
Pagi pun menjelang, Kokok ayam menggema di setiap ujung gang, matahari perlahan mulai naik ke permukaan, sinarnya yang hangat mulai masuk dari balik celah jendela dan menghangatkan setiap kamar.
Lucky, semakin mengeratkan pelukannya kepada gadis yang dia kira adalah kakaknya, dia bahkan melingkarkan kakinya di pinggul gadis tersebut.
Sementara itu, Amora mulai membuka matanya, membuka sedikit demi sedikit, mengedipkan'nya secara perlahan mencoba menyesuaikan cahaya yang mulai masuk dari balik jendela.
Namun, tatkala dia mulai membuka mata secara sempurna, hatinya di buat terkejut seketika, saat menatap satu kaki yang melingkar di pinggulnya dengan tangan yang memeluk erat tubuh rampingnya.
Amora pun memutar badan, dan dia pun berteriak kencang saat melihat wajah pria yang sedang terlelap begitu nyenyak tepat berada di depan wajah'nya.
''Ha...'' Teriak Amora.
Refleks, dia pun menendang perut Lucky dengan sekuat tenaga hingga tubuh tinggi remaja tampan itu terjungkal ke atas lantai.
Lucky bangun dan terkejut, wajahnya terlihat memerah karena jatuh tepat di atas lantai, dengan keningnya yang sedikit memar.
''Kaka...! Apa-apaan sih? sakit tau!''
Lucky kembali bangkit, berdiri dan menatap wajah gadis yang dia kira adalah kakaknya, dia pun membulatkan matanya merasa terkejut saat melihat gadis itu bukanlah Axela.
''Kamu...? siapa kamu? kenapa ada di kamar kakakku?'' tanya Lucky sedikit berteriak.
''Kamu yang siapa? peluk-peluk orang sembarangan.''
''Ada apa sih, pagi-pagi udah ribut?'' Axel bangkit duduk lalu menguap dengan mata yang masih sedikit di pejamkan.
''Kaka...?''
Lucky membulatkan bola mata'nya secara sempurna, menatap wajah Axela Kaka perempuannya.
''Dek, ada apa pagi-pagi udah bikin kegaduhan di kamar kakak?'' tanya Al merentangkan kedua tangannya.
''Dia adik Lo?'' Amora.
Al mengangguk.
''Tadi dia peluk-peluk gue, ikh... mesum banget si?'' Amora menatap wajah Lucky.
''Kamu orang kedua yang bilang gue mesum, padahal gue gak mesum, gue kira Lo tuh kakak gue.''
Lucky menjawab dengan nada suara yang sedikit bergetar.
''Apa kamu tidur sambil berjalan lagi, dek? kebiasaan banget sih.'' Axela.
Merasa di pojokan, Lucky pun memilih untuk keluar dari dalam kamar dengan perasaan kesal, dan bibir yang sedikit di kerucutkan.
''Dia beneran adik Lo, Al?'' Amora kembali bertanya untuk memastikan.
''Iya, adik bungsu gue, masih kelas 9, maaf ya, mungkin dia mengira Lo itu adalah gue, dia memang begitu, suka pindah kamar sembarangan.''
__ADS_1
''Ya udah gak apa-apa, sudah terlanjur juga, kan?''
Amora bangkit lalu turun dari atas ranjang.
***
Seperti biasa, seluruh keluarga berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan pagi, meski hari Minggu, dan kebanyakan dari mereka tidak kemana-mana, dan cenderung menghabiskan waktu si rumah saja, namun kebiasaan yang satu ini tidak pernah di tinggalkan.
Amora, duduk si tengah-tengah keluarga yang bahagia dan juga hangat menyambut dirinya, sungguh hati gadis itu diliputi rasa bahagia, kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
''Sayang, gorengan papi mana? ko belum ada?'' tanya Papi Leo kepada istri tercintanya.
''Iya, sayang. Ini datang,'' Mommy Adelia pun datang dengan membawa satu piring penuh gorengan.
''Wah, masih hangat, makasih ya sayang.''
''Ikh, papi. Gak bosan-bosannya tiap hari makan gorengan, nanti muka papi berminyak kayak gorengan, lho?'' ucap Axela mengejek.
''Al...! apa kamu tidak tahu kalau gorengan ini adalah cemilan keramat?'' jawab Papi Leo, meraih satu buah dan menggigitnya.
''Ha... ha... ha... keramat? kayak tempat aja, tempat keramat...!'' Axel ikut meledek.
''Nih, dengerin ya. Gorengan ini adalah cemilan pemersatu antara antara papi dan mommy kalian, gorengan ini juga yang membuat papi jatuh cinta sama mommy, sampai sekarang,'' jelas Leo, mengacungkan satu buah gorengan.
''Akh, ternyata cinta papi semurah gorengan yang harganya hanya seribu perak perbuah...'' Axela.
Axel meraih satu buah gorengan lalu menggigit'nya pelan.
''Hmmm... gorengan mommy emang tidak ada duanya, kriuk di luar dan lembut di dalam,'' ucap Axel menirukan gaya bicara ayahnya.
Sontak saja, semua yang ada di sana tertawa secara serentak, kecuali Lucky, dan terlihat murung, dan juga wajahnya nampak muram.
''Sayang...! Kamu kenapa? apa kamu sakit?'' tanya sang Ibu menatap wajah Lucky dengan tatapan penuh rasa heran.
''Nggak, mom. Aku hanya sedang tidak berselera makan saja,'' jawab Lucky datar.
''Mau mommy suap'in? ya?''
Lucky menggelengkan kepalanya.
''Kenapa, dek? apa kamu lagi mikirin gadis yang kamu sukai itu?'' Axel cengengesan.
''Abang...!'' Lucky semakin mengerucutkan bibirnya.
''Axel...?'' Mommy Adelia menatap putra bungsu'nya.
Amora, dia menatap satu-persatu orang yang berada di sana, Papi Leo, Mommy Adelia, si kembar dan juga adik bungsunya, sungguh gadis remaja cantik itu tidak pernah merasakan kebahagiaan berada di tengah-tengah keluarga lengkap seperti ini, andai saja dia memiliki keluarga yang lengkap seperti yang dia lihat sekarang, mungkin kehidupannya akan merasa sempurna.
''Amora, why don't you eat?"
__ADS_1
(Amora kenapa kamu tidak makan)
Tanya Leo menggunakan bahasa Inggris.
''It's okay, uncle. This is what I want to eat."
(Tidak apa-apa om, ini saya mau makan)
Amora menjawab dengan bahasa Inggris juga.
''Wah, papi bahasa Inggrisnya oke juga,'' ucap Axela tersenyum.
''Iya dong, selain tampan, papi juga pintar, lho...!''
''Mulai deh, PD nya keluar,'' timpal Axela.
Semua yang berada di sana pun kembali tertawa, bersama, termasuk Amora.
***
Setelah sarapan pagi, Amora pun segera pamit kepada Papi Leo dan Mommy Adelia, dia akan segera pulang karena sang ayah pasti masih menunggu'nya sampai sekarang.
''Lo pulang naik apa, ra?'' tanya Axel datar.
''Motor gue lah...! di mana motor gue sekarang?''
Axel terkejut seketika, karena terlalu panik semalam, dia sampai melupakan motor besar milik Amora, dan meninggalkan'nya begitu saja di pinggir jalan.
''Why are you silent, Axel?"
(Kenapa kamu diam saja Axel)
''Eu... anu sebenarnya, motor Lo, gue tinggal di tempat semalam,'' jawab Axel menunduk merasa bersalah.
''What?''
(Apa?)
Axel terdiam, semakin merasa bersalah.
''Cepat anterin gue ke tempat itu sekarang juga,'' Amora sedikit menaikan suaranya.
''Iya... iya... gue anterin.''
''Awas aja ya, kalau motor itu sampai hilang, Lo tau nggak, motor itu hadiah ulang tahun dari Daddy gue, dan itu juga motor kesayangan gue, kalau motor itu hilang, gue gak tau bagaimana kecewanya perasaan Daddy gue nantinya, Ngerti Lo...?''
Amora semakin menaikan suaranya, dengan membulatkan bola matanya secara secara sempurna, membuat Axel sedikit takut di buatnya.
__________----------_________
__ADS_1