oleh calon pengantin itu, benar-benar sempurna.
''Nah, mari kita keluar sekarang,'' ajak Leo yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Alex.
Mereka pun perlahan keluar dari dalam ruangan. Alex berjalan tepat di tengah dengan di apit oleh Amora di sebelah kiri dan Leo sang sahabat berjalan di sebelah kanan calon pengantin, sementara Axel dia berjalan tepat di belakang Amora.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀