Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Belum Bisa bertanggung jawab.


__ADS_3

Adelia segera mencubit pinggang Leonardo suaminya, saat sang suami mengeluarkan kata-kata terakhirnya, mencubit dengan sedikit keras, hingga Leo pun meringis kesakitan.


''Argh...! Sakit, sayang...'' lirih Leo, menoleh menatap sang istri dan terkejut saat melihat mata sang istri membulat sempurna menatap dirinya.


Begitu pun dengan ketiga anaknya yang semuanya berada di sana, menatap ke arah sang ayah dengan tatapan yang penuh dengan rasa curiga.


Akhirnya dia pun tersadar bahwa dirinya sudah salah bicara, Leo segera meralat ucapan'nya tadi.


''Eu... gini, maksud papi bukanlah bunuh, dalam arti kata bunuh beneran, tapi maksudnya eu... apa ya. Bunuh pekerjaan nya, iya... iya... itu maksudnya, sayang, kalian jangan ngeliatin papi kayak gitu dong, takut papi jadinya...'' Leo sengaja sedikit cengengesan.


Ketiga anaknya, beserta sang istri masih terdiam, menatap wajah sang ayah dengan penuh rasa curiga.


''Sayang...'' Leo merajuk kepada istrinya.


''Pap...? apa jangan-jangan papi mantan anggota Mafia? atau papi salah satu bos Mafia gitu dulunya?'' tanya Lucky, membuat kedua kakak'nya tertawa.


Lain halnya dengan sang ibu, dia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan putra bungsunya, karena yang dikatakan oleh putra kesayangannya itu adalah benar adanya, bahwa ayah mereka sebenarnya adalah, mantan anggota Mafia bahkan bos Mafia pula.


''Sudah... sudah jangan di bahas lagi.'' sang ibu mencoba mengalihkan perhatian.


''Al... Apa yang terjadi, sayang? mengapa tiba-tiba kamu bisa berakhir di sini? di rumah sakit, terluka pula, siapa yang membuat kamu jadi seperti ini, heuh...'' tanya sang ibu, menatap lalu mengusap rambut putri kesayangannya.


''Ceritanya panjang, mom. Jadi kemarin itu aku nolongin orang yang lagi di keroyok rame-rame, eh tau-tau nya aku nya sendiri yang terluka, ya sudah orang yang aku tolong balik nolongin aku, gitu...''


''Kamu tidak berbohong lagi, kan kali ini?''


''Tidak mom, aku bersumpah, itulah kejadian yang sebenarnya.''


''Jadi kamu menginap di rumah orang yang kamu tolong?''


Al mengangguk.


''Dia Laki-laki atau perempuan?Al?''


Axela terkejut, lalu menatap wajah sang ibu, tidak kuasa untuk berbohong, akhirnya dia pun mengatakan yang sebenarnya, seraya menunduk pelan dan meremas selimut berwarna putih dengan jemarinya.


''Lali-laki, mom,'' lirih Al pelan.


''Apa...? Laki-laki? jadi kamu menginap di rumah seorang Laki-laki? tapi dia nggak ngapa-ngapain kamu kan, Al?'' tanya Leo sang ayah.


Al semakin terkejut, dadanya terasa begitu sesak sekarang, dengan tubuh yang sedikit bergetar, akhirnya dia pun memberanikan diri untuk berbohong.

__ADS_1


''Tidak, mom, pih...! dia tidak ngapa-ngapain aku, sungguh...!''


'Maafin Al, harus berbohong, mom, Pih...' ( batin Axela bergumam )


''Bener...? kamu tidak bohong?'' tatapan sang ayah semakin mengintimidasi.


''Eu... iya, Pap...! aku gak bohong...!''


'Maafin Al pap...' ( Batin Al )


''Syukurlah, nak. Mommy sangat khawatir sama kamu, mommy bahkan tidak bisa tidur semalaman, karena terus memikirkan kamu.''


''Maafin Al, mom. Karena telah membuat kalian semua khawatir, kejadiannya terjadi begitu saja...''


Al memeluk tubuh sang ibu, mendekapnya dengan begitu erat, menangis dengan tanpa bersuara di dekapan ibunya. Adelia, sang ibu pun, mengusap punggung Putri kesayangannya, dengan lembut dan penuh kasih sayang.


***


Dua hari kemudian.


Keadaan Axela sudah mulai membaik, luka di punggung'nya pun perlahan mengering, karena dukungan dari kedua orang tuanya, saudara dan juga sahabat'nya, perasaan Al pun sudah sedikit merasa tenang.


Meski kadang dia masih terlihat melamun, melayangkan tatapan tatapan kosong ke udara, seolah sedang memikirkan sesuatu, dan keceriaan di wajahnya seolah menghilang, tidak seperti dulu lagi.


Seperti apa yang sedang terjadi pagi ini, Axela nampak sedang melamun, dia duduk dengan bersandar bantal di belakang punggungnya, menatap ke arah luar jendela, melayangkan tatapan kosong, dengan wajah yang terlihat pucat pasi.


Dia hanya sendirian di sana, karena sang ibu sedang keluar untuk membeli sarapan pagi, otaknya seolah sedang berfikir keras, selama dua hari berada di sana, Gabriel, Laki-laki yang telah merenggut kesuciannya belum juga datang menemui dirinya.


Dia pun kembali mengingat janji manis yang di ucapkan oleh Gabriel, bahwa dia akan segera menghadap kedua orang tuanya, bahkan melamar dirinya, mengatakan bahwa dia akan bertanggung jawab.


Dan kini Al menyadari bahwa dirinya telah dibodohi, di bohongi oleh Laki-laki tersebut, mengingat hal itu, membuat air matanya mulai berjatuhan, betapa bodohnya dia, bisa percaya dengan Laki-laki yang baru saja di kenalnya itu, yang telah merenggut kesuciannya.


Bukan merenggut, lebih tepatnya dia melakukan hal itu dengan suka rela dan kesadaran penuh, karena terbuai dengan kenikmatan sesaat yang saat itu dia dapatkan, Akh... sungguh dada gadis cantik bernama Axela itu terasa sesak, dan buliran air mata itu pun semakin deras membanjiri pipinya yang kini terlihat tirus.


Sampai akhirnya seorang perawat masuk kedalam kamar, membuyarkan lamunannya. Perawat tersebut membawa sebuah kotak berukuran sedang lalu memberikan'nya kepada Axela.


''Nona Axela, tadi ada seorang pemuda tampan yang menitipkan ini untuk anda,'' ucap sang perawat.


''Benarkah? apa ini?'' Al meraih dan meletakan'nya di atas pangkuan.


''Saya juga tidak tahu, nona.''

__ADS_1


Perawat itu segera kembali keluar.


Axela, dia membuka kotak tersebut, sebuah kotak berwarna pink berukuran sedang, hal pertama yang dia lihat saat membuka bungkusan itu adalah satu tangkai bunga mawar merah yang sedang mekar dan wangi.


Setelah itu, di sana juga ponsel miliknya, ponsel yang dia tinggalkan di rumah Gabriel, tas sekolah, dan seragam berwana putih yang sudah bersih namun terdapat robekan di belakangnya.


Dan hal lain yang membuatnya terkejut adalah, saat dia melihat sebuah kotak kecil, dan kotak itu bukanlah kepunyaan dirinya, dia pun meraih lalu membuka isinya.


Ternyata isinya adalah sebuah kalung, panjang menjuntai dengan gantungan berinisial AL, yang merupakan inisial namanya, kalung tersebut terlihat mahal, karena ada butiran berlian yang menghiasi inisial AL tersebut. Di sana pun ada sepucuk surat, dia membuka lalu membacanya


_____________________


"Dear Wonder Woman...


Maaf karena aku tidak bisa menemanimu di sana, maaf juga karena aku belum bisa menepati janjiku.


Aku berharap kamu cepat sembuh dan kembali ceria, aku sungguh bersalah karena telah melakukan hal itu dengan mu, sementara aku belum bisa mempertanggungjawabkan perbuatan'ku itu.


Aku sadar aku adalah seorang pengecut, pengecut yang hanya berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab.


Mungkin untuk saat ini aku belum bisa melakukannya, tunggu sampai aku menyelesaikan tugas terakhir dari bos ku, setelah itu selesai aku berjanji akan segera menghampiri dirimu.


Aku ingin membenahi kehidupanku terlebih dahulu, dan memantas'kan diri untuk menjadi calon pendamping dirimu.


Sungguh... maafkan aku, Al. Kamu adalah wanita pertama yang membuat hatiku bergetar, dan aku berjanji jika tugasku sudah selesai dan aku merasa bahwa aku sudah layak untuk jadi pendamping'mu, maka aku akan segera menemui dirimu.


O iya, barang-barang mu aku kembalikan, kecuali jaket kulit berwarna hitam, izinkan aku menyimpannya sebagai kenang-kenangan agar aku tidak melupakan janjiku padamu, dan senantiasa mengingat dirimu.


Aku mencintaimu Axela..."


By. Gabriel


_________________________


Tanpa terasa air mata Al pun berjatuhan begitu derasnya, dia meremas surat tersebut. Al pun terdiam sejenak, setelah itu, dia pun bangkit lalu melepaskan jarum infus yang menancap di lengan kirinya.


Tanpa basa-basi lagi, gadis bernama Axela itu pun turun dari atas ranjang, berjalan dengan sempoyongan keluar dari dalam kamar.


_____________------------_____________


Promosi.

__ADS_1



*****


__ADS_2