
Lucky berlari di koridor sekolah, pagi ini dia telah terlambat masuk sekolah karena kurang tidur semalaman, dengan terengah-engah dia pun masuk kedalam kelas, untung saja kelas belum di mulai, Lucky pun menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan, berjalan menuju kursi paling belakang dimana biasa dia duduk.
Tidak lama kemudian, wali kelasnya pun datang, berjalan dengan anggun lalu berdiri di depan kelas, Lucky pun tersenyum dan sedikit mengangkat tangannya menyapa wali kelas yang merupakan kekasih'nya tersebut.
Emillia hanya membalas lambaian tangan Lucky dengan sedikit senyuman.
''Baik anak-anak, bulan depan kita akan segera ujian akhir sekolah, ingat, kalian harus berjalan dengan rajin agar bisa lulus dan meneruskan sekolah kalian ke Sekolah Menengah Atas,'' ucap Emillia.
''Baik, Bu.''Jawab semua siswa serentak.
''Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini.''
Emillia memulai pelajaran pertama pagi ini.
Satu jam menjelaskan, tatapannya tertuju kepada Lucky yang terlihat menunduk seperti sedang tertidur dengan menyanggah dagunya dengan kepalan tangan.
Merasa kesal, akhirnya diapun memanggilnya, secara berkali-kali namun, Lucky sama sekali tidak bergeming dan seperti tertidur pulas, hingga dia pun memutuskan untuk menghampiri dan berdiri takut di depan meja dimana Lucky berada.
Siswa lain pun nampak memperhatikan dengan seksama seraya menertawakan.
''Lucky ...'' Emillia memanggil, masih dengan nada suara yang biasa saja.
Lucky masih tidak bergeming.
''LUCKY ...'' akhirnya Emil menaikan suaranya hingga Lucky pun terbangun seketika.
''Iya, sayang ...!'' jawab Lucky terkejut, hingga tak sadar mengucapkan kata sayang.
Seluruh siswa pun tertawa serentak, mendengar pria tampan itu mengucapkan kata sayang kepada wali kelasnya membuat sebagian dari mereka sedikit merasa curiga, bahkan menatap wajah Lucky dengan tatapan tajam.
Lucky mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah Emillia, dia pun tersadar bahwa dia telah tanpa sengaja memanggil kekasihnya itu dengan panggilan sayang.
''Maaf, Bu. Aku tidak sengaja?'' jawab Lucky sedikit gugup.
''Tidak sengaja apa? tidak sengaja tidur maksudnya ...?''
''Bukan itu, tidak sengaja memanggil ibu dengan panggilan sayang ...'' jawab Lucky semakin merasa gugup.
Bukan hanya Lucky, Emil pun merasakan hal yang sama, dia tidak menyangka kalau kekasihnya itu akan memanggil dirinya dengan sebutan itu, tidak mau terlihat gugup dan membuat anak didiknya curiga dengan hubungan mereka, Emilia pun memutuskan untuk memberikan hukuman kepada Lucky.
''Karena kamu sudah berani tidur di jam pelajaran ibu, maka kamu akan Ibu beri hukuman,''ucap Emilia dengan nada suara tegas.
__ADS_1
Lucky pun terlihat kecewa, namun, dia tidak membantah, karena dia sadar bahwa dirinya memang salah, dan Emillia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang guru.
''Sekarang juga, kamu lari di lapangan sebanyak 50 putaran,'' pinta Emillia kemudian.
''Baik, Bu.'' Jawab Lucky dengan sedikit enggan.
Dia pun berdiri lalu mulai berjalan keluar dari dalam kelas.
🌹🌹
''40 ...'' teriak Lucky seraya berlari, memutari lapangan basket dengan napas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran.
''Semangat ... tinggal 10 putaran lagi,'' teriak Lucky berbicara pada diri sendiri.
Dia pun terus berlari seraya menghitung sendiri, sampai akhirnya dia selesai menyelesaikan hukuman dari wali kelasnya tersebut. Setelah selesai, dia terlihat berbaring di lapangan, mencoba mengatur napas dengan dada yang terlihat naik turun, karena merasa kelelahan.
Tidak lama kemudian, datang seorang siswi yang menghampiri dengan membawa satu botol air mineral, berdiri di samping Lucky yang saat ini sedang berbaring menatap langit yang biru membentang begitu cerah tanpa ada penghalang apapun.
''Lucky, aku membawakan kamu air minum, kamu pasti haus ...?'' ucap siswa tersebut memberikan botol air mineral.
Lucky pun bangkit lalu duduk bersila, dia yang memang sedang dalam keadaan haus dan kelelahan, segera meraih botol tersebut, membuka lalu meminumnya, membuat siswi itu tersenyum merasa senang, seolah di beri sinyal.
''Sama-sama ...'' jawab siswi yang bernama Ayu tersebut.
Lucky terdiam, tanpa menatap ataupun menoleh ke arah Ayu.
''Aku balik ke kelas dulu ya ...'' ucap Ayu tersenyum lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Lucky.
'Apakah aku ada kesempatan untuk mendekati dia?' ( Batin Ayu merasa senang )
Pulang sekolah.
📞 ''Iya Halo, Bang ...?'' Lucky meletakan ponsel di telinganya seraya berjalan keluar dari dalam kelas.
📞 ''Kamu dimana, Dek? Masih di sekolah?'' tanya Axel di dalam telpon.
📞 ''Iya, ini aku baru mau pulang, ada apa?''
📞 ''Langsung ke Rumah Sakit, ya. Hari ini kakak ipar-mu pulang dari Rumah Sakit ...''
📞 ''Oke, aku ke sana sekarang.''
__ADS_1
Lucky pun menutup ponsel dan memasukannya kedalam saku celananya.
Dia pun meneruskan langkahnya, berjalan menyusuri koridor sampai akhirnya langkanya terhenti karena Ayu, tiba-tiba berdiri tepat di depan Lucky, dengan tersenyum begitu manisnya.
''Ada apa?'' tanya Lucky datar.
''Hmm ... Ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu, Luck?''
''Nanti saja, ya. Aku buru-buru sekarang,'' jawab Lucky langsung berlari, membuat Ayu merasa kecewa.
Dia pun berdiri mematung dan wajah masam, menatap punggung siswa yang sudah dia sukai sejak lama. Dia pun berjalan di belakangnya, dengan tatapan mata tidak luput dalam memandangi punggung Lucky yang perlahan berjalan semakin menjauh.
Dia pun hendak mengganti arah tujuannya, berbelok menuju kantin, namun, langkahnya terhenti seketika, saat melihat Lucky pria yang disukainya berbincang dengan ibu guru Emillia.
Ayu pun mengerutkan keningnya, merasa heran karena gestur tubuh keduanya tidak terlihat seperti seorang murid yang sedang mengobrol dengan gurunya, tatapan mata Lucky bahkan terlihat berbeda, seperti memancarkan sesuatu.
Ada hal lain yang membuat Ayu semakin terkejut, yaitu, saat melihat Emilia berjalan beriringan dengan Lucky menuju parkiran, lalu masuk kedalam mobil siswa itu, sungguh ... hati siswi bernama Ayu itu semakin curiga dengan kedekatan yang di tunjukkan oleh Lucky dengan wali kelasnya tersebut.
'Ada apa dengan mereka, sepertinya ada yang mencurigakan,' ( Batin Ayu )
🌹🌹
Akhirnya, Gabriel pulang dari Rumah Sakit, dia pulang ke rumah Leo, bukan ke rumah miliknya yang sudah dia siapkan sejak lama, mengingat sang istri sedang dalam keadaan hamil dan dirinya saat ini sedang ada masalah dengan Revan, membuat dia mengikuti keinginan mertuanya untuk tinggal di rumah besar milik Leonardo.
Saat ini, dia sudah berbaring di kamar Al dan juga telah menjadi kamar dirinya sekarang, tubuhnya masih terasa lemas, meski luka di wajah serta bagian tubuh lainnya sudah mulai mengering.
Karena Leo meminta Dokter untuk memberikan pengobatan yang mahal dan tentunya dengan perawatan yang terbaik, membuat kondisi Gabriel pulih dengan begitu cepat.
Ceklek ...
Pintu kamar pun di buka, Al sang istri masuk kedalam kamar, membawa segelas teh hangat yang dia buat sendiri. Al berjalan pelan menghampiri Gabriel yang sedang berusaha untuk duduk dengan bersandar bantal dibelakang punggungnya.
''Makasih, sayang ...'' ucap Gabriel, menerima gelas tersebut dan menyeruputnya pelan.
''Gimana, manis 'kan? aku buat sendiri lho ...'' tanya Al.
Awalnya Briel sangat antusias meniup dan menyeruput teh hangat tersebut, namun, wajahnya mendadak berubah, saat tegukan pertama masuk kedalam mulutnya.
______________--------------_______________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1