
Emillia terdiam, terpana dengan kata-kata yang baru saja keluar dari bibir salah satu murid terpandai'nya tersebut, tidak salah jika Lucky di juluki sebagai siswa terpandai di sekolah tempat'nya mengajar.
Kata-kata yang di keluarkan dari mulut remaja itu seolah keluar dari mulut pria dewasa yang tersusun rapi tanpa cela membuat hati Emillia tersentuh seketika saat mendengarnya.
Tapi apa yang harus dia lakukan? apakah dia akan menerima pernyataan cinta muridnya tersebut? sedangkan umur keduanya terpaut cukup jauh, dirinya sudah berada di umur dewasa, yaitu 25 tahun, sedangkan Lucky, pria yang baru saja menyatakan cinta kepadanya 10 tahun lebih muda dari dirinya.
''Bu, kenapa ibu diam saja?''
''Eu... Tidak, ibu hanya merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja kamu katakan.''
''Aku harus bagaimana agar ibu percaya?''
''Entahlah, umur ibu sekarang 25 tahun, sementara kamu, 10 tahun lebih muda dari ibu, apa pantas jika kita berpacaran?'' Emillia menatap wajah Lucky dengan tatapan sayu.
''Apakah umur menjadi penghalang bagi dua manusia untuk saling merajut hubungan? apakah umur juga menjadi penghalang bagi setiap insan untuk mencurahkan kasih sayang?''
''Tapi kamu lebih cocok menjadi adikku, bukan pacarku, Luck...!''
''Tidak, umurku sekarang memang masih 15 tahun, tapi umurku tiap harinya akan bertambah, dua tahun lagi umurku genap 17, 18, 19 dan seterusnya, perlahan aku juga akan dewasa seperti manusia lainnya.''
''Tapi semakin bertambahnya usiamu, usia aku juga perlahan akan bertambah, kamu semakin dewasa dan aku semakin tua.''
Lucky tersenyum, lalu meraih pergelangan tangan Emillia.
''Aku tidak perduli...! perasaan aku tulus, dan usia tidak akan menjadi penghalang bagi aku, meski nanti aku beranjak dewasa dan kamu semakin tua, cinta aku gak akan pernah berubah...!"
Dia pun menggenggam erat jemari Emillia, seraya menatap wajah wanita yang di cintai'nya, memandang dengan tatapan tulus penuh dengan rasa cinta, membuat Emillia terpana sekaligus terpesona.
Keduanya saling menatap satu sama lain, memandang lekat dengan senyum yang mengembang dari bibir keduanya.
Emillia, dia merasakan ketulusan siswanya tersebut, perasaannya di rundung Dilema, namun hatinya sama sekali tidak bisa berbohong, tatapan matanya pun tidak bisa berdusta, mata sayu nan indah dengan bola mata berwarna hitam pekat, di lengkapi dengan bulu mata lentik itu, perlahan memancarkan rasa cinta.
Lucky, dia tidak peduli jika Emillia yang merupakan wali kelasnya menganggap dirinya seorang anak kecil, dia juga tidak peduli pandangan orang nantinya jika mereka tahu bahwa dia menyukai wanita yang lebih dewasa dari darinya, bahkan berstatus guru dan wali kelas dimana dia bersekolah sekarang.
Keduanya semakin melayangkan tatapan, begitu lekat hingga kedua matanya tidak berkedip sedikitpun, sampai akhirnya mereka mendekatkan kepala dengan mata yang masih saling bertatapan, dan bibir mereka pun saling bersentuhan dengan mata yang mulai di pejamkan secara perlahan.
__ADS_1
Meski ini bukan ciuman pertama bagi Emillia, namun sentuhan bibir Lucky membuat darahnya terasa mendidih dengan desiran gairah yang tiba-tiba memenuhi jiwanya, di usianya yang sudah dewasa tentu saja dia pernah melakukan ciuman dengan mantan pacarnya terdahulu.
Sedangkan bagi Lucky, ciuman ini merupakan ciuman pertama baginya, entah apa yang merasuki jiwanya hingga dia berani melakukan hal itu dengan wali kelasnya sendiri, sentuhan bibir Emillia seolah membangunkan naluri'nya sebagai seorang remaja yang tidak pernah merasakan sebuah ciuman.
Keduanya saling menautkan bibir, melu***nya perlahan dan saling memutarkan kepala, perlahan tangan Lucky pun melingkar di pinggang ramping Emilia, sedangkan gadis itu melingkarkan kedua lengan di leher muridnya tersebut.
Kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu pun semakin mengeratkan pelukan dan membenamkan bibir mereka semakin dalam, menyesap dan kembali berputar hingga gairah itu semakin menguasai jiwa keduanya, di temani angin pantai dan diiringi deburan ombak di tengah lautan.
Kemudian mereka pun melepaskan bibir masing-masing, saling menatap penuh rasa cinta dengan wajah yang masih berada sangat dekat.
''Ibu sungguh cantik di lihat dari jarak dekat seperti ini,'' ucap Lucky tersenyum.
Merasa gugup, Emillia menoleh ke arah lain dan sedikit memundurkan kepalanya.
''Selain pintar dalam pelajaran ternyata kamu juga pintar menggombal, ya.''
''Ha... ha... ha...! Apa seperti itu yang namanya menggombal? jujur saja, aku tidak pernah memuji seorang wanita, kamu orang pertama yang aku sanjung...''
''O ya...? bohong...!''
''Tidak percaya...?''
''Coba tanya sama siapapun di sekolah, aku sama sekali tidak pernah memuji wanita, mendekati seorang wanita, apalagi berpacaran, dirimu satu-satunya wanita yang membuat aku berani melakukan hal ini,'' Lucky kembali melayangkan tatapan, dan bagi Emillia tatapan dia sungguh memabukkan, membuat dirinya seolah melayang.
''Siswa tampan seperti kamu tidak pernah berpacaran?''
Lucky menganggukan kepala.
''Sama sekali?''
Lucky pun kembali mengangguk.
''Waah... sungguh di luar dugaan...!'' Emillia tersenyum.
''Itu sebabnya, kamu adalah wanita beruntung yang mendapatkan cinta dari pria tampan dan pintar ini, meski masih bocah dan remaja, namun cinta dan perhatian yang akan aku berikan tidak akan kalah dengan pria dewasa di luaran sana,'' jawab Lucky penuh percaya diri.
__ADS_1
''Iya-iya, aku percaya, bocah ingusan...'' Emilia mengacak rambut Lucky seraya tersenyum.
''Lalu...?''
''Lalu apa?''
''Lalu bagaimana? apakah ibu menerima cinta bocah ingusan ini?''
Lucky berucap penuh rasa harap.
''Hmmm... gimana ya?''
Lucky menatap dengan tatapan sayu dengan jantung yang semakin berdebar, sementara Emillia terlihat sedang berfikir seraya menatap wajah tampan Lucky.
Keduanya terdiam sejenak dengan mata yang masih saling memandang, hingga akhirnya Emillia menganggukan kepalanya, dengan tersenyum begitu manisnya.
Lucky pun tersenyum senang, dia berdiri lalu berjingkrak meluapkan bahagianya layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan undian.
''Yeeyyy... Emillia I LOVE YOU...''
Lucky berteriak keras, mengucapkan kata cinta hingga suaranya menggema di udara di iringi deburan ombak yang bergemuruh memecah lautan.
Dia pun kembali duduk lalu memeluk tubuh wanita dewasa yang kini sudah berstatus sebagai kekasihnya, baginya dia sama sekali tidak peduli jika usia mereka terpaut 10 tahun, dia juga tidak peduli jika orang-orang nantinya akan mencibir dirinya karena berpacaran dengan gurunya sendiri.
''Terima kasih, karena telah menerima cinta bocah ingusan ini,'' Lucky membenamkan wajahnya di leher kekasihnya tersebut.
''Tapi aku ingin hubungan kita di rahasiakan dari siswa lainnya, ya...!''
''Iya, aku ngerti, mari kita rahasiakan hubungan kita sampai aku lulus nanti dan masuk ke Sekolah Menengah Atas...''
Emillia mengangguk dan melingkarkan lengan di punggung remaja yang sudah terlihat seperti pria dewasa dimatanya tersebut.
Emillia, dalam hatinya dia berkata, entah apa yang merasuki jiwanya hingga dia bisa menerima cinta dari bocah yang masih berusia sangat muda itu. Akh... pria ini pasti hanya sedang merasakan cinta monyet kepada'nya, cinta monyet yang memang biasa hadir di setiap remaja yang sedang dalam masa pubertas.
Namun entah mengapa dia merasa bahagia sekarang, dia tidak peduli jika kekasihnya sekarang adalah anak didiknya, dan dia juga tidak peduli jika mereka terpaut usia yang sangat jauh.
__ADS_1
Yang dia fikirkan sekarang adalah bahwa mulai saat ini hidupnya tidak akan merasa kesepian lagi, hari-hari nya kini akan di temani oleh bocah ingusan yang tampan dan juga pintar, bernama lengkap Lucky Pratama.
__________----------__________