
''Siapa Alex? kenapa kamu seperti marah sama dia?'' tanya Adel yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Leo terkejut dan menutup telpon lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, wajahnya pucat seketika dengan keringat dingin yang serasa membasahi sekujur tubuhnya.
''Hah... apa?'' Leo pura-pura tidak mendengar apa yang di katakan oleh istrinya.
''Tadi sepertinya aku mendengar suara kamu marah-marah, menyebut nama Alex deh kalau nggak salah,'' ucap Adel mengerutkan keningnya merasa curiga.
''Oh... itu, aku tidak berteriak ko, eu... aku memang habis nelpon dengan teman aku yang bernama Alex,'' Leo berjalan menghampiri dan berbohong.
''O ya...?''
Leo mengangguk lalu merangkul bahu sang istri dan berjalan keluar dari dalam kamar.
''Sudah, ayo kita sarapan, aku lapar banget nih...'' pintanya Leo.
Adelia hanya berjalan mengikuti langkah kaki suaminya, dengan alis yang di kerut'kan dan pandangan yang terlihat kosong seolah menatap ke depan, hatinya seolah sedang memikirkan tentang apa yang sempat tadi dia dengan saat mendengar sedikit yang di bicarakan oleh suaminya di telpon.
Jelas sekali jika suaminya itu mengatakan kata 'Bunuh' dan menyebut nama Alex, tapi dia sendiri tidak terlalu jelas dalam mendengar keseluruhan dari percakapan itu, dia hanya mendengar sekilas saat dia hendak masuk ke dalam kamar.
Akhirnya mereka pun sampai di meja makan, Leo tampak menatap ke atas meja, mencari cemilan kegemarannya.
''Hari ini nggak ada gorengan?''
''Kakiku masih sedikit sakit, jadi tidak sempat bikin gorengan, ini juga Bibi yang siapin,'' jawab Adelia sedikit mengerucutkan keningnya lalu duduk di kursi makan.
''Ya sudah nggak apa-apa, makan yang banyak setelah itu minum obat ya, mau aku suapin?'' ujar Leo dengan nada suara yang sedikit menggoda.
''Nggak usah, aku bisa sendiri ko, kamu juga makan yang banyak.''
''Baik, sayang. Istriku tercinta...''
Keduanya pun serapan bersama, sebenarnya pagi ini Adelia tidak sedang berselera makan, entah mengapa hatinya sedang merasa gundah, selain merindukan sang ibu, dia juga di buat tidak tenang karena percakapan yang tadi dia dengar.
Adel hanya mengaduk nasi yang berada di atas piringnya dengan melayangkan pandangan kosong seolah menatap piring tersebut, padahal pikirannya sedang melayang entah kemana.
Leo yang menyadari hal tersebut, dua menatap wajah sang istri lalu meletakkan sendok'nya di atas piring.
''Kenapa kamu tidak makan?''
''Aku tidak sedang berselera makan,'' jawab Adelia singkat.
''Apa mau makanan yang lain? bubur barangkali? atau Spaghetti?''
''Tidak usah... nanti juga aku makan ko.''
'Apa aku harus segera menjemput ibu kesini? agar Adel ada yang menemani.'
Gumam Leo dalam hati.
''Aku berangkat dulu, ya,'' ucap Leo berdiri.
__ADS_1
Adelia pun berdiri dan menghampiri suaminya, lalu bersalaman mesra terlebih dahulu, tak lupa pula Leo mengecup kening sang istri.
''Hat-hati ya,'' pesan Adel seraya menerima kecupan di keningnya.
''Iya, sayang. Jika kamu merasa bosan berada di rumah, kamu boleh jalan-jalan atau shoping, uang dari aku masih ada nggak? mau aku tambahin?''
''Nggak usah, uangnya masih ada kok, belum aku pakai sama sekali.''
''Baiklah kalau begitu,'' Leo hendak melangkah.
''Tunggu...'' Adel menghentikan langkah suaminya.
''Ada apa lagi?''
''Ingat, kamu harus jaga jarak dari wanita genit itu,'' pinta Adel dengan mulut yang sedikit di kerucutkan.
Leo tersenyum geli, merasa lucu melihat raut wajah istri tercintanya yang terlihat menggemaskan.
''Baik... baik... istri pencemburu'ku,'' Leo melangkah keluar seraya mengedipkan satu matanya.
Adelia menatap punggung suaminya, berjalan menjauh sampai akhirnya tak terlihat lagi. Dia pun kembali duduk, menatap menatap piring berisi nasi lalu mengaduknya pelan.
_____-----_____
Di dalam mobil, Leo menatap ponselnya, dia mencari nomor Alex yang tadi menelpon dirinya, setelah menemukan nomor tersebut, Leo pun menelpon nomor tersebut.
Tut
Tut
Tut
Leo : ''Dimana kamu brengsek...?''
Alex : "Kenapa kamu penasaran?
apakah kamu akan menyerahkan nyawamu secara sukarela?''
Leo : ''Aku ingin bertemu kamu sekarang juga?''
Alex : ''Baiklah, temui aku di gedung kosong di dekat dermaga, aku akan menemui mu di sana,'' jawab Alex lalu menutup telpon.
Ryan yang saat ini sedang menyetir menatap bos lewat kaca depan.
''Apa bos serius mau bertemu dengan Alex?'' tanya Ryan.
''Tentu saja, aku sudah geram dan ingin segera membalas dendam, aku sangat yakin dia yang telah membunuh ibuku, dan apabila aku tidak segera menyelesaikan urusan dengannya, nyawa istriku pun pasti akan terancam,'' jawab Leo dengan tatapan penuh dendam.
''Apa perlu saya memanggil yang lainnya? akan sangat bahaya jika kita hanya pergi berdua ke sana,'' Ryan merasa khawatir.
''Tentu saja. Sekarang kita mampir dulu ke markas,'' pinta Leo menatap Ryan.
__ADS_1
''Baik, Bos.''
Di markas mafia milik Leo, semua anak buahnya sudah berkumpul, mereka berbaris menyambut kedatangan Bos mereka. Leo pun berdiri di depan, menatap satu-persatu anak buahnya dengan tatapan penuh wibawa.
''Kalian harus bersiap, sekarang kita akan menangkap Alex Will, hidup atau mati, siapapun yang berhasil membawanya membunuhnya, akan aku beri imbalan yang besar,'' ujar Leonardo penuh penekanan.
''Baik, bos.''
Leonardo mengambil satu pucuk senjata api lalu di masukan ke dalam saku celananya, tekadnya sudah bulat, dia akan menghabisi Laki-laki yang bernama Alex Will, orang yang telah membunuh ibunda tercintanya.
Setelah siap, semuanya pun berangkat menuju tempat pertemuan, di sebuah gedung kosong yang terletak di dekat dermaga.
Sesampainya di sana, Leo turun dari dalam mobil, dia berdiri di luar dan melihat ke sekeliling mencari keberadaan Alex.
''ALEX KELUAR, DIMANA KAMU BRENGSEK?'' teriak Leo menggema di udara.
Anak buah Leo pun tampak berdiri memasang wajah dan bersikap waspada, melihat ke sekeliling dermaga untuk mencari keberadaan Alex Will.
''ALEX....'' Leo kembali berteriak.
Suasana begitu hening dan terasa mencekam, semua anak buah Leo mengeluarkan senjata api dari dalam saku masing-masing dan mengacungkannya ke depan, bersiap menembak apabila Alex sudah terlihat.
Tak lama kemudian terdengar suara tawa yang menggelegar, Alex pun keluar dari arah gedung yang diikuti oleh beberapa orang anak buahnya.
''Ha... ha... ha... ternyata nyali'mu sangat besar, namun sayang aku tidak berniat untuk menghabisi mu saat ini, namun ada orang lain yang lebih menarik untuk aku ajak main,'' ujar Alex lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas hitamnya.
Alex menatap ponsel tersebut dan terlihat akan menelpon seseorang, dia pun dengan senagaja mengeraskan suara telponnya, agar musuh di depannya mendengar suara orang yang akan di telponnya.
Tut
Tut
Tut
Terdengar suara telpon yang belum di angkat.
Beberapa detik kemudian.
''Hallo... ini siapa?'' terdengar suara wanita mengangkat telpon.
Leo terbelalak membulatkan bola matanya seketika, karena suara itu terdengar seperti wanita yang sangat dia kenal, yaitu, istrinya, Adelia.
___________----------____________
.Hai semuanya, semoga kalian dalam keadaan sehat. Sambil menunggu Author up episode selanjutnya, silahkan kunjungi terlebih dahulu novel teman saya, di jamin ceritanya tidak kalah seru dan pastinya menarik untuk di baca oleh kalian semua.
Salam hangat dan terima kasih.
*****
__ADS_1