Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Hanya Tidur Bersama


__ADS_3

Ayu perlahan membuka mata, menarik kelopaknya secara paksa, meskipun pelupuknya itu masih terasa berat untuk di gerakkan, dan orang pertama yang dia lihat saat matanya terbuka sempurna adalah Lucky, laki-laki yang sangat dicintainya.


Ayu pun tersenyum sumringah, dia menatap penuh rasa cinta, memperhatikan tiap lekuk bentuk wajah kekasihnya dengan seksama, mata, hidung hingga bibirnya terlihat begitu sempurna membuat Ayu seketika membulatkan tekadnya untuk benar-benar sembuh dari rasa candunya, dan menjalani hidup normal serta bahagia bersama kekasihnya itu.


Ayu pun mengecup pelan bibir merah Lucky, dan semakin membenamkan kepalanya di dada bidang kekasihnya itu, mencium aroma tubuh yang benar-benar membuatnya merasa tenang.


Lucky pun membuka mata seketika, kecupan di bibirnya membuat dirinya menyudahi mimpi indahnya semalam, dia bermimpi tidur bersama seorang perempuan, dan baru menyadari bahwa itu bukanlah mimpi, karena saat ini dia memang benar-benar tidur bersama kekasihnya, berhasil melewati malam tanpa melakukan hal apapun, hanya tertidur saling berpelukan.


''Selamat pagi, sayang. Gimana keadaan kamu, apa kamu sudah baik-baik saja sekarang?'' tanya Lucky menatap wajah Ayu yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya.


''Iya, aku baik-baik saja, terima kasih karena kamu mau menemani aku di sini, Luck. Aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga agar aku bisa sembuh, aku janji ...'' jawab Ayu menatap dengan tatapan sayu.


Wajah gadis itu terlihat begitu pucat, lingkaran hitam di matanya pun masih nampak, kelopak mata seorang Ayu terlihat sedikit membengkak dengan warna merah didalamnya, membuat gadis itu terlihat begitu mengenaskan.


''Aku akan membantumu untuk sembuh, aku pun berjanji gak akan pernah meninggalkan kamu, aku janji ...'' jawab Lucky mengecup kening sang kekasih.


Keduanya pun semakin merapatkan pelukan dengan tubuh yang menempel sempurna tanpa jarak sedikitpun, membuat sesuatu yang tersembunyi di balik segitiga milik Lucky mengeras dan terasa sempit seketika.


Lucky pun bangkit dan melepaskan pelukannya, dia tidak ingin jika nantinya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, yang akan merusak wanita yang kini dicintainya itu.


''Jam berapa sekarang? aku harus pulang ...'' tanya Lucky mengalihkan perhatian.


''Kamu mau pulang ...?''


Lucky menganggukkan kepalanya.


''Aku gak mau sendirian di sini, aku takut ayah tiba-tiba membawa aku ke panti rehabilitasi, aku gak mau ke sana, aku takut Luck ...'' lirih Ayu mengiba, memeluk tubuh kekasihnya itu dari arah belakang.


Lucky hanya terdiam, dia sama sekali tidak tahu harus berkata apa, semua keputusan ada di tangan ayah dari kekasihnya itu, dia tidak berani melawan Revan. Tapi sesungguhnya, jauh dari lubuk hati Lucky merasa iba dan tidak tega jika harus benar-benar memasukan gadis yang dicintainya itu ke dalam panti rehabilitasi.

__ADS_1


Sepertinya dia harus meminta tolong kepada kakaknya mencarikan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya saat ini.


''Luck ... kenapa kamu malah melamun? aku gak mau ditinggal sendirian di rumah, aku takut sama ayah, aku takut di bawa secara paksa ke tempat itu, bawa aku Luck, bawa aku kemanapun kamu pergi, Please ..." lirih Ayu mengiba dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


''Kamu mandi dulu, ganti pakaian, kamu ikut aku ke rumah,'' jawab Lucky, memutar kepalanya ke arah sampai dimana Ayu berada.


Ayu pun tersenyum sumringah, dia segera bangkit lalu turun dari atas ranjang, dan berjalan ke kamar mandi.


''Aku tunggu di luar, ya ...'' teriak Lucky.


''Iya ...'' jawab Ayu dari dalam kamar mandi.


Lucky lebih memilih menunggu di ruangan yang ada diluar kamar, dia duduk di kursi yang memang disediakan untuk bersantai di sana. Tatapannya nampak menatap langit-langit ruangan dengan tubuh yang disandarkan di sandaran kursi berwarna hitam.


'Apa yang harus aku lakukan?' (Batin Lucky)


Untuk mengusir kejenuhan yang dia rasakan dalam menunggu Ayu, Lucky meraih album Poto yang berada di bawah meja, album tebal dan sudah sedikit usang.


Kini, Lucky membuka halaman ke dua, kembali menatap dengan seksama satu lembar Poto berukuran besar yang tertempel di dalamnya, dia terkejut seketika membulatkan bola matanya, tatkala mengenali wajah yang ada di dalam Poto tersebut.


Ya ... itu adalah Poto sang ayah, Leonardo. Dia berpose dengan wajah tersenyum berada di tengah-tengah Alex dan juga Revan, sontak, melihat hal itu membuat Lucky merasa heran. Apakah ayahnya mengenal ayah dari kekasihnya itu?


Kalau Alex sudah jelas, dia mengetahui dengan pasti bahwa pria yang kini telah menjadi suami Emillia adalah sahabat baik dari sang ayah, sementara Revan, Lucky sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya mengenal baik pria yang bernama Revan tersebut.


Lucky mengambil Poto tersebut, dia akan menanyakan hal ini langsung kepada ayahnya, tidak ... Lebih baik dia menanyakan hal ini kepada Alex, dia sendiri tidak yakin bahwa sang ayah akan berbicara jujur kepada dirinya, Lucky pun melipat Poto tersebut dan memasukannya kedalam saku celana jens yang dia kenakan.


🍀🍀


Revan sedang menerima laporan dari Topan yang sudah lebih dari dua Minggu dia tugaskan untuk mengintai rumah Leo, saat ini Topan berdiri tepat di depan bosnya tersebut.

__ADS_1


''Gimana, ada perkembangan apa? apakah si Leonardo sudah membuat pergerakan?'' tanya Revan duduk bersilang kaki.


''Sepertinya belum, bos. Keadaan masih aman dan terkendali. Tapi, apa kita harus menunggu mereka? apa tidak sebaiknya kita yang menyerang mereka terlebih dahulu,'' jawab Topan.


''Hmm ... Apa begitu? Baiklah, kita akan menyusun rencana agar kita bisa bertarung melawan si Leonardo.''


''Tapi, bos. Apa yang akan kita lakukan sama pria yang bernama Alex?''


''Jangan menyentuh dia dulu, walau bagaimanapun aku telah menganggap dia seperti kakakku sendiri, kita abaikan saja dia. Tapi, jika dia ikut bertarung, terpaksa mau tidak mau kita juga harus menyingkirkan dia juga,'' jawab Revan membayangkan sosok Alex yang selama ini begitu dekat dengan dirinya.


Revan menyudahi percakapan mereka, tatkala melihat Ayu dan kekasihnya menuruni tangga hendak berjalan mendekat.


Ayu terlihat berjalan dengan menggandeng tangan kekasihnya, dia menunduk menyembunyikan tubuhnya di samping sang kekasih merasa ketakutan tatkala mata sang ayah kini menatap tajam ke arah mereka berdua.


Ayu benar-benar takut untuk menatap wajah sang ayah, tatapan tajam yang biasa dia layangkan kepada ayahnya dan biasa membantah setiap perkataan Revan, kini terlihat menunduk, melingkarkan tangannya erat di pergelangan tangan Lucky.


''Permisi, Om. Saya izin keluar bersama Ayu,'' ucap Lucky ramah berdiri tepat di depan Revan.


''Silahkan, bawa dia kemanapun kamu pergi,'' jawab Revan memalingkan wajahnya.


''Baik, Om. Kalau begitu saya permisi,'' Lucky pun berjalan melintasi Topan.


Topan menatap lekat wajah Lucky, dia yakin sekali bahwa pemuda itu adalah putra dari Leonardo.


''Bos, apakah Bos tau pacar dari putri Bos itu anak siapa?''


''Maksud kamu apa?'' tanya Revan.


''Sebenarnya dia adalah ...''

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2