
Akhirnya, Al terbangun dari tidurnya, dia membuka mata secara perlahan, lalu mengusap nya pelan dengan kedua telapak tangannya.
Setelah matanya terbuka secara sempurna, dia pun menatap wajah sang ibu yang terlihat sedang menangis sesenggukan, duduk di tepi ranjang. Sementara sang ayah, berdiri di depan jendela, menetap ke arah luar seolah menembus kegelapan malam, namun, sebenarnya Leo sedang melayangkan tatapan kosong.
Sebagai seorang ayah, Leo merasa gagal menjaga putri satu-satunya itu, apa selama ini dia terlalu membebaskan dan terlalu memanjakan putrinya tersebut? dia pun mengusap wajahnya secara kasar merasakan kekecewaan yang teramat dalam.
''Mom, ada apa? kenapa Mommy menangis ...?'' tanya Al, masih dalam keadaan berbaring.
''Dari awal, Mommy sudah tidak suka kamu pacaran dengan laki-laki itu, dari awal mengenal dia, perasaan Mommy sudah tidak enak, dan ternyata kekhawatiran Mommy terbukti sekarang, kamu hamil, padahal umur kamu baru 17 tahun, Al. Mommy sungguh kecewa sama kamu. Hiks hiks hiks ...!'' ucap sang ibu meluapkan kekecewaannya.
Axela pun terkejut, dia menangis seketika itu pula, Al pun mencoba bangkit, lalu turun dari atas ranjang, berdiri di depan sang ibu, kemudiannya bersujud di kaki ibunya tersebut dan memohon maaf serta meluapkan penyesalannya, tangisnya pun pecah, menggema di seisi ruangan, terdengar begitu pilu, bagi siapa pun yang mendengarnya.
''Mom, Maafkan aku, Mom. Aku mohon ampun, aku mengaku salah, aku khilaf, maafkan aku karena menyakiti hatinya kalian berdua, hiks hiks hiks ...'' ucap Al, wajahnya terlihat pucat pasi, di tambah air mata yang kini membanjiri seluruh wajah cantiknya.
''Maaf kamu tidak akan merubah keadaan, Al. Apa yang akan kamu lakukan sekarang? apa yang akan dikatakan oleh nenekmu nanti, kalau sampai dia tahu bahwa kamu hamil di luar nikah, hah ...''
''Ampuni aku, Mom, hiks hiks hiks!'' lirih Al membenamkan kepalanya, hingga menyentuh kaki sang ibu.
Leo yang menyaksikan hal tersebut, akhirnya berjalan menghampiri Axela.
''Kamu harus segera menikah dengan pria itu, sebelum perutmu semakin membesar, dan orang-orang tahu kalau kamu hamil, apa yang akan Papi katakan kepada mereka semua, Papi malu, Al.'' Leo berdiri tepat di samping sang istri.
Al pun mengalihkan pandangan matanya ke arah sang ayah, menatap wajahnya yang terlihat sangat kecewa, dia tidak pernah melihat Ayahnya marah sampai seperti itu, bahkan mata ayahnya itu terlihat basah dengan air mata.
Dia pun bersimpuh di bawah kaki Leo, menangis sesenggukan seraya memohon ampun, dengan hati dan perasaan hancur, jika bisa memilih, Al lebih memilih mengakhiri hidupnya daripada melihat kedua orangtuanya kecewa.
__ADS_1
''Aku mohon ampun, Pap. Aku salah, aku khilaf, tapi aku belum mau menikah, Pap, bagaimana dengan sekolah aku jika aku menikah? hiks hiks hiks ...!''
''Apa ...? Sekolah ...? apa kamu mau sekolah dengan perut besar, terus teman-teman kamu tahu bahwa kamu hamil? kamu bakal di cemooh oleh mereka semua, karena hamil di luar nikah,'' Leo dengan penuh penekanan.
Al pun semakin mengencangkan suara tangisnya, sehingga terdengar oleh Axel dan juga Lucky, keduanya pun kini memasuki kamar Axela. El segera menghampiri dan meraih tubuh saudara kembarnya, yang terlihat masih bersujud di kaki sang ayah.
''Al, bangun, Al. Kamu lagi demam, bangun saudaraku,'' El tidak kuasa menahan kesedihan, melihat saudara kesayangan terpuruk dan menangis sesenggukan.
''Mom, Dad, jangan terlalu keras dengan dia, kasian dia lagi hamil,'' El dengan suara bergetar.
''Jadi kamu sudah tahu kalau adikmu itu hamil? dan kamu menyembunyikan ini dari Papi, El?'' tanya Leo merasa geram.
''Maaf, Pap. Aku nunggu waktu yang tepat untuk bercerita kepada kalian berdua, aku sama sekali gak bermaksud untuk menyembunyikan ini semua,'' jawab El, sedikit tergagap.
''Mommy sungguh kecewa sama anak-anak Mommy, hati Mommy benar-benar sakit, hiks hiks hiks ...!''
''Cukup, Mom, Pap, jangan terlalu keras dengan dia, aku tahu dia salah, dan kalian kecewa sekali dengan dia, tapi, saat ini dia sedang butuh dukungan kita, bukan dihakimi seperti ini, jika ada yang mesti di salahkan, seharusnya kalian salahkan saja si Gabriel bajingan itu, bukan Axela, dia hanya korban,'' El sedikit menaikan suaranya.
Mendengar ucapkan putra sulungnya, Leo pun baru tersadar bahwa, laki-laki yang telah menghamili putrinya juga sedang berada di rumahnya sekarang, dia pun berjalan keluar dari dalam kamar, dengan wajah yang terlihat geram, dan rahang yang mengeras serta tangan yang di kepalkan, hendak menghampiri pria yang bernama Gabriel.
Namun baru saja dia melangkahkan kakinya satu langkah, tiba-tiba saja tubuh Al ambruk tidak sadarkan diri, membuat semua yang ada di sana pun panik dan segera menghampiri Axela yang saat ini terkulai lemas di atas lantai.
''Al, bangun, Al ...'' Axel segera meraih kepala adiknya dan meletakkan di pangkuannya.
Sementara sang Ayah, Ibu, dan juga Lucky, ikut menghampiri ke arah dimana tubuh Al berada.
__ADS_1
''Mom, kita harus segera membawa Kaka ke Rumah Sakit, kasian kaka ...!'' lirih Lucky dengan sedikit terisak.
''Papi siapkan mobil dulu, El bawa dia kebawah segera, kita bawa Al ke Rumah Sakit sekarang juga,'' Leo segera berlari keluar.
''Baik, Pap,'' jawab Axel, meraih tubuh Al dan menggendongnya keluar dari dalam kamar.
Sementara Lucky, dia memapah tubuh ibunya yang terlihat begitu lemas, menahan kesedihan sekaligus kekecewaan.
Gabriel yang sedang beristirahat di salah satu kamar pun, segera keluar, saat mendengar suara keributan, dia membuka pintu dan terkejut melihat tubuh Al di gendong oleh saudara kembarnya.
''Dia kenapa, El? apa yang terjadi?'' tanya Briel menghampiri dan berjalan beriringan, matanya menatap wajah kekasih yang saat ini sedang terpejam dengan tangan yang terkulai lemas.
''Dia pingsan, semuanya agar-gara Lo, brengsek,'' jawab El, masih dengan keadaan setengah berlari.
Briel pun hendak mengikuti, namun tiba-tiba saja, tangan Adelia yang berjalan di belakangnya, meraih pergelangan tangan dirinya, kemudian ...
Plak ...
Satu tamparan mendarat di pipi Gabriel, Lucky yang saat ini berjalan berdampingan dengan sang ibu pun di buat terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan oleh ibunya tersebut.
''Brengsek kamu, kamu telah menghancurkan hidup anak saya, masa depan dia hancur sekarang, semuanya gara-gara kamu,'' teriak Adelia merasa geram.
''Mom, cukup, Mom. Marahin dianya nanti aja, kita harus segera membawa kak Al ke Rumah Sakit,'' lirih Lucky pelan.
Adelia pun kembali berjalan, namun sebelumnya, dia pun menatap wajah Briel dengan tatapan yang penuh dengan kebencian, dan mata yang berkaca-kaca, tangannya pun terlihat di kepalkan, sungguh merasa geram dengan pria yang telah menghancurkan masa depan putri kesayangannya.
__ADS_1
____________-------------_____________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️