Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Break


__ADS_3

Ayu menatap ke arah jendela dan ternyata dia melihat ibu Emillia sedang berjalan menuju perpustakaan di mana dia dan Lucky sedang berada saat ini.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia pun segera memeluk tubuh Lucky, mendekapnya dengan begitu erat, bahkan dia pun mencium bibir pria tampan itu, tidak hanya itu saja, Ayu pun membuka kancing atas seragam sekolahnya secara diam-diam, agar mereka terlihat seperti sedang bercumbu mesra.


Harapannya terkabul, Emilia membuka pintu di waktu yang tepat, dia menyaksikan sendiri kekasih yang berbeda umur jauh dengannya itu sedang berciuman, meski hanya melihat dari arah belakang, namun, apa yang di lihatnya itu benar-benar membuat Emil terkejut.


Sejenak, dia pun berdiri mematung, tubuhnya terasa kaku dan kakinya terasa berat untuk digerakkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, sampai akhirnya, dia pun kembali menutup pintu dengan kasar membuat Lucky terkejut lalu berbalik menatap ke arah pintu.


Lucky yang tidak menyangka bahwa kekasihnya menyaksikan itu semua, segera membanting tubuh Ayu hingga siswi cantik itu benar-benar tersungkur ke atas lantai, lalu Lucky menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


''Dasar wanita gila ...!'' ucap Lucky, lalu dirinya segera berlari mengejar sang kekasih keluar dari dalam perpustakaan.


Sementara itu, Ayu tersenyum menyeringai, merasa puas dan berharap bahwa hubungan Lucky dengan Emillia berakhir seketika itu juga.


🌹🌹


Lucky berlari di koridor sekolah, mengejar Emillia yang masih saja berlari kencang, meski dia terus memanggil namanya.


''Bu, Ibu Emil ...!'' teriak Lucky di sela-sela langkah kakinya.


Namun, yang di panggil masih tidak menoleh dan semakin mempercepat gerakan kakinya dengan suara isak yang sedikit terdengar, membuat Lucky pun semakin mempercepat gerakan langkahnya, dengan terus memanggil nama kekasihnya tersebut tiada henti.


''Emillia, tunggu. Aku bisa jelaskan semuanya, ini tidak seperti yang kamu lihat, kamu salah paham,'' teriak Lucky dengan napas yang tersengal-sengal.


Sampai akhirnya Lucky berhasil mengejar kekasihnya, segera menarik pergelangan tangan Emil, membuat wanita itu menghentikan langkahnya seketika itu juga.


''Dengarkan dulu penjelasan aku, Emil. kamu salah paham,'' lirih Lucky, menggenggam erat pergelangan tangan Emillia.


''Apa lagi yang harus di jelaskan, aku melihat semuanya dengan mata kepala aku sendiri, kamu berciuman dengan gadis itu, kamu pikir aku buta, hah ...?'' teriak Emil dengan lelehan air mata yang terus berjatuhan membasahi pipinya.


''Yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu pikirkan, dia tiba-tiba mencium aku, bahkan menyatakan cinta kepadaku, tapi aku menolaknya, karena wanita yang aku cintai hanya kamu, sungguh ...''


''Tapi sepertinya kamu menikmati ciuman itu, dan kamu memeluk dia juga tadi. Aku tahu, aku hanya wanita tua yang tidak tahu diri, berani mencintai remaja tampan dan populer seperti kamu, dan aku juga sadar, kalau gadis itu lebih pantas menjadi pacar kamu, dibandingkan aku, hiks ... hiks ... hiks ...!''

__ADS_1


''Kamu salah paham, Emil. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun sama dia, wanita yang aku cintai hanyalah kamu,'' ucap Lucky, mulai berkaca-kaca.


''Sudahlah, lepaskan tangan aku sekarang juga, aku mau pulang, dan lebih baik, mulai saat ini kita jaga jarak dulu untuk sementara waktu, karena aku gak ingin seluruh siswa di sekolah ini sampai tahu tentang hubungan kita ini,'' ucap Emillia seraya melepaskan genggaman tangan Lucky, hingga terlepas.


Dia pun berbalik lalu hendak pergi.


''Tunggu, Emillia.''


Lucky kembali meraih pergelangan tangan Emillia.


''Apa kamu ingin hubungan kita berakhir sampai di sini?'' tanya Emil tanpa menoleh.


''Tidak, aku sama sekali gak ingin hubungan kita berakhir hanya karena kesalahpahaman seperti ini.''


''Kalau begitu, biarkan aku pergi sekarang, dan kita lakukan apa yang tadi aku katakan, lagipula, kamu akan segera menghadapi ujian akhir, Lucky. anggap saja kita istirahat dulu, sampai perasaan aku benar-benar tenang.'' Ucap Emillia.


Mendengar ucapan itu membuat Lucky benar-benar melepaskan genggaman tangannya, karena dia tidak ingin hubungannya berakhir begitu saja dengan wali kelasnya tersebut.


🌹🌹


Malam hari.


Seluruh keluarga Leo sudah berkumpul di ruang makan untuk menyantap makan malam, termasuk Gabriel yang kini duduk di samping sang istri dengan perasaan yang masih canggung, namun, hatinya diliputi kebahagiaan, karena dia baru pertama kali berkumpul d bersama keluarga istrinya. Namun, sepertinya masih ada yang kurang, karena si bungsu Lucky tidak terlihat berada di sana.


''Axel, coba panggil adikmu, kenapa dia belum turun juga? Apa dia sakit?'' pinta Leo.


''Baik, Pap ...'' jawab Axel, lalu berdiri dan berjalan menuju lantai dua dimana kamar Lucky berada.


Sesampainya di kamar, diapun segera mengetuk pintu dan membukanya lalu masuk kedalam kamar, menatap tubuh adik bungsunya yang nampak sedang berbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya.


''Dek, di panggil Papi tuh, waktunya makan malam,'' pinta El, berjalan ke arah ranjang.


''Kalian makan aja, aku gak lapar,'' jawab Lucky dari dalam selimut.

__ADS_1


''Kamu kenapa, Dek? Apa kamu sakit?'' El membuka selimut yang menutupi bagian kepala sang adik.


Lucky pun terlihat memejamkan mata, pura-pura tertidur, melihat hal tersebut, El segera meraba kening adiknya untuk memastikan apakah adiknya itu sedang dalam keadaan sakit.


''Suhu badan kamu normal.''


''Gak, aku gak sakit, aku hanya lagi gak ingin makan aja, Abang,'' jawab Lucky dengan nada suara yang terdengar berat dan sedikit enggan sebenarnya.


''Ada apa sebenarnya? apa kamu lagi patah hati?''


Lucky membuka matanya secara sempurna, lalu menutup kembali bagian kepalanya dengan selimut.


''Jadi benar? kamu baru aja di putusin ...?'' tanya El sedikit terkekeh.


''Nggak, kata siapa? kami hanya sedang istirahat aja ...''


''Istirahat ...? maksudnya 'Break' ha ... ha ... ha ...'' El tertawa renyah, membuat Lucky kesal.


''Abang, ko malah ketawa si? emangnya lucu ...?''


''Break sama putus itu sama saja, gak ada bedanya ...''


''Apa begitu?'' Lucky duduk di atas tempat tidur.


''Tentu saja, apa bedanya putus sama break? sama-sama menjauh, meskipun break hanya menjauh untuk sementara, tapi menurut Abang, itu sama saja dengan putus.''


Lucky pun kembali membanting tubuhnya ke atas kasur, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, hingga kepalanya pun dia sembunyikan di dalam sana, menyembunyikan kesedihan yang dia rasakan dari sang Kaka.


'Apakah hubungan kita sudah benar-benar berakhir ...?' (Batin Lucky)


___________----------___________


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2