Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Berdamai


__ADS_3

Alex dan Axel segera melipir, memberi ruang kepada Revan agar bisa berbicara empat mata dengan Lucky.


Setelah mereka berdua meninggalkan Revan di sana, Revan nampak menoleh menatap wajah Lucky yang saat ini nampak menunduk dengan mengepalkan kedua tangannya, wajah Lucky bahkan terlihat muram.


''Om minta maaf, Lucky.'' Revan memulai pembicaraan.


''Kenapa minta maaf sama aku? seharusnya Om minta maaf sama Ayu yang sudah Om siksa sampai seperti ini, apa Om tau, Om adalah ayah yang jahat, sungguh malang sekali nasib Ayu, memiliki ayah seperti kamu,'' jawab Lucky dengan nada suara geram.


''Om tau itu, dan Om sadar bahwa Om memang salah, Om sungguh menyesal.''


''Penyesalan Om terlambat. Ayu sudah benar-benar jengah dengan sikap Om, hingga dia lebih memilih mengakhiri hidupnya sendiri, apa yang akan Om lakukan kalau dia sampai tidak bangun lagi, hah ...?'' teriak Lucky dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


''Jangan bilang seperti itu, Lucky. Om yakin dia pasti bangun, Om gak sanggup mendengarnya, hiks hiks hiks ...'' Tangis Revan pecah seketika mendengar ucapan Lucky.


''Tangis Om gak akan merubah keadaan, Ayu sekarat ... SEKARAT, Om. Hiks hiks hiks ...'' Lucky kembali berteriak, bahkan kali ini diiringi dengan suara tangisan yang terdengar pilu di dengar.


''Apa yang harus Om lakukan sekarang, Luck. Om benar-benar menyesali semua perbuatan Om, sungguh ...''


Lucky terdiam dan menunduk, air matanya benar-benar tumpah hingga seluruh wajahnya kini basah dengan air mata. Sakit rasanya harus membayangkan Ayu sang kekasih benar-benar tidak bangun lagi, ada rasa sesal di hatinya karena telah mengatakan hal itu.


''Apa Om benar-benar menyesali perbuatan Om?''


Revan mengangguk diiringi dengan suara isak.


''Apa Om benar-benar akan berubah menjadi ayah yang baik?''


Revan kembali menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


''Kalau begitu, akhiri dendam Om kepada ayahku, berdamai'lah dengannya dan mulailah hidup baru sebagai ayah yang baik, temani putri Om, dan hujani dia dengan limpahan kasih sayang serta perhatian, karena sebenarnya hanya itu yang Ayu butuhkan. Selama ini, Om hanya sibuk memikirkan cara agar Om bisa membalaskan dendam kepada Papi, sehingga Om mengabaikan putri Om sendiri,'' jawab Lucky penuh penekanan.


Revan terdiam, dia menunduk merasakan sesak di dadanya, apa yang dikatakan oleh pemuda berusia 18 tahun itu memanglah benar. Selama ini dia sibuk memikirkan cara untuk balas dendam, hingga dia mengabaikan putrinya sendiri, bahkan istrinya pun dia tinggalkan.


Sebagai orang dewasa, dirinya sungguh merasa hina karena dinasehati oleh anak yang usia bahkan jauh lebih muda darinya, sungguh Revan merasa terhenyak, karena otaknya sangatlah dangkal dangkal. Semua yang Lucky katakan sungguh menusuk hatinya dan tepat mengenai sasaran.


''Baik, Luck. Om akan melakukan semua yang kamu inginkan, sebagai gantinya, Om minta kamu jangan pernah tinggalkan Ayu, bantu dia untuk sembuh, dan tetap berada di sini, di sisinya sampai dia bangun,'' lirih Revan mengusap wajahnya yang telah basah dengan air mata.


''Tidak perlu Om pinta pun, aku gak akan pernah meninggalkan dia. Aku cinta sama Ayu, dia segalanya bagiku, Om.''


''Baiklah, Om percaya sama kamu. Nanti Om akan mengatur pertemuan dengan ayahmu, agar kita bisa benar-benar berdamai, dan melupakan dendam masing-masing,'' ucap Revan bersungguh-sungguh.


''Makasih, Om. Aku harap Om tidak ingkar janji, dan aku pun berjanji, akan selalu ada di sini, menemani Ayu sampai dia bangun. Aku yakin dia pasti bangun ...! Dia akan bangun lagi 'kan, Om? hiks hiks hiks ...'' tiba-tiba saja tangis Lucky kembali pecah.


Lucky benar-benar menumpahkan kesedihannya, dan refleks tangan Revan meraih punggung pemuda itu lalu menguapnya pelan. Lucky sudah menahan sekuat tenaga agar kesedihannya tidak tumpah, berusaha tegar dan mengikuti nasehat sang ayah agar dirinya tidak cengeng.


''Kamu harus kuat, Luck. Ayu membutuhkan dukungan kamu, dukungan kita. Kalau kita lemah seperti ini bagaimana kita akan memberikan dukungan serta kekuatan kepada dia,'' lirih Revan.


Apa yang dia ucapkan sama sekali bertolak belakang dengan apa yang dia rasakan, karena nyatanya dia pun merasa terpuruk sama seperti yang sedang dirasakan oleh Lucky.


Lucky hanya mengangguk, dia pun mengusap wajahnya secara kasar, menarik napas panjang dan menghembuskan'nya secara perlahan, berusaha kuat demi kekasih yang saat ini sedang membutuhkan dukungannya darinya.


Tanpa di sangka, Alex dan juga Axel mendengar semua pembicaraan mereka berdua, Alex sengaja tidak pergi jauh karena dirinya memang ingin mendengar pembicaraan mereka berdua.


Alex pun tidak kuasa lagi untuk tidak menitikkan air mata, dirinya sungguh terharu karena Lucky yang memang pemuda cerdas, bisa dengan begitu beraninya mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Revan benar-benar tidak bisa berkutik.


Tidak salah kalau putra bungsu dari sahabatnya itu selalu mendapatkan peringkat tertinggi di sekolah dan juga anak paling pintar di antara kakak-kakaknya.

__ADS_1


'Putra mu sungguh pintar, Leo. Aku berharap bisa memiliki putra seperti dia,' (Batin Alex)


''Adikmu sungguh hebat, El.'' Ucap Alex.


''Dia memang hebat, Om. Dia memang anak paling cerdas di antara kami, dan Om tau, dia bahkan meraih penghargaan karena menjadi siswa paling pintar di antara ribuan siswa di sekolahnya,'' jawab El berdiri tepat di samping Alex.


''Revan beruntung memiliki calon menantu seperti dia.''


''Tapi aku juga pintar ko, Om. Dan aku berhasil masuk Universitas bergengsi bareng Amora. Om bangga juga 'kan, punya calon menantu seperti aku?'' jawab Axel merasa iri.


''Ish ... Kamu ini, bukan hanya wajah kamu saja yang mirip sama ayahmu, tapi sifat sombong mu ini benar-benar menurun persis seperti dia.''


''He ... he ... he ...! Tapi Om belum jawab pertanyaan aku.''


''Pertanyaan yang mana?''


''Om bangga 'kan punya calon menantu seperti aku?'' El mengulangi pertanyaannya.


''Tentu saja, sayang. Om bangga sekali punya calon menantu seperti kamu. Kamu Axel, calon menantu terbaik Om, dan Om berharap hubungan kamu dengan putri Om awet tanpa perlu memakai formalin sampai kalian benar-benar dewasa dan menikah ...'' jawab Alex, menepuk pundak kekasih dari putrinya tersebut.


''Nah gitu dong, aku 'kan senang dengernya, ayah mertua ...'' ucap El tertawa.


''Dasar Leonardo, anak sulung-mu ini benar-benar mirip dengan kamu,'' gerutu Alex berjalan menghampiri Revan dan juga Lucky.


''Om, tunggu aku ...'' Axel mengekor dari belakang seperti anak bebek yang mengikuti induknya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2