Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Sesuatu Yang Tersembunyi


__ADS_3

Emill tersenyum geli, lalu menganggukkan kepalanya.


Senyum Alex pun mengembang semakin lebar, dia menoleh terlebih dahulu ke arah samping, menghembuskan napas ke permukaan telapak tangannya, memastikan bahwa napasnya dalam keadaan segar, setelah merasa yakin, dia pun kembali memutar kepala lalu menatap wajah sang kekasih yang kini telah memejamkan matanya siap untuk mendapatkan ciu*an.


Perlahan Alex mulai mendekatkan wajah dengan jantung yang berdetak kencang dan tubuh yang gemetar sebenarnya, karena setelah sekian lama akhirnya dia bisa merasakan sentuhan bibir seorang wanita.


Akhirnya bibir Alex pun mendarat sempurna di permukaan bibir ranum seorang Emillia, lembut, kenyal dan hangat, itulah kesan pertama yang dia rasakan, Alex pun perlahan memejamkan mata seiring dengan lum*tan yang dia terima dari calon istrinya tersebut.


Emillia kini melingkarkan lengan di pinggang calon suaminya itu, sementara Alex meletakan tangannya di leher Emillia seolah tidak ingin melepaskan.


Semakin lama, ciuman yang mereka lakukan semakin panas, Alex bahkan memutarkan kepalanya dengan lidah yang dimasukan kedalam mulut Emillia dan bermain di dalamnya, membuat gadis cantik itu semakin memejamkan matanya, dengan mengeratkan lingkaran tangan di pinggang calon suaminya itu.


''Cukup, izinkan aku bernapas sebentar.''


Emill melepaskan tautan bibirnya, menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, setelah itu dia pun langsung kembali mendapatkan sambaran kilat dari seorang Alex dengan tidak sabar.


Alex semakin buas kini, dia bahkan tidak segan meletakan tangannya di gunungan kembar calon istrinya itu, meremasnya pelan membuat Emill mengeluarkan suara pekikan yang di tahan.


Setelah puas melakukan hal itu, tangan Alex hendak turun untuk menjamah bukit yang bersarang di bawah sana, namun, dengan segera tangan Emil meraih pergelangan tangan kekasihnya itu, lalu menggelangkan kepalanya, dan melepaskan ciuman panas mereka.


''Jangan, Mas. Aku tidak ingin melakukannya sebelum kita sah menjadi suami-isteri,'' ucap Emill sedikit memundurkan kepalanya.


''Oh ... Maaf, Mas hilang kendali, maklum sudah lama sekali Mas gak pernah bersentuhan dengan seorang wanita, dan sekarang melakukan ini denganmu membuat sesuatu yang tersembunyi di dalam jiwa Mas seolah meronta-ronta meminta sesuatu,'' jawab Alex gugup.


''Sesuatu ...? Sesuatu apa ...?'' tanya Emill mengerutkan kening.


''Ya sesuatu itu ... yang tadi kamu katakan ...?''


''Apa ...? kalau ngomong yang jelas dong, biar aku ngerti?''

__ADS_1


''Duh, kamu ini ... Yang tadi kamu katakan, sesuatu yang akan kita lakukan setelah kita menjadi suami-istri, anu ... anu ...'' jawab Alex semakin gugup dengan wajah yang memerah.


''Oh itu ... he ... he ... he ...! iya ... Aku memang gak mau melakukan itu sebelum kita resmi menikah, jadi Mas harus menahan sesuatu yang tersembuyi di dalam jiwa Mas itu, sampai kita resmi menikah, oke ...'' jawab Emill tersenyum.


''Duh, jadi gak sabar. Gimana kalau kita menikah Minggu depan?''


''Ish ... Mas ini, masa Minggu depan, kecepatan tau, emangnya nikah itu gampang? kita harus mempersiapkan ini dan itu, banyak yang harus pikirkan.''


''Oh iya, Mas lupa. Mau nikah aja ribet banget si,'' gerutu Alex, menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali sebenarnya.


''Mas ini, gak sabaran banget si, ngebet banget pengen cepet-cepet nikah,'' Emill terkekeh.


''Habisnya, gara-gara kita ngomongin anu, Mas 'kan jadi gak sabar pengen cepet-cepet anu ...''


''Ha ... ha ... ha .... Sabar-sabar, Mas ...'' ucap Emill tertawa renyah, suara tawa seorang Emillia bahkan terdengar menggemaskan di telinga Alex.


''O iya, Mas. Mas 'kan harus segera pulang ke kota, nanti kemalaman di jalan, lho.''


''Nggak bukan begitu, Mas. Aku cuma khawatir Mas kemalaman di jalan, kalau terjadi sesuatu gimana?''


''Kamu tenang aja, Mas ahli dalam berkendara ko, lagian Mas 'kan masih ingin berduaan sama kamu, kemarin-kemarin 'kan tau sendiri di gangguin, diledekin terus sama si Leo itu.''


Emill kembali terkekeh, raut wajah Alex terlihat seperti anak kecil yang tidak mau dipisahkan dari mainan kesayangannya.


''Lagian, ada sesuatu yang ingin Mas katakan sama kamu,'' ucap Alex merubah raut wajahnya menjadi lebih serius.


''Apa, katakan saja.''


''Sebenarnya, satu kaki Mas ini di amputasi, dan Mas memakai kaki palsu sebenarnya,'' lirih Alex merasa tidak percaya diri.

__ADS_1


''Apa ...?''


''Kamu pasti jijik 'kan? Kamu gak akan ninggalin Mas 'kan, setelah tau hal ini?'' tanya Alex memelas.


''Siapa bilang? apa aku bilang begitu? aku hanya terkejut aja, ko. Eu ... Apa boleh aku lihat kaki Mas, kalau Mas gak keberatan,'' pinta Emill sedikit ragu-ragu sebenarnya.


''Kamu yakin gak ngerasa jijik kalau melihatnya?''


Emill menggelengkan kepalanya.


''Gak akan membatalkan pernikahan kita?''


''Iya, gak akan, aku bukan tipe orang yang memandang pisik, meski pisik Mas gak sempurna, tapi hati Mas sempurna untuk aku 'kan?''


''Tentu saja, sayang. Hati dan jiwa aku sempurna untuk kamu. Baiklah kalau kamu memaksa,'' jawab Alex.


Meski sedikit ragu-ragu, akhirnya Alex perlahan menaikan celana panjang yang dia kenakan, menariknya sampai ke lutut, hingga kaki palsu yang dia kenakan terlihat sempurna.


Emill nampak membulatkan bola matanya seketika, dia menyentuh kaki palsu itu dengan telapak tangannya secara lembut dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


''Ini ...? Apakah ini sakit?'' tanya Emil dengan suara lembut.


''Nggak, saat ini tidak sakit sama sekali,'' jawab Alex menunduk, rasa percaya dirinya mendadak hilang seketika.


Pandangan Emill begitu lekat menatap kedua kaki Alex yang terlihat berbeda, lalu pandangan matanya beralih menatap wajah calon suaminya tersebut, menatap dengan tatapan sayu, kemudian dia pun meletakan kedua telapak tangannya di rahang Alex dengan tatapan mata mengarah tajam ke wajah pria yang akan segera menikahinya itu.


''Mas, dengarkan aku. Meski keadaan kamu seperti ini, aku janji gak akan berubah, apalagi membatalkan rencana pernikahan kita. Seperti yang aku bilang tadi, aku bukanlah wanita yang memandang pisik, bagiku yang terpenting adalah ini, hati Mas, tulus buat aku,'' lirih Emillia meletakan kedua tangannya di dada bidang Alex, membuat pria itu benar-benar tersentuh.


Setelah mengatakan hal itu, Emill pun mendekatkan wajahnya lalu mengecup mesra bibir Alex, melum*tnya pelan, hingga ci*man panas pun kembali dilakukan oleh sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu.

__ADS_1


_____________---------______________


__ADS_2