Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Pernikahan Sederhana


__ADS_3

''Papi ngerti 'kan apa yang aku katakan?'' tanya Al menatap lekat wajah sang ayah.


''Iya, Papi ngerti sayang, tapi apa tidak terlalu cepat? apa sebaiknya kita menunggu dia sampai benar-benar sembuh dulu, Papi akan siapkan pesta besar-besaran buat kamu.''


''Nggak, Pap. Aku gak mau pesta besar-besaran segala, apa Papi gak malu? aku ini masih remaja, lho. Kalau Papi mengundang banyak orang, mereka pasti bertanya-tanya, kenapa masih sekolah sudah menikah?'' ucap Al seraya menunduk.


Semua yang ada di sana pun terdiam, keheningan pun seketika tercipta.


''Baiklah, nanti Papi bicarakan hal ini dengan Mommy kamu, kamu tenang dulu, ya. Papi pasti akan nikahkan kamu dengan dia, dan dia gak akan berani melarikan diri apalagi kabur, jadi kamu gak usah khawatir ataupun ketakutan, oke ...'' ujar Leo dengan sedikit tersenyum.


Al pun mengangguk dengan tersenyum lebar.


''Ryan, minta beberapa orang datang ke sini untuk menjaga kamar ini, aku tidak mau kalau sampai kejadian seperti tadi terulang lagi,'' ucap Leo mengalihkan pandangannya ke arah Ryan.


''Baik, bos. Saya akan segera menelpon mereka,'' jawab Ryan lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


''Apa kamu tidak lelah sedari tadi berdiri terus seperti itu?'' tanya Leo menatap wajah sang putri.


''Al, duduklah, kamu harus menjaga bayi kita, kakimu pasti lelah berdiri terus seperti itu?'' pinta Briel.


Tanpa basa-basi Al pun segera duduk, karena sebenarnya kakinya sudah merasa lelah terus berdiri sedari tadi.


''Papi mau mengatakan sesuatu dengan dia, kamu cukup mendengarkan saja dan jangan banyak bertanya, Papi suruh keluar kamu gak mau, 'kan?''


Al mengangguk, dan berbaring di atas kursi.


''Gabriel, aku yakin Revan sudah tahu kalau kamu masih hidup, dan orang yang mengirim Dokter gadungan tadi adalah anak buahnya,'' ucap Leo langsung ke intinya.


''Iya, Om. Aku juga berfikir seperti begitu. Itu artinya, nyawaku sedang dalam bahaya sekarang.''


''Kamu tidak usah takut, karena aku sudah memerintahkan beberapa anak buah'ku untuk menjaga tempat ini dengan ketat, dan aku juga sedang mempersiapkan seluruh anak buah'ku untuk segera memberantas si Revan itu,'' ucap Leo, membuat Al membulatkan bola matanya seketika.


''Pap, maksud Papi a-?'' Al hendak bertanya, namun, ucapannya terhenti karena Leo kemudian menyela.

__ADS_1


''Papi sudah bilang, jangan banyak bertanya, cukup dengarkan saja, oke ...?''


''Tapi, Pap ...? apa yang kalian bicarakan?''


''Kalau kamu bertanya lagi, Papi akan benar-benar menyuruh kamu keluar.''


''Ya udah, iya. Aku akan diam seperti obat nyamuk,'' jawab Al mengerucutkan bibirnya.


''Om, boleh aku ikut un-?''


''Tidak, Om sudah bilang, kamu tidak boleh ikut, kalau sampai kamu terluka gimana? Om gak mau kalau putri Om sampai sedih lagi, sudah cukup air mata yang dia keluarkan gara-gara kamu, ya ...'' Leo dengan penuh penekanan.


''Baiklah kalau begitu, Om,'' jawab Briel dengan suara pelan.


🌹🌹


Tiga hari kemudian.


Kini seluruh keluarganya Leo sudah berkumpul di kamar Gabriel, mereka berada di sana untuk membicarakan perihal pernikahan yang akan diadakan dalam waktu beberapa hari lagi.


''Beneran, Pap ...?'' Al tersenyum begitu lebar, merasa senang.


''Iya, Al. Nenekmu juga sudah Mommy telpon, dan sekarang dia sedang dijemput oleh Om Ryan.''


''Berarti Nenek juga akan menyaksikan pernikahan aku?''


''Tentu saja, mana mungkin Nenek kamu tidak diberi tahu, dia pasti akan kecewa berat kalau sampai dia tahu cucu kesayangannya menikah tanpa memberi kabar.''


''Tapi, Om. Aku masih berbaring di sini, gimana caranya aku bisa membeli mas kawin dan mempersiapkan semua kebutuhan yang diperlukan?'' tanya Briel merasa menyesal.


''Kamu tidak usah mengkhawatirkan masalah itu, semuanya sudah diatur, Axel akan membantu kamu membeli persiapan pernikahan, termasuk membeli mas kawin dan lain sebagainya.''


''Iya, Briel. Aku yang akan membelikan semuanya, kamu tenang saja di sini, istirahat dan cepat pulih, oke ...?'' jawab Axel.

__ADS_1


''Baiklah, aku sungguh berterima kasih, kepada Om, Tante dan kalian semua, karena masih mau menerima aku menjadi menantu kalian, setelah semua kesalahan yang aku perbuat, aku sungguh terharu,'' ucap Briel menahan rasa haru dia hatinya.


''Terpaksa, aku terpaksa menerima kamu menjadi menantu aku, kalau saja putriku tidak hamil, mungkin dia masih sekolah dan bisa meraih cita-cita yang dia impikan,'' ucap Adelia dengan sedikit kesal.


''Mom, kenapa Mommy bicara seperti itu?'' tanya Al menatap wajah sang ibu.


Leo segera mengusap punggung istrinya, memintanya untuk bersikap tenang, dia mengerti betul bagaimana perasaan sang istri yang harus menerima kenyataan bahwa putri kesayangannya harus menikah diusia yang masih muda karena hamil di luar nikah, setiap ibu pasti akan mereka kecewa.


Sementara itu, Axel segera meraih pergelangan tangan Al lalu mengusap punggungnya, seolah memintanya untuk berhenti berbicara.


''Maaf, Mom. Aku gak bermaksud untuk membuat Mommy kecewa, doakan saja semoga pernikahan aku lancar dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah ...'' ucap Al, dia pun berjalan menghampiri sang ibu, lalu memeluknya dengan begitu erat, dengan mata mulai berkaca-kaca.


''Iya, sayang. Mommy selalu mendoakan kamu, mungkin memang sudah takdirnya harus seperti ini, kita tidak bisa melawan apa yang sudah digariskan oleh Tuhan,'' jawab Adelia mengusap punggung putri kesayangannya.


🌹🌹


Akhirnya, hari itu pun tiba, hari dimana pernikahan Al akan diadakan, di kamar VVIP tempat Briel di rawat, keadaan Gabriel pun sudah semakin membaik, dia sudah bisa duduk meski baru itu yang bisa dia lakukan, sementara berdiri dan berjalan dia masih merasa kesulitan.


Pagi ini, jam 09.00. Semua sudah berkumpul, termasuk Alex dan juga sang putri. Ibu Sarah yang merupakan ibunda dari Adelia pun sudah ada di sana, meski di usianya yang sudah senja, beliau tidak ingin melewatkan acara pernikahan sang cucu.


Ryan beserta sang istri Angelina pun ada di sana, keduanya akan menjadi Saksi pernikahan sakral, putri dari bosnya tersebut.


Axela nampak begitu cantik, dengan memakai kebaya pengantin adat Sunda, begitupun dengan Gabriel yang memakai baju yang sama, meski hanya seadaanya.


Ruangan VVIP itu pun sengaja di hias dengan berbagai pernak-pernik pernikahan, karena meskipun acara dibuat sederhana, namun, Leo ingin pernikahan sang putri terasa berkesan, dan sama seperti pernikahan pada umumnya.


Kini, Leo sudah bersiap menikahnya putrinya, dia duduk berhadapan dengan calon menantunya dan tentu saja dengan penghulu yang duduk tepat di samping dirinya.


Sementara itu, sepasang pengantin duduk tepat dihadapan Leo dengan meja berada di tengah-tengah mereka.


Gabriel menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan, siap untuk mengucapkan ijab kabul.


_____________-------------____________

__ADS_1


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2