
Leonardo membukakan pintu mobil sport berwarna merah yang tadi di tunjuk oleh Adelia, dengan tersenyum lebar dan Adel pun masuk ke dalam mobil.
Dia pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi, hari ini dia berencana akan membawa istrinya ke pusat perbelanjaan, dia akan membelikan banyak barang baru untuk dia, agar barang milik Adel yang sudah tidak layak di pakai bisa di buang.
Mobil pun melaju dengan kencang di jalanan, Leonardo saat ini sudah terlihat berbeda dengan Axel yang biasa memakai kaos oblong usang dengan celana yang selalu kekecilan, dia kini seolah telah menjelma menjadi Laki-laki tampan dengan pakaian serba mahal, pria tampan ini seolah telah kembali menjadi jati diri yang sebenarnya. Dan image seorang Axel seolah telah tergeser dan memudar.
''Mulai sekarang panggil aku Leonardo ya, karena itu nama asliku, atau bisa panggil Leo saja, jika merasa kepanjangan'' pinta Leonardo, lalu meraih kecamatan hitam dan memakainya.
Adelia yang duduk kursi sebelah supir, terlihat sangat terpana memandangi wajah suaminya. Leonardo yang biasanya memakai baju lusuh milik mendiang sang ayah kini seolah bertransformasi menjadi pria kaya raya dengan pakaian yang terlihat mahal dan mewah juga pastinya, sedap di pandang.
''Kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu, terpesona ya melihat ketampananku?'' tanya Leonardo masih dengan pokus menyetir dan tanpa menoleh.
''Hah... eu... tidak kok, percaya diri banget si kamu,'' Adel berbohong dan terlihat salah tingkah.
''Bohong...'' sedikit melirik dengan tersenyum.
Entah mengapa senyuman Leonardo membuat jantungnya bergetar dan berdetak dengan sangat kencang, padahal ini bukan kali pertamanya melihat senyum manis suaminya tersebut.
Adel memegangi dadanya yang terasa naik turun akibat jantungnya berpacu tidak beraturan, akhirnya dia pun memilih untuk melihat keluar jendela, mencoba menenangkan hatinya yang di buat berdebar oleh suaminya.
'Apa aku sudah di buat bucin oleh dia? Duh Adelia, sadar sadar jangan sampai cintamu membutakan segalanya.'
Adel berucap di dalam hatinya.
''Kenapa lagi?'' tanya Leonardo yang melihat sekilas raut wajah Istrinya seperti sedang bergumam.
''Aku nggak apa-apa kok. Oh ya emangnya kamu mau membawa aku ke mana?'' tanya Adel mengalihkan pembicaraan.
''Kita akan belanja keperluan kamu, sayang...! Semenjak kita menikah aku belum pernah memberikan kamu apa-apa, sekarang, karena aku sudah punya banyak uang aku ingin membelikan apapun yang kamu mau dan mengganti semua barangmu dengan yang baru,'' jawab Leonardo mengusap lembut rambut sang istri.
''Kenapa harus diganti barang'ku masih layak pakai kok?''
''Tidak, baju baju yang lusuh, juga tasmu yang sudah terlihat jelek itu kita ganti dengan yang baru dan yang lebih mahal,'' jawab Leonardo datar.
Adelia mengerucutkan bibirnya, dia merasa sayang jika semua barangnya harus dibuang begitu saja, padahal untuk mendapatkan barang itu dia harus bekerja keras bahkan menabung dari hasil berjualan.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun sampai di pusat perbelanjaan, sebuah mall bertingkat sangat tinggi yang bahkan Adel harus mendongakkan kepalanya hanya untuk melihat ujung dari pucuk bangunan tersebut.
Setelah memarkir mobil di tempat parkiran, keduanya keluar dari dalam mobil, Leonardo pun menggenggam jemari Adel, dan mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
Di dalam mall, Adel menatap ke sekeliling dengan pandangan mata yang terlihat takjub dan terpesona dengan ruangan luas serta orang yang begitu banyaknya, matanya tampak melihat ke sekeliling dengan mulut yang sedikit menganga.
Leonardo menatap wajah sang istri lalu dia tersenyum merasa lucu, raut wajah istrinya tersebut terlihat seperti seseorang yang baru pertama kali memasuki mall.
''Apa ini kali pertamamu masuk ke tempat seperti ini?'' tanya Leonardo dengan tersenyum kecil.
''Iya, aku tidak pernah berpikir akan berbelanja ditempat seperti ini, di kotaku juga ada tempat seperti ini, tapi aku tidak pernah kesana,'' jawab Adel dengan tanpa menoleh, matanya masih sibuk dan merasa takjub dengan apa yang dia lihat.
''Kampungan sekali, dasar...'' celetuk Leonardo melirik ke arah Adel.
Setelah berjalan berkeliling mall, akhirnya mereka pun tiba di sebuah butik yang khusus menyediakan baju baju branded dengan harga yang mahal, mereka masuk kedalamnya dengan tangan yang masih berpegangan.
Di dalam butik keduanya langsung di sambut dengan ramah oleh pelayan yang ada di sana, pelayan itu tersenyum lalu membungkuk memberi hormat dan mempersilahkan keduanya duduk di sebuah kursi.
''Ada yang bisa saya bantu tuan Leonardo?'' tanya pelayan tersebut sambil melirik ke arah Adelia.
''Carikan saya baju yang cocok untuk dia,'' jawabnya datar.
''Kok pelayan itu tahu namamu?'' tanya Adel penasaran.
''Dulu aku sering kemari sebelum hilang ingatan.''
''Dengan siapa? Angel?'' tanya Adel sedikit kesal.
Leonardo hanya mengangguk.
Adel hanya terdiam merasa sedikit kesal.
Tak lama kemudian pelayan yang tadi pun membawakan lebih dari 10 setel pakaian, yang semuanya digantung memakai rak pakaian.
Leonardo bangun dari tempat duduknya, menghampiri pelayan tersebut, dia melihat satu per satu pakaian yang dibawa olehnya lalu meminta Adel untuk mencoba pakaian tersebut, satu persatu.
__ADS_1
''Nih coba pakai yang ini,'' pinta Leonardo meraih satu buah gaun berwarna pink.
''Ini...?'' Adel mengerutkan keningnya, meraih dan melihat dengan saksama gaun tersebut.
''Memangnya aku mau kemana memakai gaun seperti ini?'' tanya Adel.
''Sudah, coba saja.''
''Terus aku ganti bajunya di mana? masa di sini kan malu dilihat banyak orang?'' tanya Adelia dengan wajah polosnya.
''Ya ampun, istriku udik banget sih,'' celetuk Leonardo lalu berjalan mengantar Adel ke kamar ganti.
''Nah, kamu gantinya di sini,'' ucapnya sesaat setelah berdiri di depan kamar ganti.
Adel terlihat bingung memasuki kamar kecil berukuran tidak lebih dari satu meter itu, dia pun menutup gorden lalu mulai mengganti pakaian.
Tidak lama kemudian dia pun keluar dari dalam kamar, wajahnya terlihat cantik mengenakan gaun pendek berwarna pink yang tadi dipilihkan oleh suaminya.
Leonardo terkesima seketika, melihat wajah istrinya yang berbeda, kemudian dia pun tersenyum dan mengangguk, setelah itu dia pun meraih kembali satu buah gaun berwarna merah lalu menyerahkannya kepada sang istri untuk mencobanya.
''Lagi...?'' tanya Adel merasa heran.
Leonardo mengangguk lalu mendorong tubuh istrinya memasuki kamar ganti.
Hal itu terus berlanjut sampai Adelia mencoba ke-10 pakaian yang tadi ditunjukkan oleh pelayan tersebut, hingga kakinya pun terasa lelah dengan nafas yang sedikit tidak beraturan.
''Sebenarnya kamu mau beliin aku baju yang mana?'' tanya Adel dengan wajah kesal.
''Semuanya...'' jawab Leonardo singkat.
''Mbak bungkus semuanya ya,'' ucapnya lagi kepada pelayan yang sedari tadi berdiri di sana.
Adel membelalakan matanya, dia tidak percaya akan membeli baju sepuluh setel sekaligus, biasanya hanya untuk membeli satu setel baju saja dirinya harus menabung terlebih dahulu.
''Kamu serius mau membelikan semua baju ini?'' tangan Adelia.
__ADS_1
Leonardo mengangguk lalu membawanya ke tempat lain yang menyediakan tas-tas Branded dan sepatu-sepatu mahal.
____________---------______________