Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Candu


__ADS_3

Revan berdiri dan berjalan hendak naik ke lantai dua, dia melintasi kaca jendela yang menghubungkan antara ruangan dalam dengan area kolam renang, dan tanpa sengaja dia melihat putrinya sedang berciuman dengan kekasihnya.


''Ck ... Ck ... ck ... dasar anak muda jaman sekarang, ciuman di tempat terbuka, gak ada malu sama sekali, bikin ngiri yang tua aja,'' ucap Richard pelan seraya menggelangkan kepalanya.


Kemudian dia pun naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.


Sementara itu, yang sedang dimabuk asmara pun tidak menyadari bahwa ciuman hangat mereka dilihat oleh Revan, mereka masih saja terlihat semakin panas dan bahkan saling memutar kepala dengan bibir yang saling menyesap satu sama lain, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan merasa iri.


Ayu melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih, sementara Lucky meletakan kedua telapak tangannya di pipi putih Ayu, mereka pun semakin memperdalam ciuman memasukan lidah dan bermain di dalamnya.


Sesaat kemudian mereka pun melepaskan tautan bibir mereka masing-masing, saling menatap satu sama lain dan saling melemparkan senyuman.


Senyum yang mengembang di bibir Lucky bahkan terlihat begitu manis, membuat Ayu tidak tahan untuk tidak mengecup tipis bibir yang sudah nampak basah itu.


''Ini ciuman pertamaku,'' lirih Ayu tersipu.


''O ya ...? kamu belum pernah berciuman sebelumnya?''


Ayu menggelangkan kepalanya.


''Kamu adalah satu-satunya pria yang merasakan bibir manis ini,'' jawab Ayu tersenyum.


Lucky pun membalas senyuman kekasihnya itu, mengusap rambutnya mesra lalu mengecup keningnya dengan mata yang di pejamkan.


Saat mereka sedang hangat-hangatnya merasakan kebersamaan dalam merajut cinta, tiba-tiba saja tubuh Ayu terasa dingin dan sedikit bergetar, bibirnya bahkan terlihat membiru seperti orang yang benar-benar kedinginan.


Sontak Lucky pun panik, dia meletakan tangannya di kedua sisi pipi kekasihnya itu, menatapnya dengan tatapan cemas, dan menatap wajah Ayu dengan seksama.


'Apa rasa candunya sedang kambuh?' (Batin Lucky)


Lucky sudah dapat menduga bahwa kejadian seperti ini akan terjadi. Seorang pecandu yang belum sembuh pasti akan mengalami rasa dingin ditubuhnya, dan rasa dingin itu hanya akan hilang setelah orang tersebut meminum barang haram itu.


Kini, Ayu menyilang'kan kedua tangannya di pundaknya sendiri, dengan mata yang sedikit terpejam, suara giginya pun terdengar saling beradu menahan rasa dingin di dalam tubuhnya.


''Ayu, sadar yu, kamu harus kuat, kamu gak boleh kalah, aku mohon kuat ...'' lirih Lucky mendekap erat tubuh Ayu yang semakin gemetar.


''A-ku ti-dak ku-at, Luck. To-long a-ku ...'' lirih Ayu berusaha membuka matanya.


''Tidak, kamu harus kuat, sayang. Ada aku di sini,'' Lucky semakin mendekap erat tubuh kekasihnya itu yang terasa semakin gemetar hebat.


Lucky yang merasa semakin panik, dia berteriak sekuat tenaga memanggil ayah dari kekasihnya itu.

__ADS_1


''OM ... OM REVAN, TOLONG AYU, OM ...'' teriak Lucky sekuat tenaga.


Beberapa kali dia berteriak namun, Revan sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya, yang keluar malah Assisten Rumah Tangga yang bekerja di sana.


''Non Ayu kenapa, Den ...?'' tanya Bibi berjalan menghampiri.


''Tolong panggilkan Om Revan, bi.'' Pinta Lucky memeluk erat.


''Tuan Revan tadi baru saja keluar, Den.''


''Kalau Tante?''


''Dia juga sedang tidak ada di Rumah,'' jawab Bibi dengan tatapan panik.


''Ya sudah, saya akan membawa Ayu ke kamarnya aja, bi.''


''Baik, Den. Cepat bawa Non Ayu ke kamarnya,'' ucap Bibi, berjalan di depan.


Lucky pun menggendong tubuh kekasihnya, dengan perasaan cemas dan mata yang terlihat berkaca-kaca Lucky berlari ke lantai dua dimana kamar kekasihnya itu berada.


''Dingin ... Luck ... Tolong aku ...'' lirih Ayu di dalam gendongan Lucky.


''Iya, sayang. Ada aku di sini, aku gak akan meninggalkan kamu, aku akan selalu menemani kamu,'' jawab Lucky di sela-sela langkahnya.


Bibi membukakan pintu kamar agar Lucky bisa masuk dan segera membaringkan tubuh Ayu, yang nampak semakin menggigil.


Bruk ...


Ayu menjatuhkan diri ke atas kasur, sebelum Lucky meletakkan tubuhnya membuat Lucky terkejut seketika, wajah ayu terlihat menggeliat dengan suara erangan yang terdengar nyaring, bola matanya pun membulat sempurna.


''Tolong aku, Luck. Tolong ... aku ingin sembuh ...'' teriak Ayu.


Lucky segera menyambar tubuh Ayu, memeluknya erat, membawanya dalam dekapan dan membenamkan wajah sang kekasihnya itu di dada bidangnya, mencoba menenangkan.


''Tenang, sayang. Aku yakin kamu pasti kuat, hiks ... hiks ... hiks ...'' tangis Lucky pecah seketika tidak kuasa melihat keadaan kekasihnya.


Ayu, dia semakin berontak, menahan sekuat tenaga rasa hausnya akan barang haram yang biasa dia gunakan, tenggorokannya terasa begitu kering, darahnya bagai mendidih, menahan gejolak rasa yang begitu menyiksa.


''Aku gak kuat, Luck. Cepat berikan barang itu sama aku ... aku gak kuat ... hiks hiks hiks ...'' teriak Ayu, berontak dari dalam dekapan Lucky.


Dia berusaha melepaskan diri, mencakar bahkan menendang, namun, dekapan Lucky yang begitu erat membuat usaha seorang Ayu sia-sia

__ADS_1


Lucky menahan rasa perih di tangannya akibat cakaran kekasihnya itu, menahan rasa nyeri di dadanya karena Ayu terus memukul dada bidangnya secara berkali-kali.


Sampai akhirnya, Ayu berhasil melepaskan diri, dia menendang perut Lucky keras, membuat pertahanan terakhir Lucky pun runtuh seketika itu juga.


Ayu segera berlari ke pojokan yang ada di belakang pintu kamarnya duduk dengan memeluk lututnya, seraya mengigit ujung kuku jempolnya, menatap nanar ke arah Lucky, dengan wajah yang penuh dengan air mata.


''Jangan mendekat, kalau tidak, aku bisa melukai seluruh tubuhmu, aku mohon keluar dari kamar aku sekarang juga, hiks hiks hiks ...'' teriak Ayu, diiringi tangisan yang terdengar begitu pilu.


''Tidak, sayang. Aku gak peduli meski kamu harus melukai seluruh tubuh aku, asalkan kamu bisa menahan rasa hausnya itu, aku yakin kamu pasti bisa, aku akan bantu kamu agar kamu bisa sembuh, sayang ...'' jawab Lucky, menahan rasa getir dihatinya.


''Aku ingin sembuh, Luck. Hiks hiks hiks ... Tapi aku juga gak bisa menahan rasa haus ini, tolong ... hiks hiks hiks ...!'' lirih Ayu, mengiba menatap wajah kekasihnya.


Lucky duduk tepat di depan kekasihnya itu, memeluk erat tubuhnya, keduanya pun menangis sesenggukan di dalam pelukan masing-masing.


Tidak lama kemudian, Revan yang segera di telpon oleh Bibi langsung pulang ke rumah, dia masuk ke dalam kamar, berteriak memanggil nama Ayu.


''AYU ... DIMANA KAMU, HAH ...?'' teriak Revan memasuki kamar dan menatap sekeliling.


''Kami di sini, Om ...'' jawab Lucky dari balik pintu.


Revan pun memutar badan dan menoleh ke arah sumber suara, matanya membulat sempurna, rahangnya mengeras dengan wajah yang memerah, merasa geram melihat keadaan putrinya.


''Bangun, Lucky ...! BANGUN ...!'' teriak Revan membuat Lucky terkejut.


''Tapi, Om ...!''


''OM BILANG, BANGUN-BANGUN ...! HANYA ADA SATU CARA AGAR DIA CEPAT SADAR ...''


Akhirnya Lucky mengikuti keinginan ayah dari kekasihnya tersebut, dia melepaskan pelukan dan hendak bangkit, diiringi tatapan sendu dari mata ayu yang juga menggelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat bahwa dia tidak ingin dilepaskan, namun, tangan Revan segera meraih paksa kerah baju Lucky dan membanting tubuh pria itu ke atas lantai.


Kini Ayu semakin memeluk lututnya, dengan linangan air mata terus membanjiri wajah cantiknya, mengigit bibir wajahnya keras hingga darah segar pun keluar dari sela bibir ranumnya.


Perlahan Revan membuka gesper kulit yang melingkar di pinggangnya, dengan tatapan penuh amarah mengarah tajam ke arah putrinya, membuat Lucky terkejut sekaligus heran dengan apa yang akan dilakukan oleh Revan.


''Om ...? Om mau apa?'' tanya Lucky berdiri tegak tepat di samping Revan.


''Diam, ini bukan urusan kamu, dia harus di beri hukuman agar dia jera,'' jawab Revan, mengangkat gesper yang sudah ada di tangannya.


Sedetik kemudian ...


Plak ...

__ADS_1


Sabetan pun mengenai punggung, namun, bukan punggung sang putri melainkan punggung Lucky yang dengan cepat memeluk tubuh Ayu, membelakangi Revan, sehingga sabetan gesper itu tepat mengenai punggungnya keras.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2