
''Gimana, enak 'kan?'' tanya Al menatap perubahan raut wajah suaminya.
''Hmm ... Enak, manis, semanis kamu, sayang ...'' jawab Briel tersenyum.
''Beneran ...? tapi ekspresi wajah kamu seperti bertolak belakang sama ucapan kamu, sini biar aku cobain ...'' ujar Axela, hendak meraih cangkir.
''Gak usah, enak ko ...'' Briel mengangkat cangkir tersebut ke udara.
''Bohong, aku gak percaya, sini kasih ke aku,'' Al naik dan berdiri di atas tempat tidur, meraih cangkir tersebut.
Kemudian dia pun meniup lalu menyeruputnya pelan.
''Huek ...! Asin ...!" Al memuntahkan air teh dari dalam mulutnya.
Gabriel terkekeh merasa lucu.
"Ha ... ha ... ha ...! Aku sudah bilang, gak usah di cobain, kasian bayi kita 'kan keasinan di dalam sana ...!''
Plak ...
Axela memukul bahu Briel, membuat suaminya itu meringis kesakitan.
''Argh ... Sakit, sayang ...?''
''Kenapa gak bilang aja si, kalau rasanya asin?''
''Emangnya kamu gak bisa bedain mana garam, yang mana gula?''
Al menggelangkan kepalanya.
''Ya ampun ...!'' Briel menepuk jidatnya sendiri.
''Kenapa? kamu kecewa karena istri kamu gak bisa bikin teh manis, gak bisa bedain mana garam, yang mana gula, begitu ...?'' gerutu Al, mengerucutkan bibir mungilnya.
Melihat hal tersebut, membuat Briel merasa ngilu, bibir mungil sang istri yang di kerucutkan sedemikan rupa membuat dirinya tidak tahan lagi untuk tidak mengecupnya.
Cup ...
Terdengar suara kecupan yang sengaja di buat nyaring.
''Kamu ...? nyari-nyari kesempatan ya? orang aku lagi kesal juga ...!''
Cup ...
Briel kembali mengecup, bahkan dengan suara yang lebih nyaring, diiringi suara tawa Briel yang merasa lucu melihat tingkah sang istri.
__ADS_1
''Gabriel ...?'' Al membulatkan bola matanya, semakin kesal.
Melihat sang istri semakin kesal, membuat Briel semakin terkekeh, dia pun kembali mengecup bibir mungil sang istri, namun, kali ini dia menahan bibirnya seraya membenamkan-nya dalam, dengan tangan yang diletakan di leher sang istri, membuat Axela terdiam seketika lalu memejamkan mata.
''Pintar ya kamu, bikin istri kamu berhenti marah-marah ...'' lirih Al sesaat setelah keduanya melepas ciuman.
''Tapi kamu suka 'kan?'' tanya Briel, yang langsung dia jawab dengan anggukan diiringi senyuman dari bibir Axela.
''Sebentar ya, aku ganti dulu teh manisnya, biar aku minta bibi aja yang buatin.''
Briel mengangguk dengan tersenyum.
Axela pun bangkit lalu berjalan keluar dari dalam kamar, sementara itu, Briel menatap tubuh istrinya tersebut masih dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibir seorang Gabriel, sungguh hatinya merasakan kebahagiaan yang tidak terkira, mulai saat ini dia akan selalu berada di samping wanita bernama Axela, dia pun berjanji dalam hatinya, bahwa dia akan membahagiakan istrinya tersebut.
Lamunannya pun buyar saat mertuanya masuk kedalam kamar, membuat Briel gugup seketika.
''Gimana keadaan kamu, Gabriel ...?'' tanya Leo berjalan mendekat, lalu berdiri di samping tempat tidur.
''Keadaan aku sudah baik-baik saja, Om ...'' jawab Briel.
''Lho, kenapa masih manggil dengan sebutan Om? aku 'kan mertua kamu sekarang, panggil Om dengan sebutan Papi, Oke ...?''
''Eu baik, Om. Eh maksud saya, Papi ...'' jawab Briel tersenyum.
Briel tersenyum.
''Pap, aku ingin ikut dalam misi papi dalam melawan kelompok si Revan, izinkan aku untuk membantu Papi, ya ...? aku janji tidak akan terluka dan kembali dengan selamat ...'' pinta Briel menatap lekat wajah mertuanya.
''Tapi, Gabriel. Papi takut kamu terluka, kamu lupa sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah? gimana perasaan istri kamu, kalau sampai dia tahu bahwa Papi yang mengajakmu bertarung melawan para Mafia itu? pasti Papi yang akan di salahkan sama Al nantinya...''
''Apa maksud Papi? bertarung ...?'' Axel yang masih memakai seragam sekolah mendengar semua ucapan sang ayah dengan adik iparnya tersebut.
''Axel ...?'' Leo terlihat gugup, begitupun dengan Gabriel.
''Jadi benar, Papi mantan ketua Mafia? nggak-nggak, bahkan dari apa yang aku dengar tadi, sepertinya kelompok Mafia yang Papi pimpin masih ada dan akan bertarung, apa itu benar ...?'' tanya El, malayangkan tatapan tajam, duduk di tepi ranjang.
''Eu, anu, El ... Papi jadi malu, kayaknya Papi udah gak bisa menyembunyikan identitas Papi lagi darimu ...'' jawab Leo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
''Jadi beneran ...?'' El semakin membulatkan bola matanya.
Leo hanya bisa mengangguk pasrah.
''Wah ...! keren banget, aku benar-benar gak nyangka, Papi benar-benar ketua Mafia, aku sungguh bangga sama Papi,'' El tertawa senang.
''Sttt ... jangan keras-keras, nanti Mommy kamu dengar?''
__ADS_1
''Emangnya Mommy gak tau?''
''Tentu saja tahu, mana mungkin dia gak tahu.''
''Tunggu-tunggu ... Ada sesuatu yang janggal. Gabriel ... apa kamu seorang mafia juga?'' tanya El mengalihkan pandangan kepada Gabriel, menatap dengan tatapan tajam.
Briel tidak menjawab, dia hanya menggaruk kepalanya dengan tersenyum, merasa malu sebenarnya.
''Waaah ... satu kejutan lagi ternyata. Pantas saja kalian terlihat akur.''
''Sudah diam jangan di bahas lagi, nanti Mommy kamu dengar, Papi gak mau kalau dia sampai tahu kalau Papi terjun lagi ke dunia Mafia, tapi papi janji, ini yang terakhir, setelah itu, Papi akan benar-benar bertobat dan kembali ke jalan yang benar,'' ucap Leo bersungguh-sungguh.
''Kalian lagi ngobrolin apa si? keliatannya serius banget,'' Axela masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir teh hangat, membuat yang ada di sana terkejut dan langsung menutup mulut.
''Kenapa diam aja? jangan-jangan kalian lagi ngomongin aku, ya ...?''
''Nggak, sayang. Papi cuma lagi nanya kabar menantu Papi aja, iya 'kan Gabriel?'' jawab Leo gugup, dengan nada suara yang terdengar terbata-bata, yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Gabriel.
''Oh, kirain apaan ...''
''Ya udah, Papi keluar dulu ya, Papi lapar, mau makan dulu,'' ucap Leo, lalu melangkah keluar dari dalam kamar.
''Aku juga deh, gak enak lama-lama ada di sini, takut ganggu pengantin baru, ha ... ha ... ha ...'' ucap El yang langsung di jawab dengan pukulan di punggung oleh saudara kembarnya tersebut.
''Dasar, ngeledek aja terus ...'' timpal Al kesal.
Axel pun membuka pintu lalu kembali menutupnya, namun, sebelum pintu benar-benar tertutup rapat, Axel kembali meledek kembarannya tersebut.
''Selamat bersenang-senang yang kembaran-ku, ha ... ha ... ha ...'' lalu pintu pun benar-benar di tutup rapat.
Briel dan istrinya hanya bisa tersenyum, melihat tingkah sang Kaka yang terus meledek mereka berdua.
''Jangan di ambil hati, dia memang jail ...'' ucap Axela menyerahkan cangkir teh yang dia pegang.
''Mana mungkin, justru aku merasa senang, aku seperti benar-benar berada di tengah-tengah keluarga bahagia, dan ini adalah sesuatu yang selama ini aku rindukan, dan baru kali ini aku rasakan, dan rasanya hatiku sangat bahagia sekarang,'' jawab Briel, menerima cangkir lalu meneguknya perlahan.
''Yang ini beneran manis, 'kan?'' tanya Al menatap dengan seksama wajah suaminya.
''Manis sekali, sayang. Semanis wajahmu ...'' jawab Briel menyimpan cangkir di atas meja kecil, lalu meraih tubuh sang istri, membawanya berbaring.
Keduanya pun saling melayangkan tatapan diiringi dengan senyuman bahagia yang mengembang dari bibir keduanya. Kemudian Briel pun mengecup bibir ranum sang istri, membenamkan-nya begitu dalam, diiringi dengan tangan yang berjalan-jalan mengelilingi setiap jengkal raga molek sang istri.
______________------------____________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1