
Di sebuah Apartemen, Alex nampak sedang berbaring sendiri di atas tempat tidurnya, Apartemen yang megah dan mewah itu terasa begitu sepi baginya, semenjak sang adik meninggal dunia, dia hanya tinggal sendiri, keceriaan dan kehangatan yang dulu dia rasakan serasa sirna.
Jimmy adalah satu-satunya adik dan keluarga yang dia punya, kedua orang tuanya telah meninggal dunia dari semenjak dia remaja, dan semenjak itu dia hanya tinggal berdua saja dengan adiknya tersebut.
Namun, tiba-tiba saja dua tahun yang lalu, adiknya tersebut meninggal dengan tidak adil, dia bahkan tidak bisa melaporkan kematiannya ke pihak berwajib, karena setiap dia melakukan hal itu, polisi selalu punya alasan untuk menutup kasus tersebut, dan bahkan dengan alasan yang tidak jelas dan tidak masuk akal.
Itu sebabnya, dia menyimpan dendam yang sangat mendalam terhadap Leonardo, mantan sahabat'nya yang kini telah menjadi musuh bebuyutannya.
Jika dengan cara kekerasan dia telah gagal untuk membalaskan dendam, maka dia akan mencari cara lain yang lebih menyakitkan dan lebih halus namun menusuk, lebih dingin tapi namun terlihat tajam.
Alex bangkit lalu duduk di atas pembaringan, dia meraih bingkai Poto yang terpajang di meja kecil di samping pembaringan, sebuah potret kebersamannya dengan sang adik yang telah lama meninggal.
Alex mengusap wajah Jimmy yang terlihat tersenyum bahagia berpose dengan dirinya. Dia pun memendam kerinduan yang teramat dalam, terhadap adiknya tersebut.
'Apakah kau senang di alam sana? apakah kau bahagia tidur selamanya di atas sana? sepertinya kau tidak akan pernah bahagia sebelum aku, kakak yang tidak berguna ini membalaskan dendam kepada orang yang telah membunuh dirimu,' (Alex berucap pelan)
Kemudian dia pun menatap kakinya yang tampak hanya tinggal sebelah, menatap dengan perasaan pilu dan rasa amarah. Apa yang bisa dia lakukan dengan kaki lumpuhnya ini?sungguh hati Alex di rundung berjuta rasa nestapa yang tidak bisa dia ungkapkan kepada siapa-siapa.
Menyudahi dalam meratapi kesedihannya, dia pun meraih ponsel dan menelpon Asistennya.
Tut
Tut
Tut
__ADS_1
Suara telepon yang belum di angkat.
''Halo... Revan, pesankan aku kaki palsu, dan besok harus segera dikirim ke Apartemen'ku, aku pesan yang terbaik dan termahal, mengerti...?''
''Baik, bos.''
Alex segera menutup telpon setelah Revan, Asisten pribadinya menyanggupi permintaan'nya.
***
Eak
Eak
Eak
Dia merasa kerepotan sendiri karena saat ini, ibu sedang pulang ke rumahnya di kampung, sudah terlalu lama rumah tersebut di tinggalkan dan ibu pun berencana tinggal selama beberapa hari di sana.
Kepergian sang ibu sungguh membuat Adelia kewalahan, karena harus mengurus si kembar sendirian. Dia pun memikirkan untuk menerima usulan suaminya untuk mempunyai baby sister, agar dia ada yang membantu menjaga kedua bayi kembarnya.
Eak
Eak
Eak
__ADS_1
Baby El dan Al tiba-tiba menangis secara bersamaan, dia pun kebingungan, yang mana dulu yang akan di gendong duluan, alhasil dia hanya mendengarkan kedua bayinya menangis tanpa meraih ataupun menggendongnya.
Sepertinya Adel sedang mengalami baby blus, kondisi dimana seorang ibu yang baru melahirkan mengalami stres dan rasa lelah yang berlebihan, apalagi Leo, suaminya, sudah beberapa hari ini sibuk dengan pekerjaan'nya, membuat Adel merasa sedikit di abaikan.
Leo yang baru saja pulang dari kantornya merasa terkejut sekaligus heran karena istrinya hanya diam saj mendapati si kembar dalam keadaan mengisi dan istrinya hanya diam saja memandangi ke kembar. Leo yang tidak tahu dengan keadaan istrinya langsung menghampiri istrinya dan memasang raut wajah yang terlihat marah sekaligus kesal.
''Adel, apa kamu tidak punya telinga? kenapa kamu diam saja,'' Leo meraih baby El yang sedang berada di dalam gendongan sang istri.
_________--------_________
Jangan Lupa
Like
Komen
Vote
Hadiah
Terima kasih ❤️❤️
_________---------________
Hari ini Author akan merekomendasikan novel yang sangat bagus untuk kalian, semoga bisa menghibur dan mengisi waktu luang kalian semua.
__ADS_1