
'Apa dia mengenaliku? Apa yang akan aku lakukan sekarang' (Batin Briel, merasa ketakutan)
''Pap, udah lepasin, kasian tangan dia sakit, kan?'' Al melepaskan genggaman tangan sang ayah dengan sedikit paksaan.
''Oh, iya. Sorry, papi terlalu bersemangat ingin berkenalan lebih dekat dengan pacar kamu ini.''
''Gak apa-apa Al, tangan aku baik-baik saja ko, gak sakit sama sekali,'' jawab Briel berbohong, nyatanya, telapak tangan pemuda itu memerah sekarang.
Axel yang sedari tadi berpura-pura tidur pun akhirnya membuka mata secara sempurna, dia menatap wajah Gabriel, pemuda yang selama ini di carinya. Ada rasa geram di dalam hati Axel, ingin rasanya dia menguliti pemuda itu, kalau saja dia tidak mengingat bahwa kembaran'nya mengemis pertanggungjawaban dari pria bernama Gabriel tersebut, mungkin dia tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka berdua.
Tapi tetap saja, rasa tidak sukanya kepada Gabriel pun masih memenuhi hatinya, baginya, Gabriel tetap saja pria brengsek yang telah merusak kehormatan Axela.
Axel pun hanya terdiam tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap wajah Gabriel dengan tatapan datar, mencoba menyembunyikan rasa ketidaksukaannya.
''O iya, Briel. Ini om Alex, sahabat papi.''
Al pun mengenalkan Gabriel kepada Alex yang kini menatap wajah Gabriel dengan tatapan heran, karena wajah pemuda tersebut terlihat familiar.
Gabriel pun mengulurkan tangannya seraya menyebutkan namanya, yang langsung di sambut dengan tersenyum oleh Alex seraya menyebutkan namanya juga.
''Hm ...! wajah kamu familiar, apa kita juga pernah bertemu sebelumnya?'' ujar Alex.
''Masa sih, om? muka aku emang pasaran he ... he ... he ...'' Briel sedikit gugup.
__ADS_1
Alex menyipitkan matanya, dengan kening yang di kerut'kan.
''Apa begitu? bisa saja sih, muka om juga pasaran ko, apalagi muka dia,'' Alex menatap wajah Leo.
''Apa ...? enak aja muka aku di bilang pasaran, muka kayak gini cuma ada satu di dunia, tau,'' jawab Leo tidak terima.
Semua yang ada di sana pun tertawa, menyaksikan sepasang sahabat sedang bercanda. Tidak lama kemudian Dokter dan dua perawat pun masuk kedalam ruangan, untuk melakukan pemeriksaan.
''Selamat pagi, Tuan Leo. Hari ini tangan anda akan di Rontgen, jadi saya akan membawa anda ke ruangan khusus Rontgen, silahkan keluarganya mendampingi,'' ucap sang Dokter.
''Baik, Dokter, saya yang akan menemani Leo menjalani pemeriksaan,'' Alex membantu Leo untuk bangun dan turun dari atas ranjang untuk duduk di kursi roda.
''Aku juga ikut, om. Aku ingin tau keadaan papi juga,'' Axela.
''Briel, kamu gak apa-apa kan, di sini dulu?''
''Iya, gak apa-apa, aku tunggu di sini aja,'' jawab Briel mengangguk.
Dokter pun segera keluar, beserta Leo yang di dorong oleh Alex menggunakan kursi roda, dengan Al yang berjalan di belakangnya.
Sepeninggal mereka, tinggallah Axel berdua saja dengan Gabriel, suasana pun hening sejenak, kecanggungan tercipta di antara mereka berdua. Sampai akhirnya Gabriel memberanikan diri untuk menyapa terlebih dahulu.
''Bagaimana keadaan'mu ...?'' tanya Briel masih berdiri di tempat yang sama.
__ADS_1
''Keadaan gue baik, seperti yang Lo lihat sekarang,'' jawab El datar.
''Syukurlah ...''
''Gabriel, Lo jangan besar kepala karena adik gue udah ngenalin Lo sama bokap gue, asal Lo tau, gue gak segan-segan menghajar Lo habis-habisan kalau Lo sampai nyakitin adik gue lagi, apa Lo tau bokap gue siapa?'' El dengan penuh penyesalan.
''Gue, tau siapa bokap Lo, dan gue juga gak takut dengan ancaman Lo, karena gue cinta sama adik Lo, gue gak akan nyakitin dia ataupun ninggalin dia,'' jawab Briel yang juga penuh dengan penekanan.
''Kalau saja adik gue gak ngemis pertanggungjawaban dari Lo, gue gak Sudi punya adik ipar kaya Lo, adik gue cantik dan keluarga kami kaya raya, dia bisa saja mendapatkan pria yang lebih baik dan jelas asal-usulnya, gak kayak Lo, pengangguran dan gak jelas asal-usul keluarga Lo,'' Axel memandang penuh kebencian.
''Axel, gue bukan pengangguran, dan Lo akan terkejut kalau tau apa pekerjaan gue yang sebenernya, gue emang yatim piatu, dan gue juga gak punya harta yang melimpah seperti yang keluarga Lo punya, tapi gue punya cinta dan rasa tanggung jawab yang besar, gue bisa saja ninggalin adik Lo, dan pacaran dengan cewek lain, tapi gue gak lakuin itu, karena apa? karena gue cinta sama adik Lo, dan cinta gue tulus gak ada bandingannya,'' Briel kesal karena di remehkan.
Axel terdiam.
''Tapi gue tetap gak suka sama Lo, bagi gue, Lo tetep cowok brengsek yang udah menodai adik gue, kalau Lo cinta dan sayang sama dia, seharusnya Lo jaga dan lindungi dia, bukan malah menodai dan mengambil kehormatan wanita yang Lo cintai, gue benci sama Lo Gabriel ...''
Kali ini Briel yang terdiam, dia bahkan menunduk dan menyadari bahwa apa yang di katakan saudara kembar dari pacarnya itu adalah benar, apalagi tadi malam dia baru saja melakukan perbuatan terlarang itu lagi, membuat hati seorang Gabriel merasa bersalah seketika.
''Iya, gue ngaku salah, dan gue janji akan bertanggung jawab, dan menikahi dia, meski bukan sekarang karena dia masih sekolah, tapi gue janji demi hidup dan mati gue, gue gak akan pernah meninggalkan dia,'' Briel dengan bersungguh-sungguh.
''Apa yang kalian bicarakan? apa maksudnya dengan bertanggung jawab? tanggung jawab sama siapa?'' Adelia masuk kedalam ruangan.
___________--------------____________
__ADS_1