Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Misi


__ADS_3

Malam ini misi penyelamatan pun siap di jalankan, Gabriel, Axel, dan juga Lucky nampak sudah memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan topi hitam, di tambah masker untuk menutupi separuh wajahnya, tidak lupa Leo pun mengutus dua orang anak buahnya untuk menemani mereka bertiga.


Mereka nampak sudah berkumpul di ruang kerja Leo, Adelia sang ibu pun nampak berada di sana untuk memberikan dukungan dan juga doa agar putra serta menantunya kembali dengan selamat.


Berat sebenarnya bagi seorang Adelia melepas kepergian mereka, namun, apalah daya, rasa cemas dan ketakutan yang kini menyelimuti hati Ibu dari tiga orang anak itu harus dia tepis jauh-jauh, agar ketiga putranya selamat dan dirinya tidak terlalu khawatir.


Adel memeluk satu-persatu putra serta menantunya, Axel, Lucky dan terakhir adalah menantu kesayangannya.


''Gabriel, tolong jaga ketiga saudaramu, Mommy serahkan keselamatan mereka padamu, dan Mommy doakan semoga Ayu bisa datang kemari dalam keadaan selamat,'' ucap Adel memeluk erat menantunya itu.


''Baik, Mom. Aku janji akan membawa mereka kembali dengan selamat, dan tentu saja membawa Ayu bersama kita, Mommy gak usah khawatir, ya ...'' jawab Briel.


Axela yang juga berada di sana pun, nampak menatap nanar wajah suaminya itu, dia mengelus perutnya yang kini sudah semakin membesar. Briel menghampiri dan memeluk tubuh sang istri seraya mengelus perutnya lembut.


''Jangan khawatir sayang, kamu tau 'kan aku ini siapa? Aku pasti akan kembali dengan selamat, doakan aku semoga misi ini berjalan dengan lancar ...'' ucap Briel, mengurai pelukan lalu mengecup kening istrinya itu.


''Iya, sayang. Aku percaya padamu, aku yakin bahwa kamu pasti akan selamat dan kembali dengan membawa Ayu, dan juga kedua saudaraku ini,'' jawab El, berbohong, karena sebenarnya hatinya merasa sangat cemas sekarang.


''Pap, kami bisa pergi sekarang?'' tanya Axel.


''Pergilah, doa papi menyertai kalian, kalian adalah putra-putra kebanggaan Papi,'' jawab Leo menahan rasa sedih sebenarnya.


''Kami akan mengintai dahulu, setelah Revan benar-benar keluar dari dalam rumahnya, baru kami akan masuk,'' ucap Briel.


''Tunggu, kalian jangan masuk dulu sebelum Papi memberi instruksi, nanti Papi akan memberi pesan kepada kalian kalau Revan sudah benar-benar berada di klub malam bersama Papi,'' jawab Leo.


''Baik, Pap. Kalau begitu kami pergi sekarang.''


Ketiganya pun keluar dari dalam ruangan, diiringi tatapan nanar dari Adelia dan Axela, yang menatap dengan perasaan sedih kepergian mereka bertiga.


''Kalian gak usah khawatir, Papi percaya sama mereka bertiga, mereka putra Papi, pimpinan Mafia terhebat, terkuat dan tentu saja tertampan di negara ini,'' ucap Leo berjalan menghampiri Adelia dan juga Axela.


Adelia dan Axela pun serentak menatap wajah Leo dengan tatapan tajam, membuat Leo menggaruk kepalanya seketika.


''Iya ... iya ... Mafia tampan ini janji, ini adalah misi terkahir, setelah ini perkumpulan Mafia Papi itu akan Papi bubarkan, dan Papi beri mereka pesangon yang besar agar mereka semua bisa membuka usaha yang halal,'' ucap Leonardo memeluk kedua wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


''Iya, sayang. Mendingan kamu berangkat sekarang,'' pinta Adelia sang istri.


''Baik, sayang. Kamu gak meluk aku dulu, sama seperti yang kamu lakukan sama putra kita tadi?'' pinta Leo dengan nada manjanya.


''Hmmm ...'' Adelia menghela napas panjang lalu memeluk tubuh suaminya itu, mendekapnya erat.


''I Love you, sayang ...''


Bisik Adelia.


''I Love you too, istriku ..."


Jawab Leo, mengurai pelukan lalu mengecup kening sang istri.


''Aku berangkat sekarang, ya. El jaga ibumu ...''


''Baik, Pap.''


Leo pun keluar dari dalam ruangan, berjalan beriringan dengan istri dan juga putri kesayangannya, yang memang akan mengantar dirinya sampai ke depan.


''Tentu saja, sayang ...''


''Syukurlah, itu berarti kamu tidak sendiri menghadapi pria jahat itu,'' ucap Adelia bernapas lega.


''Memangnya kenapa? sendirian juga aku pasti menang melawan si Revan itu?''


''Hus ... jangan bikin aku khawatir, ya ...?'' Adelia membulatkan bola matanya, menoleh menatap wajah suaminya.


''Iya ... iya ... sayang ...''


Mereka pun sampai di garasi dimana mobil Leo berada. Leo menatap wajah Adelia dan juga El secara bergantian sebelum dia mulai memasuki mobil.


''Hati-hati, sayang ...'' ucap Adelia melepas kepergian suaminya itu dengan perasaan cemas sebenarnya.


Leo melambaikan tangannya dari dalam mobil, dan mulai menyalakan mobil dan benar-benar meninggalkan kediamannya dengan diiringi tatapan cemas dari mata Istri dan juga putrinya.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sementara itu, Gabriel dan keempat orang lainnya menunggu di dalam mobil, menunggu mobil yang dikendarai oleh Revan keluar, dan juga menunggu instruksi dari Leonardo.


''Dengarkan aku, kalian berdua dan aku akan melawan para penjaga itu, sementara Lucky dan Axel langsung masuk ke dalam rumah mencari target, mengerti ...'' ucap Briel yang langsung di jawab dengan anggukan oleh semua yang ada di dalam mobil.


''Kamu jangan jauh-jauh dari Abang, Dek. Ingat kamu harus berpegangan sama Abang, kamu gak punya keahlian bela diri, akan sangat berbahaya kalau sampai kamu terpisah dari kami,'' ucap Axel penuh penekanan.


''Baik, bang. Aku akan mengingat baik-baik pesan Abang ini.''


Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Revan pun nampak keluar dari halaman rumahnya, mereka pun nampak memperhatikan mobil tersebut sampai mobil itu benar-benar berjalan menjauh di telan kegelapan.


''Om Revan sudah pergi, bang. Sebaikanya kita segera masuk sekarang,'' pinta Lucky tidak sabar.


''Tunggu, Dek. Papi belum memberi instruksi, kita tunggu sampai Papi menelpon kita,'' jawab Axel.


''Tapi, bang. Yang terpenting adalah Om Revan itu sudah tidak ada di sana, dia sudah pergi, dan aku takut Ayu kenapa-kenapa di dalam ...''


''Sabar, Dek. Aku yakin Ayu akan baik-baik saja, kita tunggu sebentar lagi, oke ...'' ucap Briel.


''Hmm ...'' Lucky menghela napas panjang, dia sungguh tidak sabar untuk segera masuk ke dalam sana, entah mengapa perasaannya benar-benar merasa tidak enak.


Hati seorang Lucky benar-benar diliputi rasa gelisah, dan perasaannya mengatakan bahwa Ayu yang ada di dalam sana sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, dan nyawanya dalam bahaya, entah itu adalah sebuah pirasat atau hanya kekhwatiran-nya saja yang terlalu berlebihan.


Akhirnya, ponsel Briel pun bergetar, tanda sebuah pesan masuk, Briel nampak menatap layar ponsel lalu membuka pesan tersebut.


''Kita masuk sekarang,'' pinta Briel setelah membaca pesan yang berasal dari ayah mertuanya.


''Kalian siap?''


Semuanya pun mengangguk serempak, setelah itu turun dari dalam mobil dan berjalan menuju pagar tinggi yang menjadi pembatas antara area rumah dan jalan raya.


Briel nampak mengendap-endap memperhatikan area sekitar rumah yang memang jiga oleh beberapa orang bertubuh besar, di sana ada sekitar 10 orang yang berjaga di setiap sudut halaman bahkan menjaga pintu utama.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2